alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Jembatan Sulaha Jadi Pangkalan Pengemis HST, Penghasilan Terbanyak Setiap Jumat

Pengemis cukup banyak di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Bahkan ada satu jembatan yang dijadikan pangkalan bersama untuk menadahkan tangannya.

— Oleh: JAMALUDDIN, Barabai —

Jumat (11/12), belasan pengemis berjejer duduk lesehan di Jembatan Sulaha di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah. Kebanyakan yang mangkal di situ para lansia, dan ibu-ibu membawa serta anaknya.

Para pengemis sebenarnya mangkal di jembatan itu setiap hari. Hanya saja setiap Jumat jumlahnya bertambah tiga kali lipat. “Kalau hari biasa paling banyak 3 orang. Tapi hari Ahad juga banyak. Cuma tak sebanyak hari Jumat,” ungkap seorang warga yang berdomisili di dekat jembatan tersebut.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin, pengemis yang mangkal di tempat itu merupakan warga HST. Hanya saja dari kecamatan yang berbeda. Mereka mangkal sekira pukul 08.00 pagi, dan pulang setelah selesai salat Jumat. “Diantar dan dijemput pakai motor,” cerita salah seorang pengemis.

Penghasilan mereka bisa mencapai ratusan ribu setiap Jumat. Pada hari itu banyak warga yang bersedekah. “Alhamdulillah,” ucapnya bersyukur.

Beberapa pengemis harus membawa anak-anaknya. Mereka mengaku jika tidak dibawa tak ada yang menjaga. “Siang sudah pulang. Jadi tidak lama mangkalnya,” timpal pengemis lain.

Fenomena ini tentu meresahkan. Apalagi jembatan tempat pengemis mangkal adalah fasilitas umum. Bahkan jembatan itu berdekatan dengan sebuah masjid. Kendaraan bermotor lalu lalang di sana.

Membuat keselamatan pengemis dan pengendara terancam jika lengah. “Mereka mangkalnya tepat di pinggir jembatan. Jadi pejalan kaki tidak bisa lewat,” kata Rustam, jemaah yang hendak menunaikan salat Jumat.

Lantas apakah selama ini tidak ada respons dari pemerintah daerah tentang fenomena sosial ini? Kasat Pol PP Hulu Sungai Tengah, Abdul Razak menjelaskan jika pihaknya selalu memonitor para pengemis yang berada di jembatan itu. “Sudah berkali-kali kami data, dan orangnya itu-itu saja,” jelasnya.

Pihaknya tidak bisa melakukan tindakan tegas lebih lanjut karena belum ada tempat pembinaan untuk para pengemis di HST. “Kendalanya adalah tidak ada rumah pembinaan. Jadi kalau ditertibkan biasanya kami hanya mengantar ke rumah masing-masing,” kata Razak.

Satpol PP, ujar Razak, baru akan menertibkan pengemis jika kehadiran mereka di tempat itu mengganggu warga sekitar. “Misalkan panitia masjid di dekat jembatan kewalahan, baru kami turun untuk menindak. Selama belum ada laporan, masih diberi toleransi,” tuntasnya.(dye/ema)

Pengemis cukup banyak di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Bahkan ada satu jembatan yang dijadikan pangkalan bersama untuk menadahkan tangannya.

— Oleh: JAMALUDDIN, Barabai —

Jumat (11/12), belasan pengemis berjejer duduk lesehan di Jembatan Sulaha di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah. Kebanyakan yang mangkal di situ para lansia, dan ibu-ibu membawa serta anaknya.

Para pengemis sebenarnya mangkal di jembatan itu setiap hari. Hanya saja setiap Jumat jumlahnya bertambah tiga kali lipat. “Kalau hari biasa paling banyak 3 orang. Tapi hari Ahad juga banyak. Cuma tak sebanyak hari Jumat,” ungkap seorang warga yang berdomisili di dekat jembatan tersebut.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin, pengemis yang mangkal di tempat itu merupakan warga HST. Hanya saja dari kecamatan yang berbeda. Mereka mangkal sekira pukul 08.00 pagi, dan pulang setelah selesai salat Jumat. “Diantar dan dijemput pakai motor,” cerita salah seorang pengemis.

Penghasilan mereka bisa mencapai ratusan ribu setiap Jumat. Pada hari itu banyak warga yang bersedekah. “Alhamdulillah,” ucapnya bersyukur.

Beberapa pengemis harus membawa anak-anaknya. Mereka mengaku jika tidak dibawa tak ada yang menjaga. “Siang sudah pulang. Jadi tidak lama mangkalnya,” timpal pengemis lain.

Fenomena ini tentu meresahkan. Apalagi jembatan tempat pengemis mangkal adalah fasilitas umum. Bahkan jembatan itu berdekatan dengan sebuah masjid. Kendaraan bermotor lalu lalang di sana.

Membuat keselamatan pengemis dan pengendara terancam jika lengah. “Mereka mangkalnya tepat di pinggir jembatan. Jadi pejalan kaki tidak bisa lewat,” kata Rustam, jemaah yang hendak menunaikan salat Jumat.

Lantas apakah selama ini tidak ada respons dari pemerintah daerah tentang fenomena sosial ini? Kasat Pol PP Hulu Sungai Tengah, Abdul Razak menjelaskan jika pihaknya selalu memonitor para pengemis yang berada di jembatan itu. “Sudah berkali-kali kami data, dan orangnya itu-itu saja,” jelasnya.

Pihaknya tidak bisa melakukan tindakan tegas lebih lanjut karena belum ada tempat pembinaan untuk para pengemis di HST. “Kendalanya adalah tidak ada rumah pembinaan. Jadi kalau ditertibkan biasanya kami hanya mengantar ke rumah masing-masing,” kata Razak.

Satpol PP, ujar Razak, baru akan menertibkan pengemis jika kehadiran mereka di tempat itu mengganggu warga sekitar. “Misalkan panitia masjid di dekat jembatan kewalahan, baru kami turun untuk menindak. Selama belum ada laporan, masih diberi toleransi,” tuntasnya.(dye/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/