alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Berusaha Bergeliat di Tengah Pandemi, Even Wisata Kalsel akan Berjalan Tanpa Dukungan Pusat

Tak ingin lagi menunggu pandemi, sektor pariwisata Kalsel sudah harus mulai dibangkitkan lagi. Pemprov Kalsel melaunching kalender even pariwisata di Kalsel tahun 2021 mendatang, di Atrium Duta Mall Banjarmasin, Sabtu (12/2) tadi. Sebanyak 84 even wisata diagendakan terlaksana sepanjang tahun. Sayang tak ada dukungan pemerintah pusat.

Sayangnya dari 84 even wisata tersebut, tak satu pun yang disponsori oleh pemerintah pusat. Padahal, dua tahun sebelumnya Kalsel selalu mendapat jatah even wisata nasional dalam tema Wonderful Indonesia. Sebut saja di tahun 2019 lalu, even wisata Festival Pasar Terapung dan Festival Loksado menjadi bagian dari even wisata nasional.

Tahun 2020 ini pun, sedianya even wisata di Kalsel juga dimasukkan di program even wisata nasional. Seperti Festival Loksado dan Festival Dayak Meratus. Lantaran pandemi, dua even ini pun tak bisa dilaksanakan. “Tahun depan tak ada. Kalsel tak diikutkan seleksi,” ujar Kabid Pengembangan Pariwisata, Faisal Rizani kemarin.

Dia bercerita, ketika akan dijadikan kalender wisata nasional, biasanya tiap daerah diseleksi dan diundang oleh Kementerian Pariwisata. Namun tahun ini, Kalsel tak diundang. Sehingga dapat dipastikan tahun depan tak ada even wisata nasional di Kalsel.

Tak ada even wisata nasional di Kalsel tahun depan tambahnya, sebagai pemicu pemerintah daerah dan provinsi untuk mengembangkan dan membangkitkan sendiri even wisata masing-masing. “Memang tantangannya cukup berat disaat pandemi saat ini. Melalui luanching ini kami berupaya untuk membangkitkan sektor pariwisata di Kalsel,” cetusnya.

Dia menegaskan, meski dibayang-bayangi pandemi, namun even wisata di Kalsel tetap hidup. “Launching ini sebagai informasi juga, bahwa even wisata di Kalsel masih dilaksanakan,” tegasnya.

Dari sebanyak 84 even pariwisata yang akan digelar tahun depan di Kalsel. Terdata paling banyak digelar yang lokasinya di Kabupaten Tanah Bumbu, jumlahnya sebanyak 18 even. Contohnya, di awal tahun nanti, akan digeber Festival Ketupat Belamak yang digelar oleh Pemkab Tanah Bumbu. Selain itu di bulan Maret, terdata ada dua pelaksanaan even wisata, yakni Melasti dan Angsana Fishing Tournament.

Di bulan April, even wisata yang akan digelar di Kabupaten Tanah Bumbu semakin banyak, jumlahnya delapan gelaran. Even tersebut diantaranya adalah Pemilihan Nanang Galuh, Pemilihan Duta Wisata Bersujud, Festival Kuliner Nusantara hingga Lincai Bahabis Adventure Trail.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Syarifuddin menjelaskan Calendar of Event 2021, tak hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah, namun juga dilaksanakan oleh pihak swasta. “Dengan launching kalender even wisata ini kami harapkan para wisatawan mengetahui apa saja even wisata yang akan digelar sepanjang tahun di Kalsel,” ujarnya.

Dana Hibah Pariwisata Hanya untuk Ibu Kota

SEMENTARA ITU, guna membantu memulihkan sektor pariwisata yang lesu akibat pandemi Covid-19, pemerintah pusat mengucurkan dana hibah triliunan rupiah untuk hotel dan restoran. Sayangnya, tidak semua daerah menerima bantuan ini.

Di Kalimantan Selatan, hanya Kota Banjarmasin yang mendapatkan dana hibah pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut. Padahal, di daerah lain juga ada banyak hotel dan restoran yang memerlukan tambahan dana di tengah pandemi Covid-19 ini.

