alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Bertahan di Kota dengan Semangat Sisa

Inilah kisah Toliyah, perempuan 60 tahun dan anak tunggalnya, Sri Widawati. Keduanya bertahan hidup sebagai perantau di Kota Seribu Sungai.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

TOLIYAH sudah kenyang dengan asam garam kehidupan. Gonta-ganti pekerjaan tak kunjung membuat hidupnya berubah. Dapur mengepul pun sudah syukur.

Merantau ke Banjarmasin sejak 1990 silam, perempuan kelahiran Malang tahun 1960 itu kini tinggal di sebuah rumah bedakan. Di Jalan Ahmad Yani, belakang Stadion Lambung Mangkurat.

Tepatnya di kawasan SMP PGRI 2. Kontrakan nomor 37 di Kelurahan Pemurus Baru. Di situ, dia tinggal bersama putri semata wayangnya.

Ditemui kemarin (11/12) siang, Toliyah baru saja kembali dari sebuah kompleks perumahan, tak jauh dari sana. Sejak sebulan terakhir, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah rumah kosong.

“Sekarang, tinggal menjual keripik singkong ini,” ucapnya sambil memasukkan keripik ke dalam bungkusan-bungkusan plastik kecil.

Tak punya modal untuk membuat gerobak apalagi kios, keripik dijajakannya bersepeda. Atau menitipkan dagangannya ke sejumlah warung makan.

Keuntungan dari menjual keripik itulah yang digunakan untuk menghidupi putrinya Sri Widawati.

“Kadang laku, kadang tidak. Tapi lebih banyak tidak lakunya,” ungkapnya. Dari sini pula Toliyah mendapat julukan ‘Bule Keripik’.

Saat membungkus, Toliyah dibantu putrinya. Yang ternyata mengalami kebutaan di kedua matanya sejak lahir. Kendati demikian, bukan berarti Sri tak punya keahlian.

Lahir tahun 1983, Sri punya ijazah. Yang dikeluarkan UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang pada 2010 lalu. Tamat pelatihan sebagai tukang pijat.

Kepada Radar Banjarmasin, Sri menuturkan, sejak pandemi, pasien pijatnya tak lagi datang. Padahal, biasanya dalam sepekan, ada empat sampai enam pasien yang dipijatnya.

“Sekarang, seorang pun sudah tidak ada yang datang,” tuturnya lirih.

Ketika memijat, Sri tak pernah mematok tarif. Berapapun bayarannya, dia terima. Untuk memijat seorang pasien saja, dia memerlukan waktu lebih dari satu jam.

“Bahkan pernah diupah Rp20 ribu,” timpal sang Ibu, kemudian tersenyum.

Puas membungkus keripik, Toliyah pun beristirahat. Menyandarkan diri ke dinding rumah. Seperti tampak merenung. Begitu pula dengan putrinya, Sri.

“Yang kami punya sekarang ini cuma semangat, nak,” ungkap Toliyah.

Bagaimana tidak. Selain mencari makan, mereka juga harus membayar Rp600 ribu untuk kontrakan tersebut. “Sudah termasuk air dan listrik. Syukur yang menyewakan memahami keadaan kami. Bisa dicicil. Bulan ini baru bisa membayar Rp400 ribu,” jelasnya.

Begitu pula si pemasok singkong, yang membantu Toliyah membuat keripik. Menurutnya, si pemasok hanya mematok Rp20ribu untuk satu kilogram keripik yang laku.

“Biasanya, saya bisa membuat dua kilo. Keuntungannya sekitar Rp15ribu. Itu yang saya gunakan untuk keperluan sehari-hari,” jelasnya.

Sebelum ke Banjarmasin, ia merantau ke Samarinda, Kaltim. Di sana bekerja serabutan.

“Ada modal, saya menjemput Sri. Kemudian merantau ke sini (Banjarmasin). Berjualan nasi, kemudian es tebu. Cukup laku dan banyak dibeli anak SD,” kenangnya.

Lantas, mengapa sekarang berpindah menjadi penjual keripik? Alasannya adalah keterbatasan modal.

“Kemudian, saya juga sudah tak leluasa mengayuh sepeda. Badan sudah sering sakit-sakitan. Bawaan umur,” tambahnya.

Lantas, apa yang diharapkan oleh Toliyah dan putrinya? Keduanya berharap ada dermawan yang mau membuatkan sebuah kotak kaca. Tempat meletakkan jualan keripik.

Karena kalau terus dibungkus plastik, cepat alot. Tidak krenyes-krenyes lagi.

