alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Siswa Penyandang Disabilitas Perlu “PAPA”

Peringatan Hari Disabilitas Internasional yang dilaksanakan setiap tanggal 3 Desember menjadi momentum penting membangun kesadaran, bahwa keberadaan penyandang disabilitas di tengah masyarakat patut mendapat perhatian. Tidak terkecuali siswa berkebutuhan khusus (penyandang disabilitas) yang ada di sekolah reguler, maupun sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.

==============================
Oleh: MUHAMMAD SYAMSURI, M.Pd
Guru SMAN 2 Kintap
==============================

Tema yang diangkat pada peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun ini cukup spesial. “Building Back Better: toward a disability inclusive, accessible and sustainable post Covid-19 world” (Membangun kembali kehidupan yang lebih baik ke arah yang inklusif, aksesibel dan berkelanjutan pasca pandemi Covid-19). Membangun kembali kehidupan yang lebih baik ke arah inklusif dapat dimaknai bahwa saat ini, penyandang disabilitas belum mendapatkan perlakuan yang inklusif terkait hambatan yang dimilikinya, bahkan tidak jarang perlakuan yang didapat lebih bersifat eksklusif.

Inklusif merupakan istilah yang digunakan dalam menunjuk masyarakat yang memilki sifat terbuka akan keberagaman budaya, sehingga menerima dan mudah berinteraksi dengan perbedaaan yang ada. Masyarakat pada kategori ini mempunya sikap toleran yang tinggi. Sedangkan eksklusif, menunjuk pada kondisi di mana terdapat pembatasan pergaulan dengan masyarakat atau pun kelompok lainnya sehingga muncul kesan adanya usaha memisahkan diri.

Terkait dengan pendidikan inklusif, menurut Joko Yuwono (2020), pendidikan inklusif merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi. Pendidikan inklusif memberikan peluang bagi sekolah untuk menjangkau semua anak agar dapat bersekolah. Pendidikan inklusif menjamin tidak terjadi lagi anak-anak usia sekolah tidak pergi ke sekolah di jam sekolah.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memahami dan menghargai keberagaman. Pendidikan inklusif memberi kesempatan anak-anak untuk bersekolah bersama-sama, belajar dalam kelas yang sama, bermain bersama, berbagi, dan saling belajar menghargai perbedaan (toleransi). Sekolah inklusif menuntut pembelajaran yang ramah pada semua peserta didik; non-diskriminasi dan kurikulum yang fleksibel.

Pada proses pembelajaran dalam setting kelas inklusif, guru harus menciptakan bembelajaran yang memberikan peluang kepada semua anak menjadi lebih baik. Desain pembelajaran harus ramah. Praktik pembelajaran yang ramah harus bersandar pada nilai-nilai inklusifitas; non-diskriminasi, berbagi, menghargai perbedaan, fleksibel, adanya guru yang ramah, sekolah yang ramah, aksisibel, dan kolaboratif/kemiteraan.

Terdapat beberapa prinsip pembelajaran dalam setting kelas yang peserta didiknya beragam. Sekolah yang ramah pada praktik pembelajaranya harus memegang beberapa prinsip dalam kerangka pendidikan inklusif yakni Present, Acceptance, Perticipation dan Achievment (PAPA). Sekolah yang ramah harus menghargai keberagaman dan perbedaan, salah satunya adalah hadirnya peserta didik berkebutuhan khusus di kelas reguler, sekali lagi salah satunya.

Present dimaknai bahwa peserta didik berkebutuhan khusus harus hadir di dalam sekolah reguler, tinggal di kelas bersama anak-anak pada umumnya. Meski begitu, hadir saja tidak cukup, maka peserta didik ini juga harus diterima, Acceptance. Memastikan bahwa semua anak diterima apapun itu latar belakang dan kondisinya. Ada keramahan yang ditunjukkan secara emotional oleh warga sekolah atas hadirnya keberagaman di dalam kelas. Guru, peserta didik pada umumnya, orang tua, dan anggota masyarakat sekolah lainnya menunjukkan rasa penerimaan yang terbuka sehingga peserta didik yang berbeda dari kebanyakan anak-anak di kelas dapat merasakan kenyamanan atas sambutan dan penerimaan yang tulus. 

Pada umumnya, orang dapat merasakan bahwa dirinya diterima atau tidak oleh lingkunganya, demikian pula dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Masih banyak guru yang seringali memisahkan peserta didik berkebutuhan khusus karena dianggap tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di kelas atas berbedaan kondisi dan kemampuan yang dimilikinya.

