alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Kementan Dorong Penumbuhan dan Pengembangan Korporasi Petani di Food Estate

Kapuas, – Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya dalam pengembangan kawasan Food Estate di Provinsi Kalimantan Tengah, yang meliputi Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau.

Kali ini Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) bekerjasama dengan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar acara “Workshop penumbuhan dan pengembangan korporasi petani di kawasan food estate Kalimantan tengah” , Rabu, (16/12/2020).

Dibuka oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Sunarti, “Kondisi iklim merupakan tantangan bagi kita semua bagaimana agar SDM pertanian tetap kuat dan mandiri”, Ungkapnya.

Lanjut Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi yang hadir di kesempatan itu menegaskan, “Saat ini kita sedang transformasi, dari pertanian tradisional ke modern”, Ujarnya mengawali materi.

“Tradisional menghasilkan produktivitas rendah, sementara pertanian modern lebih tinggi. Dulu, penduduk Indonesia masih sedikit, tak masalah pertanian tradisional. Sekarang penduduk 270 juta, jika pertanian masih tradisional maka tak akan cukup”, tegas Dedi Nursyamsi.

Sebab, Kepala BPPSDMP menjelaskan bahwa pertanian tradisional masih menggunakan alat seadanya, seperti binatang, varietas lokal, cara panen pakai Arit dan sangat rentan terbuang percuma hasil panennya. Pertanian modern tidak menggunakan alat itu, karena tujuannya adalah agar hasil panen melimpah dan unggul.

“Kita harus merubah mindset, pertanian tidak hanya sekedar keterpaksaan, tetapi harus bisnis, harus menghasilkan duit. Guna meningkatkannya, harus menggunakan bibit unggul, sarana modern”, Lanjut Dedi Nursyamsi.

Sebab dengan Korporasi ini, Kepala BPPSDMP berharap petani jangan jual gabah, harus dijadikan beras baru jual (meningkatkan nilai jual). Apalagi kalau menggunakan packing yang bagus, maka harga jual akan tinggi. Semuanya harus jadi duit, petani tak hanya jual beras, tapi jual bibit, dedak, sekam, pokoknya semuanya harus jadi duit.

Food Estate ini merupakan instruksi langsung Presiden RI Joko Widodo untuk mengembangkan konsep pertanian dari hulu ke hilir, dalam konsep kluster berbasis Korporasi Petani pada program lumbung pangan (food estate) di Provinsi Kalimantan Tengah.

Maka Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menegaskan, “Korporasi petani bentuk pemberdayaan ekonomi petani, berdimensi strategis dalam pengembangan kawasan pertanian. Dibentuk dari, oleh, dan untuk petani” ,kata Mentan.

SMK-PP Negeri Banjarbaru sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementan ikut hadir di workshop itu dan ikut berperan dalam pengembangan kawasan Food Estate khususnya di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau. (WD/ed)

Kapuas, – Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya dalam pengembangan kawasan Food Estate di Provinsi Kalimantan Tengah, yang meliputi Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau.

Kali ini Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) bekerjasama dengan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar acara “Workshop penumbuhan dan pengembangan korporasi petani di kawasan food estate Kalimantan tengah” , Rabu, (16/12/2020).

Dibuka oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Sunarti, “Kondisi iklim merupakan tantangan bagi kita semua bagaimana agar SDM pertanian tetap kuat dan mandiri”, Ungkapnya.

Lanjut Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi yang hadir di kesempatan itu menegaskan, “Saat ini kita sedang transformasi, dari pertanian tradisional ke modern”, Ujarnya mengawali materi.

“Tradisional menghasilkan produktivitas rendah, sementara pertanian modern lebih tinggi. Dulu, penduduk Indonesia masih sedikit, tak masalah pertanian tradisional. Sekarang penduduk 270 juta, jika pertanian masih tradisional maka tak akan cukup”, tegas Dedi Nursyamsi.

Sebab, Kepala BPPSDMP menjelaskan bahwa pertanian tradisional masih menggunakan alat seadanya, seperti binatang, varietas lokal, cara panen pakai Arit dan sangat rentan terbuang percuma hasil panennya. Pertanian modern tidak menggunakan alat itu, karena tujuannya adalah agar hasil panen melimpah dan unggul.

“Kita harus merubah mindset, pertanian tidak hanya sekedar keterpaksaan, tetapi harus bisnis, harus menghasilkan duit. Guna meningkatkannya, harus menggunakan bibit unggul, sarana modern”, Lanjut Dedi Nursyamsi.

Sebab dengan Korporasi ini, Kepala BPPSDMP berharap petani jangan jual gabah, harus dijadikan beras baru jual (meningkatkan nilai jual). Apalagi kalau menggunakan packing yang bagus, maka harga jual akan tinggi. Semuanya harus jadi duit, petani tak hanya jual beras, tapi jual bibit, dedak, sekam, pokoknya semuanya harus jadi duit.

Food Estate ini merupakan instruksi langsung Presiden RI Joko Widodo untuk mengembangkan konsep pertanian dari hulu ke hilir, dalam konsep kluster berbasis Korporasi Petani pada program lumbung pangan (food estate) di Provinsi Kalimantan Tengah.

Maka Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menegaskan, “Korporasi petani bentuk pemberdayaan ekonomi petani, berdimensi strategis dalam pengembangan kawasan pertanian. Dibentuk dari, oleh, dan untuk petani” ,kata Mentan.

SMK-PP Negeri Banjarbaru sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementan ikut hadir di workshop itu dan ikut berperan dalam pengembangan kawasan Food Estate khususnya di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau. (WD/ed)

Most Read

Artikel Terbaru

/