Di Banjarbaru misalnya, ada puluhan hotel dan restoran yang beroperasi di sini. Dan semuanya ikut terdampak wabah virus corona.

GM Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru Roy Amazon mengatakan, di saat-saat seperti ini hotel dan restoran sangat memerlukan tambahan dana untuk operasional. “Karena tingkat okupansi masih belum sebaik tahun lalu,” katanya, kemarin.

Dia mengungkapkan, bulan ini okupansi hotel rata-rata hanya 70 persen. Turun 10 persen jika dibandingkan November tadi. “Tapi, ini sudah bisa menutup gaji karyawan. Dengan begitu, sekarang tidak ada lagi karyawan yang dirumahkan,” ungkapnya.

Terkait dana hibah pariwisata dari pemerintah pusat, Roy menyampaikan bahwa bantuan itu memang hanya diberikan kepada daerah yang menjadi ibu kota provinsi. “Jadi di Kalsel hanya Banjarmasin yang menerimanya,” paparnya.

Dana hibah pariwisata sendiri merupakan bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digagas oleh pemerintah pusat.

Program ini bertujuan untuk membantu pemerintah daerah, serta industri hotel/restoran yang saat ini sedang mengalami gangguan finansial dan pemulihkan penurunan pendapatan asli daerah (PAD) akibat pandemi.

Sekretaris Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalsel, Fahmi mengatakan, total dana hibah pariwisata dari Kemenparekraf untuk Pemko Banjarmasin sekitar Rp11,1 miliar.

“Anggaran ini dibagi, 70 persen dialokasikan sebagai bantuan langsung kepada industri hotel dan restoran. Sedangkan, 30 persen digunakan pemerintah daerah untuk penanganan dampak dari pandemi Covid-19 di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” katanya.

Dia mengungkapkan, jika dihitung 70 persen dari total anggaran, maka hotel dan restoran di Banjarmasin bakal menerima sekitar Rp7,7 miliar. “Pembagiannya, hotel sekitar Rp2 miliar dan restoran kurang lebih Rp5,7 miliar,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk bisa mendapatkan dana hibah tersebut, hotel dan resto harus memenuhi beberapa persyaratan. Di antaranya, memiliki TDUP yang diterbitkan oleh PTSP/OSS yang masih berlaku atau berlaku efektif. Serta, punya bukti setor pajak tahun 2019 ( Januari – Desember), surat pernyataan masih beroperasi sampai dengan saat ini, dan berdomisili di Banjarmasin.

“Daftar hotel dan restoran di Kota Banjarmasin yang akan diberikan dana hibah sudah dikeluarkan oleh Bakeuda Kota Banjarmasin dan dilakukan pemanggilan. Mudah-mudahan dalam minggu ini sudah dicairkan,” ucapnya.

Fahmi menyampaikan, dari informasi yang diterimanya, dari 261 hotel yang membayar pajak di Kota Banjarmasin, hanya ada 51 yang memenuhi syarat mendapatkan dana hibah. “Sedangkan jumlah restoran yang membayar pajak ada 754 Restoran dan yang memenuhi syarat mendapakan dana hibah cuma 47 restoran,” ungkapnya.

Ditambahkannya, setiap hotel dan restoran menerima dana berbeda-beda. Tergantung besar dan kecilnya setoran pajaknya selama 2019. “Untuk hotel yang paling besar pajaknya menerima sekitar Rp375 juta, sementara restoran dapat hingga Rp360 juta,” tambahnya.

Mewakili BPD PHRI Kalsel dan BPC PHRI Kota Banjarmasin, General Manager Hotel Roditha ini mengucapkan terimakasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin, serta Badan Keuangan Daerah Banjarmasin yang mampu bekerja sama untuk merealisasikan dana hibah. “Meskipun tidak semua mendapatkannya, karena syarat-syarat tidak terpenuhi,” ucapnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin Ikhsan Al-Haq membenarkan jika Pemko Banjarmasin tengah mencairkan dana hibah untuk hotel dan restoran.