Prinsip pembelajaran yang ramah selanjutnya adalah participation. Guru harus memastikan bahwa semua peserta didik dapat berpartisipasi sesuai kondisi dan kemampuannya. Pembelajaran yang ramah memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk berpartisipasi.   Achievement, berprestasi. Guru harus dapat memastikan bahwa semua anak dapat memiliki prestasi, mencapai tujuan pembelajaran yang disesuaiakan dengan kemampuanya. Mendorong peserta didik untuk berprestasi, mencapai tujuan belajar yang sesuai dengan kemampuannya adalah cara terbaik dalam menghargai perbedaan dan keberagaman.

Praktik pembelajaran yang kurang ramah atau tidak inklusif seringkali masih terjadi di sekolah-sekolah kita. Anak-anak yang berbeda memang hadir dan diterima di sekolah reguler tetapi kenyataannya masih banyak anak-anak tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam kelas yang sama. Guru belum mengenali peserta didik secara mendalam sehingga peserta didik yang berbeda tersebut ditinggalkan atau justru dipisahkan dari komunitasnya. Praktik pembelajaran yang ramah membutuhkan kecerdasan dan kreatifitas guru untuk mendesain kegiatan belajar sehingga semua peserta didik menjadi bagian dari komunitasnya.

Peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun ini hendaknya jangan sampai berlalu begitu saja tanpa ada perbaikan nyata terhadap kehidupan penyandang disabilitas. Sudah saatnya penyandang disabilitas mendapat dukungan dan perhatian terhadap hambatan yang mereka miliki. Tema hari disabilitas internasional juga sesuai dengan tema hari disabilitas nasional, yaitu Not All Disabilities Are Visible (tidak semua disabilitas terlihat).

Kita mungkin tidak sadar, bukan tidak mungkin karena kurangnya kepedulian sebenarnya mereka ada di sekitar kita, padahal seharusnya mereka mendapat layanan sesuai dengan hambatan yang mereka miliki karena layanan tersebut adalah hak mereka. Selamat hari disabilitas. (*)

Peringatan Hari Disabilitas Internasional yang dilaksanakan setiap tanggal 3 Desember menjadi momentum penting membangun kesadaran, bahwa keberadaan penyandang disabilitas di tengah masyarakat patut mendapat perhatian. Tidak terkecuali siswa berkebutuhan khusus (penyandang disabilitas) yang ada di sekolah reguler, maupun sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.

==============================
Oleh: MUHAMMAD SYAMSURI, M.Pd
Guru SMAN 2 Kintap
==============================

Tema yang diangkat pada peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun ini cukup spesial. “Building Back Better: toward a disability inclusive, accessible and sustainable post Covid-19 world” (Membangun kembali kehidupan yang lebih baik ke arah yang inklusif, aksesibel dan berkelanjutan pasca pandemi Covid-19). Membangun kembali kehidupan yang lebih baik ke arah inklusif dapat dimaknai bahwa saat ini, penyandang disabilitas belum mendapatkan perlakuan yang inklusif terkait hambatan yang dimilikinya, bahkan tidak jarang perlakuan yang didapat lebih bersifat eksklusif.

Inklusif merupakan istilah yang digunakan dalam menunjuk masyarakat yang memilki sifat terbuka akan keberagaman budaya, sehingga menerima dan mudah berinteraksi dengan perbedaaan yang ada. Masyarakat pada kategori ini mempunya sikap toleran yang tinggi. Sedangkan eksklusif, menunjuk pada kondisi di mana terdapat pembatasan pergaulan dengan masyarakat atau pun kelompok lainnya sehingga muncul kesan adanya usaha memisahkan diri.

Terkait dengan pendidikan inklusif, menurut Joko Yuwono (2020), pendidikan inklusif merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan atau akses yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi. Pendidikan inklusif memberikan peluang bagi sekolah untuk menjangkau semua anak agar dapat bersekolah. Pendidikan inklusif menjamin tidak terjadi lagi anak-anak usia sekolah tidak pergi ke sekolah di jam sekolah.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memahami dan menghargai keberagaman. Pendidikan inklusif memberi kesempatan anak-anak untuk bersekolah bersama-sama, belajar dalam kelas yang sama, bermain bersama, berbagi, dan saling belajar menghargai perbedaan (toleransi). Sekolah inklusif menuntut pembelajaran yang ramah pada semua peserta didik; non-diskriminasi dan kurikulum yang fleksibel.

