alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Zona Merah Muncul dan Hilang, Sekolah Jadi "Kelinci Percobaan"

BANJARMASIN – Menjelang pembukaan sekolah, Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi punya dua kabar. Kabar baik dan buruk sekaligus.

Kelurahan Pemurus Dalam dan Pelambuan yang berada di zona merah, kini berubah status menjadi zona kuning.

Bukan berarti sudah aman. Kini giliran Pekauman yang memerah. Sebelumnya, kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Selatan itu berada di zona kuning.

“Ini hasil evaluasi kemarin sama puskesmas,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Banjarmasin tersebut.

Sebelumnya, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menegaskan, sebelum pembukaan SMP negeri pada 11 Januari mendatang, para guru akan menjalani tes swab.

Sasaran utamanya adalah guru-guru yang rentan karena berusia tua dan menyimpan riwayat penyakit penyerta (komorbid).

“Memastikan saja, apakah si guru memungkinkan untuk mengajar atau tidak. Soal biaya swab, nanti ditanggung pemko,” kata Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina di Balai Kota, Selasa (29/12).

Ketua Satgas COVID-19 Banjarmasin itu menjamin, begitu ditemukan penularan di sekolah, pembelajaran tatap muka akan dihentikan.

Diwartakan sebelumnya, pemko berani membuka sekolah dengan berbekal SKB (surat keputusan bersama) empat menteri. Sebelumnya, November lalu, telah digelar simulasi di empat sekolah.

Selain kewajiban memakai masker, thermo gun dan penyediaan tempat cuci tangan, siswa dan guru juga harus menjaga jarak selama berada di lingkungan sekolah.

Setelah SMPN, pada 18 Januari, giliran SDN yang menjalani simulasi. Tapi pembukaan sekolah dasar hanya untuk kelas IV, V dan VI.

Sekolah Jadi “Kelinci Percobaan”

TAK semua menyambut pembukaan SMPN di Banjarmasin dengan antusias. Ada pula yang khawatir.

Dosen pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Reja Fahlevi menilai menilai pemko telah mengambil langkah yang sangat berisiko.

Reja bertanya-tanya, siapa yang bertanggungjawab jika penularan COVID-19 merebak di sekolah?

Dia bahkan mengibaratkan, guru dan siswa dijadikan “kelinci percobaan” dan sekolah sebagai “laboratoriumnya”.

Dia yakin, sebenarnya ada saja kepala sekolah yang menolak rencana ini, tapi tak kuasa menolak keputusan pemko.

“Sebab, kasus positif terus saja naik. Jadi sungguh tak adil bila beban itu ditujukan pada sekolah,” ujarnya.

Reja menyarankan langkah yang lebih aman. Pemko menyediakan paket data internet untuk siswa. Agar mereka bisa belajar daring di rumah tanpa menambah pengeluaran orang tua.

Lalu, merancang aplikasi yang memudahkan proses belajar daring. “Apalagi varian virus ini semakin ganas dan beragam,” tegasnya.

Maka, ia merasa heran, ketika Dinas Pendidikan Banjarmasin menyurvei, mayoritas orang tua atau wali murid setuju dengan pembukaan sekolah.

“Jangan sembarangan setuju. Apalagi kalau alasannya cuma karena tak ada yang menjaga anak di rumah saat ditinggal bekerja,” sesal Reja. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Menjelang pembukaan sekolah, Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi punya dua kabar. Kabar baik dan buruk sekaligus.

Kelurahan Pemurus Dalam dan Pelambuan yang berada di zona merah, kini berubah status menjadi zona kuning.

Bukan berarti sudah aman. Kini giliran Pekauman yang memerah. Sebelumnya, kelurahan di Kecamatan Banjarmasin Selatan itu berada di zona kuning.

“Ini hasil evaluasi kemarin sama puskesmas,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Banjarmasin tersebut.

Sebelumnya, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menegaskan, sebelum pembukaan SMP negeri pada 11 Januari mendatang, para guru akan menjalani tes swab.

Sasaran utamanya adalah guru-guru yang rentan karena berusia tua dan menyimpan riwayat penyakit penyerta (komorbid).

“Memastikan saja, apakah si guru memungkinkan untuk mengajar atau tidak. Soal biaya swab, nanti ditanggung pemko,” kata Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina di Balai Kota, Selasa (29/12).

Ketua Satgas COVID-19 Banjarmasin itu menjamin, begitu ditemukan penularan di sekolah, pembelajaran tatap muka akan dihentikan.

Diwartakan sebelumnya, pemko berani membuka sekolah dengan berbekal SKB (surat keputusan bersama) empat menteri. Sebelumnya, November lalu, telah digelar simulasi di empat sekolah.

Selain kewajiban memakai masker, thermo gun dan penyediaan tempat cuci tangan, siswa dan guru juga harus menjaga jarak selama berada di lingkungan sekolah.

Setelah SMPN, pada 18 Januari, giliran SDN yang menjalani simulasi. Tapi pembukaan sekolah dasar hanya untuk kelas IV, V dan VI.

Sekolah Jadi “Kelinci Percobaan”

TAK semua menyambut pembukaan SMPN di Banjarmasin dengan antusias. Ada pula yang khawatir.

Dosen pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Reja Fahlevi menilai menilai pemko telah mengambil langkah yang sangat berisiko.

Reja bertanya-tanya, siapa yang bertanggungjawab jika penularan COVID-19 merebak di sekolah?

Dia bahkan mengibaratkan, guru dan siswa dijadikan “kelinci percobaan” dan sekolah sebagai “laboratoriumnya”.

Dia yakin, sebenarnya ada saja kepala sekolah yang menolak rencana ini, tapi tak kuasa menolak keputusan pemko.

“Sebab, kasus positif terus saja naik. Jadi sungguh tak adil bila beban itu ditujukan pada sekolah,” ujarnya.

Reja menyarankan langkah yang lebih aman. Pemko menyediakan paket data internet untuk siswa. Agar mereka bisa belajar daring di rumah tanpa menambah pengeluaran orang tua.

Lalu, merancang aplikasi yang memudahkan proses belajar daring. “Apalagi varian virus ini semakin ganas dan beragam,” tegasnya.

Maka, ia merasa heran, ketika Dinas Pendidikan Banjarmasin menyurvei, mayoritas orang tua atau wali murid setuju dengan pembukaan sekolah.

“Jangan sembarangan setuju. Apalagi kalau alasannya cuma karena tak ada yang menjaga anak di rumah saat ditinggal bekerja,” sesal Reja. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/