Namun, dia menyampaikan, berdasarkan data mereka, jumlah hotel yang menerima dana hibah hanya 36. Sedangkan restoran cuma 29. (mof/ris/ran/ema)

Tak ingin lagi menunggu pandemi, sektor pariwisata Kalsel sudah harus mulai dibangkitkan lagi. Pemprov Kalsel melaunching kalender even pariwisata di Kalsel tahun 2021 mendatang, di Atrium Duta Mall Banjarmasin, Sabtu (12/2) tadi. Sebanyak 84 even wisata diagendakan terlaksana sepanjang tahun. Sayang tak ada dukungan pemerintah pusat.

Sayangnya dari 84 even wisata tersebut, tak satu pun yang disponsori oleh pemerintah pusat. Padahal, dua tahun sebelumnya Kalsel selalu mendapat jatah even wisata nasional dalam tema Wonderful Indonesia. Sebut saja di tahun 2019 lalu, even wisata Festival Pasar Terapung dan Festival Loksado menjadi bagian dari even wisata nasional.

Tahun 2020 ini pun, sedianya even wisata di Kalsel juga dimasukkan di program even wisata nasional. Seperti Festival Loksado dan Festival Dayak Meratus. Lantaran pandemi, dua even ini pun tak bisa dilaksanakan. “Tahun depan tak ada. Kalsel tak diikutkan seleksi,” ujar Kabid Pengembangan Pariwisata, Faisal Rizani kemarin.

Dia bercerita, ketika akan dijadikan kalender wisata nasional, biasanya tiap daerah diseleksi dan diundang oleh Kementerian Pariwisata. Namun tahun ini, Kalsel tak diundang. Sehingga dapat dipastikan tahun depan tak ada even wisata nasional di Kalsel.

Tak ada even wisata nasional di Kalsel tahun depan tambahnya, sebagai pemicu pemerintah daerah dan provinsi untuk mengembangkan dan membangkitkan sendiri even wisata masing-masing. “Memang tantangannya cukup berat disaat pandemi saat ini. Melalui luanching ini kami berupaya untuk membangkitkan sektor pariwisata di Kalsel,” cetusnya.

Dia menegaskan, meski dibayang-bayangi pandemi, namun even wisata di Kalsel tetap hidup. “Launching ini sebagai informasi juga, bahwa even wisata di Kalsel masih dilaksanakan,” tegasnya.

Dari sebanyak 84 even pariwisata yang akan digelar tahun depan di Kalsel. Terdata paling banyak digelar yang lokasinya di Kabupaten Tanah Bumbu, jumlahnya sebanyak 18 even. Contohnya, di awal tahun nanti, akan digeber Festival Ketupat Belamak yang digelar oleh Pemkab Tanah Bumbu. Selain itu di bulan Maret, terdata ada dua pelaksanaan even wisata, yakni Melasti dan Angsana Fishing Tournament.

Di bulan April, even wisata yang akan digelar di Kabupaten Tanah Bumbu semakin banyak, jumlahnya delapan gelaran. Even tersebut diantaranya adalah Pemilihan Nanang Galuh, Pemilihan Duta Wisata Bersujud, Festival Kuliner Nusantara hingga Lincai Bahabis Adventure Trail.

Kepala Dinas Pariwisata Kalsel, Syarifuddin menjelaskan Calendar of Event 2021, tak hanya dilaksanakan oleh pihak pemerintah, namun juga dilaksanakan oleh pihak swasta. “Dengan launching kalender even wisata ini kami harapkan para wisatawan mengetahui apa saja even wisata yang akan digelar sepanjang tahun di Kalsel,” ujarnya.

Dana Hibah Pariwisata Hanya untuk Ibu Kota

SEMENTARA ITU, guna membantu memulihkan sektor pariwisata yang lesu akibat pandemi Covid-19, pemerintah pusat mengucurkan dana hibah triliunan rupiah untuk hotel dan restoran. Sayangnya, tidak semua daerah menerima bantuan ini.

Di Kalimantan Selatan, hanya Kota Banjarmasin yang mendapatkan dana hibah pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tersebut. Padahal, di daerah lain juga ada banyak hotel dan restoran yang memerlukan tambahan dana di tengah pandemi Covid-19 ini.

