alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Friday, 20 May 2022

Hasil Observasi Ibu Pembunuh Dua Anaknya, Memang Mengidap Gangguan Jiwa

Misteri pembunuhan dua anak oleh ibu kandungnya di Hulu Sungai Tengah mulai terungkap. Setelah diobservasi 21 hari, pelaku Sutarti dinyatakan mengidap gangguan jiwa. Saat ini kondisinya masih tidak stabil dan dirawat inap di Poli Kejiwaan RS Kandangan.

—-

Dalam proses observasi kejiwaan, Sutarti masih sering meracau. Dari informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, Sutarti juga tidak mau meminum obat. Hanya diberikan infus. “Tapi tetap kita obati dan saat ini dijaga ketat oleh anggota kepolisian,” kata Kasat Reskrim polres HST, AKP Dany Sulistiono, Kamis (17/12) tadi.

Setelah hasil visum Sutarti keluar, status kasusnya kini naik ke tahap satu. Artinya Sutarti sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Pihak penyidik Polres HST juga sudah melengkapi berkas tahapan itu. Dalam waktu dekat berkas perkara bakal dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah.

“Pasal yang disangkakan tidak berubah. Tetap pasal 80 ayat 3 UU perlindungan anak. Untuk hukuman tunggu saja di persidangan, hakim yang akan memutuskan,” tambahnya.

Apakah Sutarti akan dirujuk ke RS Sambang Lihum? “Belum, sekarang masih di kandangan. Tetap tunggu keputusan hakim untuk menentukan nasibnya,” pungkasnya.

Di sisi lain, pendampingan bimbingan konseling untuk Putri (bukan nama sebenarnya) anak tiri Sutarti yang selamat terus berlanjut. Upaya ini dilakukan untuk menyembuhkan traumatik yang dialami Putri karena peristiwa naas tersebut.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Sosial HST, Farida Apriana menjelaskan kondisi putri pada hasil observasi tahap satu kondisinya masih kurang stabil.

“Dari hasil observasi yang dirilis Poli Psikologi RS Damanhuri Barabai 3 Desember 2020 lalu. Putri masih mengalami trauma,” ujarnya, Jumat (18/12).

Farida menjelaskan dalam bimbingan konseling ada tiga aspek yang menjadi dasar penilaian perkembangan mental Putri. Yakni aspek sosialisasi, emosi, dan perilaku.

Untuk aspek sosialisasi Putri masih menjaga jarak untuk berinteraksi dengan orang baru. Ia tak mudah percaya dengan kehadiran orang baru. Ia juga cenderung menunggu sikap proaktif lawan bicara untuk memulai komunikasi.

Sedangkan untuk aspek emosi belum ada perkembangan. Emosi yang ditampilkan masih dangkal. Setiap ekspresi cenderung datar. Walaupun diceritakan kisah menyedihkan atau mengerikan.

Begitu dengan aspek perilaku. Prilaku Putri lugu, namun ia bisa menceritakan kejadian yang dialami secara lugas. Tapi tanpa dibarengi eksperesi emosi sesuai dengan gambaran ceritanya.

“Ia perlu distimulus untuk dapat mengekspresikan emosi sesuai dengan apa yang disarankan. Dan sekarang Putri masih dalam pengawasan. Jadi akan didampingi sampai pulih,” kata Farida.

Namun sekarang Farida bisa sedikit bernafas lega. Dari bimbingan konseling yang diberikan pada tanggal 3 Desember sampai 17 Desember 2020 tadi, mental Putri menunjukkan perkembangan. Farida melaporkan perkembangan terbaru sudah mulai membaik.

“Hari Kamis (17/12) tadi setelah ikut bimbingan konseling hasilnya sudah bagus, dan sekarang sudah tidak takut lagi dengan orang. Dan ternyata Putri anak yang cerdas,” jelasnya seraya berharap Putri lekas pulih.

