alexametrics
23.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

Pengaspalan, Stick Cone Dicabut Sementara

BANJARMASIN – Stick cone yang menghiasi jalur sepeda di Jalan Ahmad Yani menghilang. Bukan dicuri orang, melainkan sengaja dicabut karena sedang ada pengaspalan jalan.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas di Dinas Perhubungan Banjarmasin, Fepbry Ghara Utama mengatakan, saat ini Balai Jalan sedang hendak meningkatkan kualitas jalan protokol tersebut.

“Nanti dipasang lagi. Dilepas sementara saja,” ujapnya kemarin (27/12) melalui sambungan telepon.

Tiang-tiang oranye nan lentur itu dipasang dari kilometer dua sampai enam. Baik di lajur keluar maupun masuk kota.

Tujuannya untuk melindungi pegowes dari senggolan kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Bagaimana pun, pesepeda juga pengguna jalan. Jadi hak-haknya juga harus dihormati oleh pengendara,” tambahnya.

Namun, ada pula yang meminta agar pelepasan itu permanen. Contoh Iskandar, warga Jalan Kuripan, yang sehari-harinya menjajakan kue dengan bersepeda.

Dia kerap melihat pesepeda motor terjatuh ketika coba menghindari stick cone. “Lebih baik dilepas saja. Atau, diperlebar dulu jalannya, baru dipasang lagi,” ujarnya.

Senada dengan warga lainnya Abdul Jabar. “Saya melihat sepeda belum menjadi kebutuhan. Cuma musim-musiman, tren saja,” ujarnya.

Menurutnya, lebih baik pemerintah fokus pada perbaikan jalan saja. “Contoh meratakan gundukan penutup drainase di jalan. Itu mesti jadi perhatian karena membahayakan,” tambah warga Kompleks Dharma Praja itu.

Meski disebut jalur khusus sepeda, sayangnya, jalur ini kerap menjadi area parkir. Entah becak atau mobil.

Pengadaan stick cone itu berasal dari APBD 2020, nilai anggarannya Rp140 juta. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Stick cone yang menghiasi jalur sepeda di Jalan Ahmad Yani menghilang. Bukan dicuri orang, melainkan sengaja dicabut karena sedang ada pengaspalan jalan.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Seksi Manajemen Rekayasa Lalu Lintas di Dinas Perhubungan Banjarmasin, Fepbry Ghara Utama mengatakan, saat ini Balai Jalan sedang hendak meningkatkan kualitas jalan protokol tersebut.

“Nanti dipasang lagi. Dilepas sementara saja,” ujapnya kemarin (27/12) melalui sambungan telepon.

Tiang-tiang oranye nan lentur itu dipasang dari kilometer dua sampai enam. Baik di lajur keluar maupun masuk kota.

Tujuannya untuk melindungi pegowes dari senggolan kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Bagaimana pun, pesepeda juga pengguna jalan. Jadi hak-haknya juga harus dihormati oleh pengendara,” tambahnya.

Namun, ada pula yang meminta agar pelepasan itu permanen. Contoh Iskandar, warga Jalan Kuripan, yang sehari-harinya menjajakan kue dengan bersepeda.

Dia kerap melihat pesepeda motor terjatuh ketika coba menghindari stick cone. “Lebih baik dilepas saja. Atau, diperlebar dulu jalannya, baru dipasang lagi,” ujarnya.

Senada dengan warga lainnya Abdul Jabar. “Saya melihat sepeda belum menjadi kebutuhan. Cuma musim-musiman, tren saja,” ujarnya.

Menurutnya, lebih baik pemerintah fokus pada perbaikan jalan saja. “Contoh meratakan gundukan penutup drainase di jalan. Itu mesti jadi perhatian karena membahayakan,” tambah warga Kompleks Dharma Praja itu.

Meski disebut jalur khusus sepeda, sayangnya, jalur ini kerap menjadi area parkir. Entah becak atau mobil.

Pengadaan stick cone itu berasal dari APBD 2020, nilai anggarannya Rp140 juta. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/