Di Banjarbaru misalnya, ada puluhan hotel dan restoran yang beroperasi di sini. Dan semuanya ikut terdampak wabah virus corona.

GM Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru Roy Amazon mengatakan, di saat-saat seperti ini hotel dan restoran sangat memerlukan tambahan dana untuk operasional. “Karena tingkat okupansi masih belum sebaik tahun lalu,” katanya, kemarin.

Dia mengungkapkan, bulan ini okupansi hotel rata-rata hanya 70 persen. Turun 10 persen jika dibandingkan November tadi. “Tapi, ini sudah bisa menutup gaji karyawan. Dengan begitu, sekarang tidak ada lagi karyawan yang dirumahkan,” ungkapnya.

Terkait dana hibah pariwisata dari pemerintah pusat, Roy menyampaikan bahwa bantuan itu memang hanya diberikan kepada daerah yang menjadi ibu kota provinsi. “Jadi di Kalsel hanya Banjarmasin yang menerimanya,” paparnya.

Dana hibah pariwisata sendiri merupakan bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digagas oleh pemerintah pusat.

Program ini bertujuan untuk membantu pemerintah daerah, serta industri hotel/restoran yang saat ini sedang mengalami gangguan finansial dan pemulihkan penurunan pendapatan asli daerah (PAD) akibat pandemi.

Sekretaris Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalsel, Fahmi mengatakan, total dana hibah pariwisata dari Kemenparekraf untuk Pemko Banjarmasin sekitar Rp11,1 miliar.

“Anggaran ini dibagi, 70 persen dialokasikan sebagai bantuan langsung kepada industri hotel dan restoran. Sedangkan, 30 persen digunakan pemerintah daerah untuk penanganan dampak dari pandemi Covid-19 di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” katanya.

Dia mengungkapkan, jika dihitung 70 persen dari total anggaran, maka hotel dan restoran di Banjarmasin bakal menerima sekitar Rp7,7 miliar. “Pembagiannya, hotel sekitar Rp2 miliar dan restoran kurang lebih Rp5,7 miliar,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk bisa mendapatkan dana hibah tersebut, hotel dan resto harus memenuhi beberapa persyaratan. Di antaranya, memiliki TDUP yang diterbitkan oleh PTSP/OSS yang masih berlaku atau berlaku efektif. Serta, punya bukti setor pajak tahun 2019 ( Januari – Desember), surat pernyataan masih beroperasi sampai dengan saat ini, dan berdomisili di Banjarmasin.

“Daftar hotel dan restoran di Kota Banjarmasin yang akan diberikan dana hibah sudah dikeluarkan oleh Bakeuda Kota Banjarmasin dan dilakukan pemanggilan. Mudah-mudahan dalam minggu ini sudah dicairkan,” ucapnya.

Fahmi menyampaikan, dari informasi yang diterimanya, dari 261 hotel yang membayar pajak di Kota Banjarmasin, hanya ada 51 yang memenuhi syarat mendapatkan dana hibah. “Sedangkan jumlah restoran yang membayar pajak ada 754 Restoran dan yang memenuhi syarat mendapakan dana hibah cuma 47 restoran,” ungkapnya.

Ditambahkannya, setiap hotel dan restoran menerima dana berbeda-beda. Tergantung besar dan kecilnya setoran pajaknya selama 2019. “Untuk hotel yang paling besar pajaknya menerima sekitar Rp375 juta, sementara restoran dapat hingga Rp360 juta,” tambahnya.

Mewakili BPD PHRI Kalsel dan BPC PHRI Kota Banjarmasin, General Manager Hotel Roditha ini mengucapkan terimakasih kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin, serta Badan Keuangan Daerah Banjarmasin yang mampu bekerja sama untuk merealisasikan dana hibah. “Meskipun tidak semua mendapatkannya, karena syarat-syarat tidak terpenuhi,” ucapnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin Ikhsan Al-Haq membenarkan jika Pemko Banjarmasin tengah mencairkan dana hibah untuk hotel dan restoran.

Namun, dia menyampaikan, berdasarkan data mereka, jumlah hotel yang menerima dana hibah hanya 36. Sedangkan restoran cuma 29. (mof/ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/