alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

Cukup Lewat Gawai, Sudah Bisa Keliling Museum

BANJARMASIN – Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) di Sungai Jingah kini bisa dikunjungi secara virtual. Artinya, bisa dikunjungi lewat komputer atau gawai.

Tur virtual itu inovasi tim dosen Universitas Islam Kalimantan (Uniska) yang digawangi Zayid Musiafa, Budi Ramadhani dan Hendrik Noor.

Digarap sejak Februari lalu, tur virtual itu bisa diakses secara gratis di laman zayidmusiafa.com.

Tur ini menampilkan panorama 360 derajat. Komplet dengan video, foto dan suara dari museum di tepian Sungai Martapura tersebut.

“Siapa pun dan di mana pun, bisa jalan-jalan di Museum Wasaka. Mengeksplor lingkungan museum, mengenali ragam koleksi museum,” kata Zayid.

“Pengalaman yang mendekati nyata. Apalagi kalau menggunakan kacamata VR,” tambahnya.

Dia berharap, tur virtual Museum Wasaka ini bisa membantu pelajar dan mahasiswa yang ingin mempelajari sejarah dan budaya lokal. Atau bagi warga yang sekadar ingin berwisata.

Menurut Zayid, Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0, sebuah revolusi berbasis teknologi informasi. Dan fasilitas pendidikan seperti museum harus melihat peluang ini.

Kepada pengguna, dia berharap ada ulasan. Baik saran atau kritik. Agar tur virtual ini bisa terus dibenahi. “Harus terus berinovasi dan dikembangkan,” tutupnya. (jy/fud/ema)

BANJARMASIN – Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) di Sungai Jingah kini bisa dikunjungi secara virtual. Artinya, bisa dikunjungi lewat komputer atau gawai.

Tur virtual itu inovasi tim dosen Universitas Islam Kalimantan (Uniska) yang digawangi Zayid Musiafa, Budi Ramadhani dan Hendrik Noor.

Digarap sejak Februari lalu, tur virtual itu bisa diakses secara gratis di laman zayidmusiafa.com.

Tur ini menampilkan panorama 360 derajat. Komplet dengan video, foto dan suara dari museum di tepian Sungai Martapura tersebut.

“Siapa pun dan di mana pun, bisa jalan-jalan di Museum Wasaka. Mengeksplor lingkungan museum, mengenali ragam koleksi museum,” kata Zayid.

“Pengalaman yang mendekati nyata. Apalagi kalau menggunakan kacamata VR,” tambahnya.

Dia berharap, tur virtual Museum Wasaka ini bisa membantu pelajar dan mahasiswa yang ingin mempelajari sejarah dan budaya lokal. Atau bagi warga yang sekadar ingin berwisata.

Menurut Zayid, Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0, sebuah revolusi berbasis teknologi informasi. Dan fasilitas pendidikan seperti museum harus melihat peluang ini.

Kepada pengguna, dia berharap ada ulasan. Baik saran atau kritik. Agar tur virtual ini bisa terus dibenahi. “Harus terus berinovasi dan dikembangkan,” tutupnya. (jy/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/