alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 24 May 2022

Ibu Penggerak Literasi Pertama

Dalam bahasa Arab ada ungkapan “al ummu madrasatulula”, yang bermakna ibu adalah sekolah pertama. Ungkapan ini tidak berlebihan ketika kita melihat peran seorang ibu bagi anaknya, bahkan bagi calon bayi yang masih berada di dalam rahimnya.

=================
Oleh: Musdalipah
Peneliti KKLP Literasi di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
=================

Sejak dalam rahim, bayi sudah mendapat pendidikan dari ibu. Baik atau buruknya pendidikan tersebut bergantung pada ibu yang berperan sebagai pendidik. Pendidikan tidak hanya berbatas verbal atau tuturan lisan, tetapi juga sifat dan sikap. Artinya, semua hal yang diucapkan dan dilakukan ibu dapat disebut sebagai pendidikan bagi anaknya.

Untuk itulah, sejak mengandung ibu disarankan melakukan hal baik, seperti mengonsumsi makanan yang halal dan baik (bergizi) serta membaca kitab suci sambil mengelus perutnya, dengan harapan anak kelak akan memiliki fisik kuat dan jiwa sehat, sehingga dapat meneladaninya. Aktivitas membaca kitab suci pada dasarnya juga merupakan bagian dari praktik baik literasi sebab orang yang melakukannya diharapkan menjadi pribadi lebih baik. Selain itu, aktivitas ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi anak. Anak diharapkan mencontoh kebiasaan sang ibu ketika kelak sudah besar.

Setelah melahirkan, ibu mendidik dan mengasuh anak dimulai dengan memberi ASI hingga mengawasi perkembangan gerak motorik dan mengajarinya berbicara. Tidak sebatas itu, peran sebagai penggerak literasi pertama bagi anak ini berlaku sejak sebelum kita mengenal istilah literasi. Literasi secara umum dimaknai sebagai kemampuan menulis dan membaca. Namun, literasi pada anak usia dini atau pra sekolah dapat berupa pengenalan bahan bacaan (buku) bergambar.

Buku bergambar yang memang disediakan bagi anak usia dini memiliki gambar dan warna menarik dengan cerita sederhana tentang alam atau dunia anak lainnya. Misalnya, cerita tentang kupu-kupu, burung, ikan, kucing, anjing, bunga, pohon, sayuran bergizi, gunung, dan laut. Bahasa yang digunakan adalah diksi dan kalimat sederhana yang mudah dipahami anak.

Buku semacam itu tidak dimaksudkan untuk anak membaca sendiri, tetapi justru untuk orang dewasa yang membacakannya bagi anak. Hal ini sejalan dengan program literasi dari pemerintah, yaitu Gerbaku, Gerakan Membaca Buku. Gerbaku adalah gerakan masyarakat yang mengajak orang tua (ibu, ayah, nenek, kakek, dan orang dewasa lainnya) membacakan buku bagi anak-anaknya di rumah.

Gerakan ini mengingatkan kita terhadap aktivitas mendongeng yang kerap dilakukan orang tua ketika menidurkan anaknya pada zaman dahulu. Aktivitas yang sudah jarang dilakukan orang tua zaman sekarang sebab alasan sibuk dan lelah bekerja. Ada banyak manfaat dari aktivitas mendongeng dan membacakan buku bagi anak ini, terlebh di zaman sekarang. Di antaranya adalah menjalin kedekatan hubungan orang tua dan anak, menumbuhkan rasa empati dalam diri anak yang mendengar cerita dari buku atau kreativitas (dongeng karangan orang tua), lebih mudah menyampaikan nilai-nilai kehidupan sejak dini pada anak tanpa menggunakan bahasa yang menggurui,serta melatih anak berbicara dan berkomentar.

Berbagai manfaat ini dapat terus diingat dan dirasa anak hingga dewasa. Tanpa anak sadari, aktivitas ini dapat membentuk karakternya di masa mendatang. Umumnya, anak yang sering diajak melakukan aktivitas ini akan menjadi pribadi terbuka, demokratis, dan kritis. Aktivitas ini sebaiknya dapat dimulai ibu dengan cara; (1) menyiapkan bahan bacaan anak di rumah, (2) ibu membebaskan anak memilih bahan bacaan yang akan dibaca, dan (3) ibu membacakan buku dengan intonasi dan ekspresi sesuai alur yang ada di dalam buku, misalnya pura-pura menangis atau pura-pura galak.