“Kami sudah tidak bisa pulang kampung. Rumah di sana sudah dijual untuk mengobati keluarga yang sakit-sakitan. Jadi kami harus bertahan di sini, semampunya,” tutupnya. (fud/ema)

Inilah kisah Toliyah, perempuan 60 tahun dan anak tunggalnya, Sri Widawati. Keduanya bertahan hidup sebagai perantau di Kota Seribu Sungai.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

TOLIYAH sudah kenyang dengan asam garam kehidupan. Gonta-ganti pekerjaan tak kunjung membuat hidupnya berubah. Dapur mengepul pun sudah syukur.

Merantau ke Banjarmasin sejak 1990 silam, perempuan kelahiran Malang tahun 1960 itu kini tinggal di sebuah rumah bedakan. Di Jalan Ahmad Yani, belakang Stadion Lambung Mangkurat.

Tepatnya di kawasan SMP PGRI 2. Kontrakan nomor 37 di Kelurahan Pemurus Baru. Di situ, dia tinggal bersama putri semata wayangnya.

Ditemui kemarin (11/12) siang, Toliyah baru saja kembali dari sebuah kompleks perumahan, tak jauh dari sana. Sejak sebulan terakhir, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah rumah kosong.

“Sekarang, tinggal menjual keripik singkong ini,” ucapnya sambil memasukkan keripik ke dalam bungkusan-bungkusan plastik kecil.

Tak punya modal untuk membuat gerobak apalagi kios, keripik dijajakannya bersepeda. Atau menitipkan dagangannya ke sejumlah warung makan.

Keuntungan dari menjual keripik itulah yang digunakan untuk menghidupi putrinya Sri Widawati.

“Kadang laku, kadang tidak. Tapi lebih banyak tidak lakunya,” ungkapnya. Dari sini pula Toliyah mendapat julukan ‘Bule Keripik’.

Saat membungkus, Toliyah dibantu putrinya. Yang ternyata mengalami kebutaan di kedua matanya sejak lahir. Kendati demikian, bukan berarti Sri tak punya keahlian.

Lahir tahun 1983, Sri punya ijazah. Yang dikeluarkan UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang pada 2010 lalu. Tamat pelatihan sebagai tukang pijat.

Kepada Radar Banjarmasin, Sri menuturkan, sejak pandemi, pasien pijatnya tak lagi datang. Padahal, biasanya dalam sepekan, ada empat sampai enam pasien yang dipijatnya.

“Sekarang, seorang pun sudah tidak ada yang datang,” tuturnya lirih.

Ketika memijat, Sri tak pernah mematok tarif. Berapapun bayarannya, dia terima. Untuk memijat seorang pasien saja, dia memerlukan waktu lebih dari satu jam.

“Bahkan pernah diupah Rp20 ribu,” timpal sang Ibu, kemudian tersenyum.

Puas membungkus keripik, Toliyah pun beristirahat. Menyandarkan diri ke dinding rumah. Seperti tampak merenung. Begitu pula dengan putrinya, Sri.

“Yang kami punya sekarang ini cuma semangat, nak,” ungkap Toliyah.

Bagaimana tidak. Selain mencari makan, mereka juga harus membayar Rp600 ribu untuk kontrakan tersebut. “Sudah termasuk air dan listrik. Syukur yang menyewakan memahami keadaan kami. Bisa dicicil. Bulan ini baru bisa membayar Rp400 ribu,” jelasnya.

Begitu pula si pemasok singkong, yang membantu Toliyah membuat keripik. Menurutnya, si pemasok hanya mematok Rp20ribu untuk satu kilogram keripik yang laku.

“Biasanya, saya bisa membuat dua kilo. Keuntungannya sekitar Rp15ribu. Itu yang saya gunakan untuk keperluan sehari-hari,” jelasnya.

Sebelum ke Banjarmasin, ia merantau ke Samarinda, Kaltim. Di sana bekerja serabutan.

“Ada modal, saya menjemput Sri. Kemudian merantau ke sini (Banjarmasin). Berjualan nasi, kemudian es tebu. Cukup laku dan banyak dibeli anak SD,” kenangnya.

Lantas, mengapa sekarang berpindah menjadi penjual keripik? Alasannya adalah keterbatasan modal.

“Kemudian, saya juga sudah tak leluasa mengayuh sepeda. Badan sudah sering sakit-sakitan. Bawaan umur,” tambahnya.

Lantas, apa yang diharapkan oleh Toliyah dan putrinya? Keduanya berharap ada dermawan yang mau membuatkan sebuah kotak kaca. Tempat meletakkan jualan keripik.

Karena kalau terus dibungkus plastik, cepat alot. Tidak krenyes-krenyes lagi.

“Kami sudah tidak bisa pulang kampung. Rumah di sana sudah dijual untuk mengobati keluarga yang sakit-sakitan. Jadi kami harus bertahan di sini, semampunya,” tutupnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/