alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Menembus Hutan, Mendaki Jambangan

KOTABARU- Pukul 11.00 Wita tim pendaki dari Kotabaru dan Tanah Bumbu berangkat dari rumah salah satu warga di Pulau Laut, Kotabaru. Mereka punya agenda memetakan titik lintasan untuk pendakian ke kawasan hutan lindung Gunung Jambangan Kotabaru.

Pemetaan jalur pendakian ini dilaksanakan 2-3 Januari 2021 lalu. Tak mudah, perjalanan cukup panjang. Saat mulai berjalan menuju lereng gunung, mereka harus melewati perkebunan karet, ladang yang ditanami sayuran serta tanaman cengkeh.

Perjalanan mendaki mulai sulit. Mereka harus melewati hutan dan semak belukar serta batang ranting pohon liar. Namun mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Karena sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Favehotel Banjarmasin

“Kita harus melewati pohon-pohon besar. Tapi dengan adanya pohon besar memudahkan kami untuk membuat tanda,” kata Zayid Musiafa salah satu anggota tim pendaki.

Saat memasuki hutan, lanjut Zayid, suasananya masih sangat asri. Vegetasi hutan tropis seperti rotan masih dapat ditemui di sana, suara kawanan monyet liar juga terdengar dari kejauhan, terlihat burung dengan paruh besar bertengger di atas pohon.

“Kepakan sayap burung terdengar hampir mirip dengan suara propeller drone,” ceritanya.

Perjalanan yang panjang. Kedua tim sampai di puncak Gunung Jambangan sekira pukul 16.40 Wita. Dari puncak gunung yang memiliki ketinggian 417 meter. Lelah, namun sekejap hilang saat Zayid dan kolega disuguhkan pemandangan sore yang menakjubkan di puncak.

“Saya bersyukur dapat menikmati matahari sore hari di puncak. Dari celah rimbunan pohon masih dapat melihat view laut, perkebunan perusahaan, perkebunan warga, hamparan sawah dan tambak.,” kisahnya.

Ia pun berharap, kawasan hutan lindung ini bisa dijadikan destinasi wisata dan agrowisata untuk kemakmuran warga sekitar lereng gunung. “Bisa disediakan wahana semacam menara pandang di semua sisi puncak atau misal berkonsep rumah pohon,” katanya.

Puas melihat pemandangan dari puncak. Kedua tim langsung mendirikan tenda. Mereka mulai mempersiapkan bahan untuk santap malam. Tak lupa mereka juga membuat tungku api untuk menghangatkan diri. Malam berlalu, keesokan harinya mereka memutuskan turun dan kembali ke titik awal. Tentu dengan melewati jalur yang sudah mereka buat. (mal/ema)

KOTABARU- Pukul 11.00 Wita tim pendaki dari Kotabaru dan Tanah Bumbu berangkat dari rumah salah satu warga di Pulau Laut, Kotabaru. Mereka punya agenda memetakan titik lintasan untuk pendakian ke kawasan hutan lindung Gunung Jambangan Kotabaru.

Pemetaan jalur pendakian ini dilaksanakan 2-3 Januari 2021 lalu. Tak mudah, perjalanan cukup panjang. Saat mulai berjalan menuju lereng gunung, mereka harus melewati perkebunan karet, ladang yang ditanami sayuran serta tanaman cengkeh.

Perjalanan mendaki mulai sulit. Mereka harus melewati hutan dan semak belukar serta batang ranting pohon liar. Namun mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Karena sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Favehotel Banjarmasin

“Kita harus melewati pohon-pohon besar. Tapi dengan adanya pohon besar memudahkan kami untuk membuat tanda,” kata Zayid Musiafa salah satu anggota tim pendaki.

Saat memasuki hutan, lanjut Zayid, suasananya masih sangat asri. Vegetasi hutan tropis seperti rotan masih dapat ditemui di sana, suara kawanan monyet liar juga terdengar dari kejauhan, terlihat burung dengan paruh besar bertengger di atas pohon.

“Kepakan sayap burung terdengar hampir mirip dengan suara propeller drone,” ceritanya.

Perjalanan yang panjang. Kedua tim sampai di puncak Gunung Jambangan sekira pukul 16.40 Wita. Dari puncak gunung yang memiliki ketinggian 417 meter. Lelah, namun sekejap hilang saat Zayid dan kolega disuguhkan pemandangan sore yang menakjubkan di puncak.

“Saya bersyukur dapat menikmati matahari sore hari di puncak. Dari celah rimbunan pohon masih dapat melihat view laut, perkebunan perusahaan, perkebunan warga, hamparan sawah dan tambak.,” kisahnya.

Ia pun berharap, kawasan hutan lindung ini bisa dijadikan destinasi wisata dan agrowisata untuk kemakmuran warga sekitar lereng gunung. “Bisa disediakan wahana semacam menara pandang di semua sisi puncak atau misal berkonsep rumah pohon,” katanya.

Puas melihat pemandangan dari puncak. Kedua tim langsung mendirikan tenda. Mereka mulai mempersiapkan bahan untuk santap malam. Tak lupa mereka juga membuat tungku api untuk menghangatkan diri. Malam berlalu, keesokan harinya mereka memutuskan turun dan kembali ke titik awal. Tentu dengan melewati jalur yang sudah mereka buat. (mal/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/