Lalu; (4) ketika membaca, ibu sesekali memancing anak menebak alur cerita selanjutnya, misalnya “Sepertinya, monyet mau tidak ya memberikan pisang kepada kura-kura sahabatnya?”, (5) ibu mengajak anak mendiskusikan buku tersebut dengan cara mendengarkan komentar anak mengenai tema dan penokohan atau tema cerita tersebut. Misalnya, “Kita boleh atau tidak ya seperti monyet yang tidak mau berbagi pisang kepada kura-kura?” Jawaban anak masih dapat kita pancing dengan pertanyaan berkikutnya, misalnya, “Kok tidak boleh, memangnya kenapa?” dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

Selain memberikan pertanyaan pancingan bagi anak, ibu juga siap menjawab berbagai pertanyaan anak dengan jawaban yang masuk akal. Hal ini dapat menambah wawasan dan mengasah kecerdasan anak. Kebiasan mendongeng dan membacakan buku yang dilakukan setiap malam ini dapat membuat anak menyukai buku dan selalu ingin membaca buku lainnya lagi sesuai usianya hingga dewasa.

Seiring dengan perkembangan usia dan mental anak, tema buku bahan bacaan anak dapat diperluas untuk menambah wawasan anak. Misalnya, buku cerita para nabi dan sahabat, ilmu pengetahuan alam yang paling sederhana (alasan tumbuhan perlu air), dan kebersihan lingkungan (alasan tidak boleh membuang sampah di sungai).

Selain dapat menumbuhkan empati dan menambah pengetahuan anak, aktivitas ini dapat pula menghindarkan ketergantungan anak terhadap gawai (gadget) dan perangkat elektronik lainnya.

Berdasarkan beberapa penelitian ilmiah, kondisi sebagian anak saat ini kian memprihatinkan sebab anak usia balita sudah banyak yang memiliki ketergantungan terhadap gawai. Sebagian orang tua membiarkan ketergantungan ini dengan alasan agar anak tidak rewel dan tidak mengganggu pekerjaan orang tuanya. Mereka tidak menyadari bahwa pembiaran ini dapat berdampak buruk di kemudian hari.

Ada baiknya sesekali, ketika Sabtu, ibu mengajak anak mengunjungi perpustakaan daerah terdekat untuk meminjam buku yang disukai anak, atau setidaknya sekadar membaca di sana. Selain sebagai sarana edukasi, aktivitas ini dapat pula menjadi jalinan mesra antara ibu dan anak.

Berbagai aktivitas ini umumnya menjadi kenangan indah dalam memori anak hingga dewasa dan kian menumbuhkan rasa sayangnya pada sosok ibu. Selamat Hari Ibu ke-92 pada 22 Desember 2020 ini, semoga semua ikhtiar ibu dalam mendidik anak-anaknya selalu menjadi amal jariyah dan jalan menuju syurga-Nya. Semoga. (*/ema)

Dalam bahasa Arab ada ungkapan “al ummu madrasatulula”, yang bermakna ibu adalah sekolah pertama. Ungkapan ini tidak berlebihan ketika kita melihat peran seorang ibu bagi anaknya, bahkan bagi calon bayi yang masih berada di dalam rahimnya.

=================
Oleh: Musdalipah
Peneliti KKLP Literasi di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
=================

Sejak dalam rahim, bayi sudah mendapat pendidikan dari ibu. Baik atau buruknya pendidikan tersebut bergantung pada ibu yang berperan sebagai pendidik. Pendidikan tidak hanya berbatas verbal atau tuturan lisan, tetapi juga sifat dan sikap. Artinya, semua hal yang diucapkan dan dilakukan ibu dapat disebut sebagai pendidikan bagi anaknya.

Untuk itulah, sejak mengandung ibu disarankan melakukan hal baik, seperti mengonsumsi makanan yang halal dan baik (bergizi) serta membaca kitab suci sambil mengelus perutnya, dengan harapan anak kelak akan memiliki fisik kuat dan jiwa sehat, sehingga dapat meneladaninya. Aktivitas membaca kitab suci pada dasarnya juga merupakan bagian dari praktik baik literasi sebab orang yang melakukannya diharapkan menjadi pribadi lebih baik. Selain itu, aktivitas ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi anak. Anak diharapkan mencontoh kebiasaan sang ibu ketika kelak sudah besar.

Setelah melahirkan, ibu mendidik dan mengasuh anak dimulai dengan memberi ASI hingga mengawasi perkembangan gerak motorik dan mengajarinya berbicara. Tidak sebatas itu, peran sebagai penggerak literasi pertama bagi anak ini berlaku sejak sebelum kita mengenal istilah literasi. Literasi secara umum dimaknai sebagai kemampuan menulis dan membaca. Namun, literasi pada anak usia dini atau pra sekolah dapat berupa pengenalan bahan bacaan (buku) bergambar.

Buku bergambar yang memang disediakan bagi anak usia dini memiliki gambar dan warna menarik dengan cerita sederhana tentang alam atau dunia anak lainnya. Misalnya, cerita tentang kupu-kupu, burung, ikan, kucing, anjing, bunga, pohon, sayuran bergizi, gunung, dan laut. Bahasa yang digunakan adalah diksi dan kalimat sederhana yang mudah dipahami anak.

