alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

JALAN KE TAHTA MASIH PANJANG, Denny Ajak Siap-Siap Sengketa

BANJARMASIN – Drama masih mewarnai kontestasi Pemilihan Gubernur Kalsel 2020. Sampai pukul 18.30 Wita tadi malam, perolahan sama kuat: 50:50. Padahal selama tiga hari, Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut 2, Denny Indrayana-Difriadi Darjat unggul sementara atas Paslon nomor urut 1, Sahbirin Noor-Muhidin.

Suara petahana Sahbirin Noor naik seiring rekapitulasi bergerak. Kabupaten Banjar yang menjadi kantong pemilih tradisional, dipercaya mendongkrak perolehan suara paslon 1. Ini juga adalah daerah dengan pemilih terbanyak.

Perolehan suara paslon 1 ini diprediksi akan semakin terdongkrak. Pasalnya, dari total 1.273 Tempat Pemungutan Suara (TPS), baru masuk sebanyak 852 TPS. Di Dapil ini, sampai berita ini ditulis, perolehan suara paslon 1 sebanyak 62,9 persen. Sementara paslon 2 memperoleh suara sebanyak 37,1 persen.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD Partai Golkar Kalsel, Supian HK meyakini pasangan Sahbirin-Muhidin akan membalik posisi perolehan sementara suara di KPU. Suara di dua kabupaten yang menjadi lumbung suara mereka, yakni di Kabupaten Banjar dan Barito Kuala mulai terinput.

Namun demikian, dia mengatakan tak ingin mengklaim kemenangan lebih awal. “Kami tetap menghargai proses perhitungan KPU, mari kita tunggu dan pantau terus perkembangan suara yang masuk,” ucapnya. 

Pengamat Politik Fisip ULM Setia Budi mengakui dinamika perolehan suara di Pilgub Kalsel tahun ini sangat menarik. “Ini menunjukkan kontestasi demokrasi yang sangat baik di Kalsel,” sebutnya.

Tingginya perolehan suara calon petahana di Kabupaten Barito Kuala, lantaran sejak tahun 2015, Partai Golkar selalu unggul dan masyarakat tetap mempertahankan pilihannya terhadap calon gubernur yang juga Ketua DPD 1 Partai Golkar Kalsel itu.

Kabupaten Banjar yang juga menjadi lumbung suara calon petahana tak jauh berbeda karena faktor pembangunan yang cukup signifikan. Keunggulan besar petahana di Tapin tambahnya, tak bisa dipungkiri lantaran faktor sosok Muhidin yang merupakan putra daerah.

Dia menganalisa, bisa saja di luar tiga daerah dengan lumbung suara tersebut terjadi perubahan signifikan. Seperti di HSU dan Tanah Bumbu, sebab perbedaan suara saat masih sangat tipis dan tidak menutup kemungkinan terjadi pergeseran. “Saya belum berani menyimpulkan. Tapi peluang petahana terbuka jika melihat dinamisnya pergerakan di lumbung suara tadi. Seperti di Kabupaten Banjar dan Batola yang terlihat pergerakannya cepat,” ujarnya.

Sementara itu, melihat perolehan sementara suara Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) saling kejar-kejaran, dan hanya terpaut tipis. Calon Gubernur Kalsel nomor urut 02, Denny Indrayana mengajak semua pihak siap untuk mengantisipasi sengketa hasil di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Jadi saya sampaikan, ini (sengketa di MK) terbuka lebar. Karena selisih hasil suara kemungkinan sangat tipis. Meski dalam aturan MK tidak ada batasan berapa selisihnya,” katanya dalam jumpa pers yang digelarnya di kediamannya di Banjarbaru, kemarin (13/12) malam.

Berdasarkan data terakhir di Sirekap, dia mengaku mereka masih memimpin perolehan suara. Yakni, 50,1 persen untuk Denny-Difri dan 49,9 persen bagi pasangan petahana Sahbirin Noor-Muhidin. “Walaupun menang, kami siap menghadapi gugatan dari calon lain. Semua harus siap beradu di MK,” ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya meminta agar masyarakat ikut berpartisipasi mengawal proses rekapitulasi yang saat ini sedang berjalan. “Dalam rangka menuju MK, saya minta masyarakat kalau ada bukti kecurangan, apapun bentuknya laporkan ke kami,” pintanya.

Dia menuturkan, saat ini pihaknya juga telah menemukan beberapa dugaan kecurangan yang perlu diinvestigasi. Salah satunya, menurunnya jumlah suara mereka di Sirekap.

