alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Meski Hanya Digelar Virtual, Festival Sastra Musim Hujan Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival memasuki tahun keempat. Gelaran sastra musim hujan ini berusaha digelar meski di tengah pandemi. 

Sejak digelar pada 2017 lalu, Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival mendapatkan sambutan bagi publik sastra nasional. Acara yang digelar oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru itu dalam empat tahun ini selalu menghadirkan para sastrawan nasional dan internasional.

Namun cerita tahun ini berbeda. Wabah corona yang melanda seluruh dunia membuat banyak agenda tahunan harus dibatalkan. Sempat ada keraguan Banjarbaru Rainy Day Litfest akan ditiadakan. Namun, mengakomodir aspirasi dari banyak sastrawan, pemkot akhirnya tetap menyelenggarakan meski hanya secara virtual.

Tadi malam pembukaan digelar di Ruang Wakapitu Kantor Pustarda Banjarbaru. Hadir sebagai pembuka adalah Wakil Walikota Darmawan Jaya Setiawan dan Sekda Banjarbaru Said Abdullah. Jaya mengatakan pihaknya mengapresiasi mereka yang berusaha untuk terus menggelar Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival. Acara ini telah masuk dalam agenda tahunan pemerintah Banjarbaru.

“Saya dapat pemberitahuan dari panitia ada 400 partisipan tahun ini, itu artinya meski kondisi pandemi, acara ini tetap mendapat perhatian dari publik sastra,” ujarnya.

Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival digelar mulai 15 Desember hingga 17 Desember mendatang. Sejumlah agenda akan mengisi acara tahunan ini. Diantaranya adalah peluncuran Buku Antologi Puisi Para Penulis/ penyair seluruh Indonesia, juga buku “Promising Writers” yang menjadi pilihan dari para kurator.

Promising Writers adalah tiga penulis yang dipilih untuk mendapatkan anugrah sastra dari Pemkot Banjarbaru. Tahun ini ada 116 judul buku dari 105 penulis yang diterima panitia. Tiga yang terpilih adalah Norrahman Alif dengan bukunya, Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rumputan (Kumpulan Puisi), Asef Saeful Anwar dengan bukunya Betapa Kita Belum Beranjak Dari Pertanyaan Tentang Cinta (Kumpulan Cerpen) dan Samaran (Novel) karya Dadang Ari Murtono.

Selain itu juga ada seminar virtual yang menghadirkan beberapa sastrawan daerah, nasional dan internasional. Diantaranya adalah Chris Woodrich, Benny Arnas, Tya Subiakto, John Mc Glynn, Malkan Junaidi, Micky Hidayat, dll. Sebelumnya telah digelar beberapa kegiatan lainnya seperti Lomba Video Baca Puisi bagi seluruh warga Kalsel.(ran/ema)

Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival memasuki tahun keempat. Gelaran sastra musim hujan ini berusaha digelar meski di tengah pandemi. 

Sejak digelar pada 2017 lalu, Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival mendapatkan sambutan bagi publik sastra nasional. Acara yang digelar oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru itu dalam empat tahun ini selalu menghadirkan para sastrawan nasional dan internasional.

Namun cerita tahun ini berbeda. Wabah corona yang melanda seluruh dunia membuat banyak agenda tahunan harus dibatalkan. Sempat ada keraguan Banjarbaru Rainy Day Litfest akan ditiadakan. Namun, mengakomodir aspirasi dari banyak sastrawan, pemkot akhirnya tetap menyelenggarakan meski hanya secara virtual.

Tadi malam pembukaan digelar di Ruang Wakapitu Kantor Pustarda Banjarbaru. Hadir sebagai pembuka adalah Wakil Walikota Darmawan Jaya Setiawan dan Sekda Banjarbaru Said Abdullah. Jaya mengatakan pihaknya mengapresiasi mereka yang berusaha untuk terus menggelar Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival. Acara ini telah masuk dalam agenda tahunan pemerintah Banjarbaru.

“Saya dapat pemberitahuan dari panitia ada 400 partisipan tahun ini, itu artinya meski kondisi pandemi, acara ini tetap mendapat perhatian dari publik sastra,” ujarnya.

Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival digelar mulai 15 Desember hingga 17 Desember mendatang. Sejumlah agenda akan mengisi acara tahunan ini. Diantaranya adalah peluncuran Buku Antologi Puisi Para Penulis/ penyair seluruh Indonesia, juga buku “Promising Writers” yang menjadi pilihan dari para kurator.

Promising Writers adalah tiga penulis yang dipilih untuk mendapatkan anugrah sastra dari Pemkot Banjarbaru. Tahun ini ada 116 judul buku dari 105 penulis yang diterima panitia. Tiga yang terpilih adalah Norrahman Alif dengan bukunya, Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rumputan (Kumpulan Puisi), Asef Saeful Anwar dengan bukunya Betapa Kita Belum Beranjak Dari Pertanyaan Tentang Cinta (Kumpulan Cerpen) dan Samaran (Novel) karya Dadang Ari Murtono.

Selain itu juga ada seminar virtual yang menghadirkan beberapa sastrawan daerah, nasional dan internasional. Diantaranya adalah Chris Woodrich, Benny Arnas, Tya Subiakto, John Mc Glynn, Malkan Junaidi, Micky Hidayat, dll. Sebelumnya telah digelar beberapa kegiatan lainnya seperti Lomba Video Baca Puisi bagi seluruh warga Kalsel.(ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/