Buku semacam itu tidak dimaksudkan untuk anak membaca sendiri, tetapi justru untuk orang dewasa yang membacakannya bagi anak. Hal ini sejalan dengan program literasi dari pemerintah, yaitu Gerbaku, Gerakan Membaca Buku. Gerbaku adalah gerakan masyarakat yang mengajak orang tua (ibu, ayah, nenek, kakek, dan orang dewasa lainnya) membacakan buku bagi anak-anaknya di rumah.

Gerakan ini mengingatkan kita terhadap aktivitas mendongeng yang kerap dilakukan orang tua ketika menidurkan anaknya pada zaman dahulu. Aktivitas yang sudah jarang dilakukan orang tua zaman sekarang sebab alasan sibuk dan lelah bekerja. Ada banyak manfaat dari aktivitas mendongeng dan membacakan buku bagi anak ini, terlebh di zaman sekarang. Di antaranya adalah menjalin kedekatan hubungan orang tua dan anak, menumbuhkan rasa empati dalam diri anak yang mendengar cerita dari buku atau kreativitas (dongeng karangan orang tua), lebih mudah menyampaikan nilai-nilai kehidupan sejak dini pada anak tanpa menggunakan bahasa yang menggurui,serta melatih anak berbicara dan berkomentar.

Berbagai manfaat ini dapat terus diingat dan dirasa anak hingga dewasa. Tanpa anak sadari, aktivitas ini dapat membentuk karakternya di masa mendatang. Umumnya, anak yang sering diajak melakukan aktivitas ini akan menjadi pribadi terbuka, demokratis, dan kritis. Aktivitas ini sebaiknya dapat dimulai ibu dengan cara; (1) menyiapkan bahan bacaan anak di rumah, (2) ibu membebaskan anak memilih bahan bacaan yang akan dibaca, dan (3) ibu membacakan buku dengan intonasi dan ekspresi sesuai alur yang ada di dalam buku, misalnya pura-pura menangis atau pura-pura galak.

Lalu; (4) ketika membaca, ibu sesekali memancing anak menebak alur cerita selanjutnya, misalnya “Sepertinya, monyet mau tidak ya memberikan pisang kepada kura-kura sahabatnya?”, (5) ibu mengajak anak mendiskusikan buku tersebut dengan cara mendengarkan komentar anak mengenai tema dan penokohan atau tema cerita tersebut. Misalnya, “Kita boleh atau tidak ya seperti monyet yang tidak mau berbagi pisang kepada kura-kura?” Jawaban anak masih dapat kita pancing dengan pertanyaan berkikutnya, misalnya, “Kok tidak boleh, memangnya kenapa?” dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

Selain memberikan pertanyaan pancingan bagi anak, ibu juga siap menjawab berbagai pertanyaan anak dengan jawaban yang masuk akal. Hal ini dapat menambah wawasan dan mengasah kecerdasan anak. Kebiasan mendongeng dan membacakan buku yang dilakukan setiap malam ini dapat membuat anak menyukai buku dan selalu ingin membaca buku lainnya lagi sesuai usianya hingga dewasa.

Seiring dengan perkembangan usia dan mental anak, tema buku bahan bacaan anak dapat diperluas untuk menambah wawasan anak. Misalnya, buku cerita para nabi dan sahabat, ilmu pengetahuan alam yang paling sederhana (alasan tumbuhan perlu air), dan kebersihan lingkungan (alasan tidak boleh membuang sampah di sungai).

Selain dapat menumbuhkan empati dan menambah pengetahuan anak, aktivitas ini dapat pula menghindarkan ketergantungan anak terhadap gawai (gadget) dan perangkat elektronik lainnya.

Berdasarkan beberapa penelitian ilmiah, kondisi sebagian anak saat ini kian memprihatinkan sebab anak usia balita sudah banyak yang memiliki ketergantungan terhadap gawai. Sebagian orang tua membiarkan ketergantungan ini dengan alasan agar anak tidak rewel dan tidak mengganggu pekerjaan orang tuanya. Mereka tidak menyadari bahwa pembiaran ini dapat berdampak buruk di kemudian hari.

Ada baiknya sesekali, ketika Sabtu, ibu mengajak anak mengunjungi perpustakaan daerah terdekat untuk meminjam buku yang disukai anak, atau setidaknya sekadar membaca di sana. Selain sebagai sarana edukasi, aktivitas ini dapat pula menjadi jalinan mesra antara ibu dan anak.

Berbagai aktivitas ini umumnya menjadi kenangan indah dalam memori anak hingga dewasa dan kian menumbuhkan rasa sayangnya pada sosok ibu. Selamat Hari Ibu ke-92 pada 22 Desember 2020 ini, semoga semua ikhtiar ibu dalam mendidik anak-anaknya selalu menjadi amal jariyah dan jalan menuju syurga-Nya. Semoga. (*/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/