“Tadi (kemarin) pagi ada info, ada suara yang turun. Ini selalu kami capture sebagai catatan. Teknologi memang ada kekurangan. Tapi ini perlu dicurigai, kenapa suara bisa turun?” tuturnya.

Denny juga mencurigai keterlambatan Sirekap di beberapa daerah. Menurutnya hal itu harus dicermati. “Kemarin di Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Hari ini di Tanah Bumbu yang lambat. Teknologi kok lebih lambat dari rekap manual. Kelambatan itu indikasi, kewaspadaan perlu ditingkatkan,” katanya.

Selain mencurigai Sirekap, dirinya juga mengungkap adanya dugaan kecurangan di 10 TPS di Kabupaten Tapin. Karena, di TPS-TPS itu perolehan suaranya kosong. “Semua suara untuk calon lain. Ini aneh dan tidak logis,” ungkapnya.

Menurutnya, TPS seperti itu harus diinvestigasi. Sebab, aneh salah satu calon tidak mendapatkan satu suara pun. “Tentu saja kami akan melakukan investigasi dengan serius. Apalagi di tengah partisipasi rendah, ada TPS yang hadir 100 persen. Tapi semua suaranya untuk pasangan nomor 01,” ujarnya.

Bukan hanya itu, Denny menyampaikan, ada hal lain yang mereka temukan di lapangan terkait adanya dugaan upaya memanipulasi data. Yakni, ada pihak-pihak tertentu yang menghubungi penyelenggara agar bisa mengubah suara.

“Hal-hal semacam ini tentu tidak boleh dibiarkan, dan saya minta ini jangan diteruskan. Karena, UU mengancam siapa yang mengubah hasil suara diancam 12 tahun penjara dan denda Rp144 juta. Jadi hati-hati,” ucapnya.

Di sisi lain, kubu pasangan calon Pilgub Kalsel nomor urut 01: Sahbirin Noor – Muhidin melalui Ketua Tim Pemenangan mereka, Rifqinizamy Karsayuda meminta agar Denny membuktikan semua kecurigaannya. “Buktikan saja. Jangan fitnah,” tegasnya.

Terkait klaim kemenangan tipis Denny, serta kesiapan sengketa hasil di MK, Rifqy meminta agar Denny-Difri tidak mengulangi klaim Pilpres 2014 dan 2019 di Pilgub Kalsel 2020. (mof/ris/ran/ema)

BANJARMASIN – Drama masih mewarnai kontestasi Pemilihan Gubernur Kalsel 2020. Sampai pukul 18.30 Wita tadi malam, perolahan sama kuat: 50:50. Padahal selama tiga hari, Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut 2, Denny Indrayana-Difriadi Darjat unggul sementara atas Paslon nomor urut 1, Sahbirin Noor-Muhidin.

Suara petahana Sahbirin Noor naik seiring rekapitulasi bergerak. Kabupaten Banjar yang menjadi kantong pemilih tradisional, dipercaya mendongkrak perolehan suara paslon 1. Ini juga adalah daerah dengan pemilih terbanyak.

Perolehan suara paslon 1 ini diprediksi akan semakin terdongkrak. Pasalnya, dari total 1.273 Tempat Pemungutan Suara (TPS), baru masuk sebanyak 852 TPS. Di Dapil ini, sampai berita ini ditulis, perolehan suara paslon 1 sebanyak 62,9 persen. Sementara paslon 2 memperoleh suara sebanyak 37,1 persen.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD Partai Golkar Kalsel, Supian HK meyakini pasangan Sahbirin-Muhidin akan membalik posisi perolehan sementara suara di KPU. Suara di dua kabupaten yang menjadi lumbung suara mereka, yakni di Kabupaten Banjar dan Barito Kuala mulai terinput.

Namun demikian, dia mengatakan tak ingin mengklaim kemenangan lebih awal. “Kami tetap menghargai proses perhitungan KPU, mari kita tunggu dan pantau terus perkembangan suara yang masuk,” ucapnya. 

Pengamat Politik Fisip ULM Setia Budi mengakui dinamika perolehan suara di Pilgub Kalsel tahun ini sangat menarik. “Ini menunjukkan kontestasi demokrasi yang sangat baik di Kalsel,” sebutnya.

Tingginya perolehan suara calon petahana di Kabupaten Barito Kuala, lantaran sejak tahun 2015, Partai Golkar selalu unggul dan masyarakat tetap mempertahankan pilihannya terhadap calon gubernur yang juga Ketua DPD 1 Partai Golkar Kalsel itu.

