alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Cerita Denwatser Banser di Malam Natal: Tak Cukup dengan Kata-Kata

Tak mudah bagi ketiga muslimah ini membantu pengamanan gereja. Suami dan orang tua coba mencegah. Belum lagi cibiran dari mulut kawan atau tetangga.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

MISA Natal di Gereja Katedral Keluarga Kudus memasuki sesi kedua. Jemaat yang datang sudah tak sebanyak sesi pertama.

Mencegah munculnya kerumunan, perayaan malam Natal di gereja di Jalan Lambung Mangkurat itu, Kamis (24/12), ibadah dibagi menjadi dua sesi.

Maklum, pandemi belum berlalu. Jemaat dibatas, yang masuk hanya pemegang kupon yang sudah dibagikan pengelola gereja sejak jauh-jauh hari.

Di halaman gereja, beberapa meter dari bilik disinfektan, ada tiga perempuan berkerudung. Ketiganya mengenakan jaket loreng-loreng.

Mereka anggota Detasemen Wanita Serbaguna (Denwatser) Banser Banjarmasin. Mereka adalah Ina, Zulfa dan Nor Halimah.

Ketiganya membaur bersama polisi, membantu pengamanan di gereja tua tersebut.

Dari balik maskernya, mata Halimah terus mengawasi jemaat yang hilir mudik.

Sesekali, perempuan 22 tahun itu membantu jemaat yang ingin berfoto seusai mengikuti misa. Jepret-jepret!

Ketiganya tampak bersemangat. Tampak riang sekali. Tapi di balik itu, ternyata ada kegetiran yang disimpan.

Contoh Ina. Sebelum berjaga, perempuan 21 tahun itu harus berulang kali meyakinkan sang suami. Agar diizinkan berjaga di gereja.

“Sempat diprotes. Katanya, mengapa harus di gereja? Tapi, setelah berdiskusi panjang, akhirnya suami bisa memaklumi,” tuturnya.

Izin itu disertai syarat. Paling jauh, ia hanya boleh berada di depan pintu gereja. Jangan sampai masuk.

“Itu pesan suami,” tambahnya. Ina sudah tiga tahun terakhir aktif di Denwatser.

Hal serupa juga dialami Zulfa. Bedanya, komplain datang dari orang tuanya. Pertanyaan yang dilontarkan pun sama. Mengapa harus di gereja, bukan di tempat lain. “Tapi setelah dijelaskan, akhirnya diizinkan,” tambahnya.

Meski izin sudah didapat, mereka masih khawatir. Dicibir kawan atau tetangga. Mendapat stigma negatif.

“Mungkin, sebagian orang masih sulit menerima apabila ada seorang pemeluk Islam memasuki gereja,” ungkap Halimah.

Ketiganya saling menguatkan. Bahwa inilah toleransi beragama. Dan toleransi tak cukup hanya dengan kata-kata. Harus lewat perbuatan.

Mendekati pukul 22.00 Wita, ketiganya beranjak pergi. Tuntas sudah tugas mereka. Pulang dengan wajah puas.

“Baru kali ini bertugas di gereja. Ini pengalaman baru,” tutup ketiganya kompak.

 

Khidmat dalam Pembatasan

 

PERAYAAN Natal tahun ini memang berbeda. Apalagi kalau bukan gara-gara pagebluk corona.

 

Tapi tak lantas mengurangi kekhidmatan perayaan di Gereja Katedral Keluarga Kudus.

 

Seorang jemaat, Hendrikus menyatakan, suka cita natal masih terasa. “Dengan segala pembatasan-pembatasannya,” ujarnya, kemarin (25/12) pagi.

 

“Kami sebagai umat Katolik akan menaati pemerintah dalam menerapkan protokol,” tambahnya.

 

Dari ceramah pastor, ia mengutip tentang perdamaian antar sesama manusia. “Semua harus saling mendukung. Terlebih di masa sulit seperti ini. Antar umat beragama harus saling membantu,” pesannya.

 

Senada dengan Wakil Ketua II DPP Paroki Katedral Keluarga Kudus, Andrian Darmawan. Pandemi memang telah merenggut kehidupan normal. Tapi bukan berarti iman berhenti dipupuk.

 

“Jangan sampai ketika tempat ibadah sudah dibuka, umat malah enggan ke tempat ibadah,” tukasnya.

 

Selama perayaan Natal kemarin, jemaat berdoa agar pandemi lekas berlalu. Dan yang tertular lekas sembuh.