Pada proses pembelajaran dalam setting kelas inklusif, guru harus menciptakan bembelajaran yang memberikan peluang kepada semua anak menjadi lebih baik. Desain pembelajaran harus ramah. Praktik pembelajaran yang ramah harus bersandar pada nilai-nilai inklusifitas; non-diskriminasi, berbagi, menghargai perbedaan, fleksibel, adanya guru yang ramah, sekolah yang ramah, aksisibel, dan kolaboratif/kemiteraan.

Terdapat beberapa prinsip pembelajaran dalam setting kelas yang peserta didiknya beragam. Sekolah yang ramah pada praktik pembelajaranya harus memegang beberapa prinsip dalam kerangka pendidikan inklusif yakni Present, Acceptance, Perticipation dan Achievment (PAPA). Sekolah yang ramah harus menghargai keberagaman dan perbedaan, salah satunya adalah hadirnya peserta didik berkebutuhan khusus di kelas reguler, sekali lagi salah satunya.

Present dimaknai bahwa peserta didik berkebutuhan khusus harus hadir di dalam sekolah reguler, tinggal di kelas bersama anak-anak pada umumnya. Meski begitu, hadir saja tidak cukup, maka peserta didik ini juga harus diterima, Acceptance. Memastikan bahwa semua anak diterima apapun itu latar belakang dan kondisinya. Ada keramahan yang ditunjukkan secara emotional oleh warga sekolah atas hadirnya keberagaman di dalam kelas. Guru, peserta didik pada umumnya, orang tua, dan anggota masyarakat sekolah lainnya menunjukkan rasa penerimaan yang terbuka sehingga peserta didik yang berbeda dari kebanyakan anak-anak di kelas dapat merasakan kenyamanan atas sambutan dan penerimaan yang tulus. 

Pada umumnya, orang dapat merasakan bahwa dirinya diterima atau tidak oleh lingkunganya, demikian pula dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Masih banyak guru yang seringali memisahkan peserta didik berkebutuhan khusus karena dianggap tidak dapat mengikuti kegiatan belajar di kelas atas berbedaan kondisi dan kemampuan yang dimilikinya.

Prinsip pembelajaran yang ramah selanjutnya adalah participation. Guru harus memastikan bahwa semua peserta didik dapat berpartisipasi sesuai kondisi dan kemampuannya. Pembelajaran yang ramah memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik untuk berpartisipasi.   Achievement, berprestasi. Guru harus dapat memastikan bahwa semua anak dapat memiliki prestasi, mencapai tujuan pembelajaran yang disesuaiakan dengan kemampuanya. Mendorong peserta didik untuk berprestasi, mencapai tujuan belajar yang sesuai dengan kemampuannya adalah cara terbaik dalam menghargai perbedaan dan keberagaman.

Praktik pembelajaran yang kurang ramah atau tidak inklusif seringkali masih terjadi di sekolah-sekolah kita. Anak-anak yang berbeda memang hadir dan diterima di sekolah reguler tetapi kenyataannya masih banyak anak-anak tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam kelas yang sama. Guru belum mengenali peserta didik secara mendalam sehingga peserta didik yang berbeda tersebut ditinggalkan atau justru dipisahkan dari komunitasnya. Praktik pembelajaran yang ramah membutuhkan kecerdasan dan kreatifitas guru untuk mendesain kegiatan belajar sehingga semua peserta didik menjadi bagian dari komunitasnya.

Peringatan Hari Disabilitas Internasional tahun ini hendaknya jangan sampai berlalu begitu saja tanpa ada perbaikan nyata terhadap kehidupan penyandang disabilitas. Sudah saatnya penyandang disabilitas mendapat dukungan dan perhatian terhadap hambatan yang mereka miliki. Tema hari disabilitas internasional juga sesuai dengan tema hari disabilitas nasional, yaitu Not All Disabilities Are Visible (tidak semua disabilitas terlihat).

Kita mungkin tidak sadar, bukan tidak mungkin karena kurangnya kepedulian sebenarnya mereka ada di sekitar kita, padahal seharusnya mereka mendapat layanan sesuai dengan hambatan yang mereka miliki karena layanan tersebut adalah hak mereka. Selamat hari disabilitas. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/