Kabupaten Banjar yang juga menjadi lumbung suara calon petahana tak jauh berbeda karena faktor pembangunan yang cukup signifikan. Keunggulan besar petahana di Tapin tambahnya, tak bisa dipungkiri lantaran faktor sosok Muhidin yang merupakan putra daerah.

Dia menganalisa, bisa saja di luar tiga daerah dengan lumbung suara tersebut terjadi perubahan signifikan. Seperti di HSU dan Tanah Bumbu, sebab perbedaan suara saat masih sangat tipis dan tidak menutup kemungkinan terjadi pergeseran. “Saya belum berani menyimpulkan. Tapi peluang petahana terbuka jika melihat dinamisnya pergerakan di lumbung suara tadi. Seperti di Kabupaten Banjar dan Batola yang terlihat pergerakannya cepat,” ujarnya.

Sementara itu, melihat perolehan sementara suara Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) saling kejar-kejaran, dan hanya terpaut tipis. Calon Gubernur Kalsel nomor urut 02, Denny Indrayana mengajak semua pihak siap untuk mengantisipasi sengketa hasil di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Jadi saya sampaikan, ini (sengketa di MK) terbuka lebar. Karena selisih hasil suara kemungkinan sangat tipis. Meski dalam aturan MK tidak ada batasan berapa selisihnya,” katanya dalam jumpa pers yang digelarnya di kediamannya di Banjarbaru, kemarin (13/12) malam.

Berdasarkan data terakhir di Sirekap, dia mengaku mereka masih memimpin perolehan suara. Yakni, 50,1 persen untuk Denny-Difri dan 49,9 persen bagi pasangan petahana Sahbirin Noor-Muhidin. “Walaupun menang, kami siap menghadapi gugatan dari calon lain. Semua harus siap beradu di MK,” ujarnya.

Oleh karena itu, dirinya meminta agar masyarakat ikut berpartisipasi mengawal proses rekapitulasi yang saat ini sedang berjalan. “Dalam rangka menuju MK, saya minta masyarakat kalau ada bukti kecurangan, apapun bentuknya laporkan ke kami,” pintanya.

Dia menuturkan, saat ini pihaknya juga telah menemukan beberapa dugaan kecurangan yang perlu diinvestigasi. Salah satunya, menurunnya jumlah suara mereka di Sirekap.

“Tadi (kemarin) pagi ada info, ada suara yang turun. Ini selalu kami capture sebagai catatan. Teknologi memang ada kekurangan. Tapi ini perlu dicurigai, kenapa suara bisa turun?” tuturnya.

Denny juga mencurigai keterlambatan Sirekap di beberapa daerah. Menurutnya hal itu harus dicermati. “Kemarin di Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Hari ini di Tanah Bumbu yang lambat. Teknologi kok lebih lambat dari rekap manual. Kelambatan itu indikasi, kewaspadaan perlu ditingkatkan,” katanya.

Selain mencurigai Sirekap, dirinya juga mengungkap adanya dugaan kecurangan di 10 TPS di Kabupaten Tapin. Karena, di TPS-TPS itu perolehan suaranya kosong. “Semua suara untuk calon lain. Ini aneh dan tidak logis,” ungkapnya.

Menurutnya, TPS seperti itu harus diinvestigasi. Sebab, aneh salah satu calon tidak mendapatkan satu suara pun. “Tentu saja kami akan melakukan investigasi dengan serius. Apalagi di tengah partisipasi rendah, ada TPS yang hadir 100 persen. Tapi semua suaranya untuk pasangan nomor 01,” ujarnya.

Bukan hanya itu, Denny menyampaikan, ada hal lain yang mereka temukan di lapangan terkait adanya dugaan upaya memanipulasi data. Yakni, ada pihak-pihak tertentu yang menghubungi penyelenggara agar bisa mengubah suara.

“Hal-hal semacam ini tentu tidak boleh dibiarkan, dan saya minta ini jangan diteruskan. Karena, UU mengancam siapa yang mengubah hasil suara diancam 12 tahun penjara dan denda Rp144 juta. Jadi hati-hati,” ucapnya.

Di sisi lain, kubu pasangan calon Pilgub Kalsel nomor urut 01: Sahbirin Noor – Muhidin melalui Ketua Tim Pemenangan mereka, Rifqinizamy Karsayuda meminta agar Denny membuktikan semua kecurigaannya. “Buktikan saja. Jangan fitnah,” tegasnya.

Terkait klaim kemenangan tipis Denny, serta kesiapan sengketa hasil di MK, Rifqy meminta agar Denny-Difri tidak mengulangi klaim Pilpres 2014 dan 2019 di Pilgub Kalsel 2020. (mof/ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/