 

Kemarin, paroki membuat kebijakan, hanya ada ibadah pagi, tak ada ibadah sore. “Kami juga meminta jemaat tidak open house sepulang dari gereja. Menghindari penularan corona,” tegasnya. (war/fud/ema)

Tak mudah bagi ketiga muslimah ini membantu pengamanan gereja. Suami dan orang tua coba mencegah. Belum lagi cibiran dari mulut kawan atau tetangga.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

MISA Natal di Gereja Katedral Keluarga Kudus memasuki sesi kedua. Jemaat yang datang sudah tak sebanyak sesi pertama.

Mencegah munculnya kerumunan, perayaan malam Natal di gereja di Jalan Lambung Mangkurat itu, Kamis (24/12), ibadah dibagi menjadi dua sesi.

Maklum, pandemi belum berlalu. Jemaat dibatas, yang masuk hanya pemegang kupon yang sudah dibagikan pengelola gereja sejak jauh-jauh hari.

Di halaman gereja, beberapa meter dari bilik disinfektan, ada tiga perempuan berkerudung. Ketiganya mengenakan jaket loreng-loreng.

Mereka anggota Detasemen Wanita Serbaguna (Denwatser) Banser Banjarmasin. Mereka adalah Ina, Zulfa dan Nor Halimah.

Ketiganya membaur bersama polisi, membantu pengamanan di gereja tua tersebut.

Dari balik maskernya, mata Halimah terus mengawasi jemaat yang hilir mudik.

Sesekali, perempuan 22 tahun itu membantu jemaat yang ingin berfoto seusai mengikuti misa. Jepret-jepret!

Ketiganya tampak bersemangat. Tampak riang sekali. Tapi di balik itu, ternyata ada kegetiran yang disimpan.

Contoh Ina. Sebelum berjaga, perempuan 21 tahun itu harus berulang kali meyakinkan sang suami. Agar diizinkan berjaga di gereja.

“Sempat diprotes. Katanya, mengapa harus di gereja? Tapi, setelah berdiskusi panjang, akhirnya suami bisa memaklumi,” tuturnya.

Izin itu disertai syarat. Paling jauh, ia hanya boleh berada di depan pintu gereja. Jangan sampai masuk.

“Itu pesan suami,” tambahnya. Ina sudah tiga tahun terakhir aktif di Denwatser.

Hal serupa juga dialami Zulfa. Bedanya, komplain datang dari orang tuanya. Pertanyaan yang dilontarkan pun sama. Mengapa harus di gereja, bukan di tempat lain. “Tapi setelah dijelaskan, akhirnya diizinkan,” tambahnya.

Meski izin sudah didapat, mereka masih khawatir. Dicibir kawan atau tetangga. Mendapat stigma negatif.

“Mungkin, sebagian orang masih sulit menerima apabila ada seorang pemeluk Islam memasuki gereja,” ungkap Halimah.

Ketiganya saling menguatkan. Bahwa inilah toleransi beragama. Dan toleransi tak cukup hanya dengan kata-kata. Harus lewat perbuatan.

Mendekati pukul 22.00 Wita, ketiganya beranjak pergi. Tuntas sudah tugas mereka. Pulang dengan wajah puas.

“Baru kali ini bertugas di gereja. Ini pengalaman baru,” tutup ketiganya kompak.

 

Khidmat dalam Pembatasan

 

PERAYAAN Natal tahun ini memang berbeda. Apalagi kalau bukan gara-gara pagebluk corona.

 

Tapi tak lantas mengurangi kekhidmatan perayaan di Gereja Katedral Keluarga Kudus.

 

Seorang jemaat, Hendrikus menyatakan, suka cita natal masih terasa. “Dengan segala pembatasan-pembatasannya,” ujarnya, kemarin (25/12) pagi.

 

“Kami sebagai umat Katolik akan menaati pemerintah dalam menerapkan protokol,” tambahnya.

 

Dari ceramah pastor, ia mengutip tentang perdamaian antar sesama manusia. “Semua harus saling mendukung. Terlebih di masa sulit seperti ini. Antar umat beragama harus saling membantu,” pesannya.

 

Senada dengan Wakil Ketua II DPP Paroki Katedral Keluarga Kudus, Andrian Darmawan. Pandemi memang telah merenggut kehidupan normal. Tapi bukan berarti iman berhenti dipupuk.

 

“Jangan sampai ketika tempat ibadah sudah dibuka, umat malah enggan ke tempat ibadah,” tukasnya.

 

Selama perayaan Natal kemarin, jemaat berdoa agar pandemi lekas berlalu. Dan yang tertular lekas sembuh.

 

Kemarin, paroki membuat kebijakan, hanya ada ibadah pagi, tak ada ibadah sore. “Kami juga meminta jemaat tidak open house sepulang dari gereja. Menghindari penularan corona,” tegasnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/