Lalu bagaimana dengan Sutarti yang dinyatakan mengidap gangguan kejiwaan dan sudah jadi tersangka, apakah ada pendampingan dari Dinas Sosial HST? “Untuk ibu Sutarti, Dinsos baru bisa mengambil peran secara prosedural jika yang bersangkutan sudah selesai masa perawatan,” tuntasnya. (mal/ran/ema)

Misteri pembunuhan dua anak oleh ibu kandungnya di Hulu Sungai Tengah mulai terungkap. Setelah diobservasi 21 hari, pelaku Sutarti dinyatakan mengidap gangguan jiwa. Saat ini kondisinya masih tidak stabil dan dirawat inap di Poli Kejiwaan RS Kandangan.

—-

Dalam proses observasi kejiwaan, Sutarti masih sering meracau. Dari informasi yang dihimpun Radar Banjarmasin, Sutarti juga tidak mau meminum obat. Hanya diberikan infus. “Tapi tetap kita obati dan saat ini dijaga ketat oleh anggota kepolisian,” kata Kasat Reskrim polres HST, AKP Dany Sulistiono, Kamis (17/12) tadi.

Setelah hasil visum Sutarti keluar, status kasusnya kini naik ke tahap satu. Artinya Sutarti sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Pihak penyidik Polres HST juga sudah melengkapi berkas tahapan itu. Dalam waktu dekat berkas perkara bakal dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah.

“Pasal yang disangkakan tidak berubah. Tetap pasal 80 ayat 3 UU perlindungan anak. Untuk hukuman tunggu saja di persidangan, hakim yang akan memutuskan,” tambahnya.

Apakah Sutarti akan dirujuk ke RS Sambang Lihum? “Belum, sekarang masih di kandangan. Tetap tunggu keputusan hakim untuk menentukan nasibnya,” pungkasnya.

Di sisi lain, pendampingan bimbingan konseling untuk Putri (bukan nama sebenarnya) anak tiri Sutarti yang selamat terus berlanjut. Upaya ini dilakukan untuk menyembuhkan traumatik yang dialami Putri karena peristiwa naas tersebut.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Sosial HST, Farida Apriana menjelaskan kondisi putri pada hasil observasi tahap satu kondisinya masih kurang stabil.

“Dari hasil observasi yang dirilis Poli Psikologi RS Damanhuri Barabai 3 Desember 2020 lalu. Putri masih mengalami trauma,” ujarnya, Jumat (18/12).

Farida menjelaskan dalam bimbingan konseling ada tiga aspek yang menjadi dasar penilaian perkembangan mental Putri. Yakni aspek sosialisasi, emosi, dan perilaku.

Untuk aspek sosialisasi Putri masih menjaga jarak untuk berinteraksi dengan orang baru. Ia tak mudah percaya dengan kehadiran orang baru. Ia juga cenderung menunggu sikap proaktif lawan bicara untuk memulai komunikasi.

Sedangkan untuk aspek emosi belum ada perkembangan. Emosi yang ditampilkan masih dangkal. Setiap ekspresi cenderung datar. Walaupun diceritakan kisah menyedihkan atau mengerikan.

Begitu dengan aspek perilaku. Prilaku Putri lugu, namun ia bisa menceritakan kejadian yang dialami secara lugas. Tapi tanpa dibarengi eksperesi emosi sesuai dengan gambaran ceritanya.

“Ia perlu distimulus untuk dapat mengekspresikan emosi sesuai dengan apa yang disarankan. Dan sekarang Putri masih dalam pengawasan. Jadi akan didampingi sampai pulih,” kata Farida.

Namun sekarang Farida bisa sedikit bernafas lega. Dari bimbingan konseling yang diberikan pada tanggal 3 Desember sampai 17 Desember 2020 tadi, mental Putri menunjukkan perkembangan. Farida melaporkan perkembangan terbaru sudah mulai membaik.

“Hari Kamis (17/12) tadi setelah ikut bimbingan konseling hasilnya sudah bagus, dan sekarang sudah tidak takut lagi dengan orang. Dan ternyata Putri anak yang cerdas,” jelasnya seraya berharap Putri lekas pulih.

Lalu bagaimana dengan Sutarti yang dinyatakan mengidap gangguan kejiwaan dan sudah jadi tersangka, apakah ada pendampingan dari Dinas Sosial HST? “Untuk ibu Sutarti, Dinsos baru bisa mengambil peran secara prosedural jika yang bersangkutan sudah selesai masa perawatan,” tuntasnya. (mal/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/