alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Dari Lapas Banjarbaru: Satu Sesi Hanya 10 Napi

BANJARBARU – Pelaksanaan pencoblosan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Banjarbaru berjalan kondusif. Ratusan narapidana menuntaskan hak suaranya kemarin di dua TPS khusus di lokasi Lapas.

Dengan menggunakan alur khusus. Total ada 806 narapidana yang mencoblos untuk pemilihan Gubernur Kalsel dan Wali Kota & Wakil Wali Kota Banjarbaru

Menurut Kepala Lapas Banjarbaru, Amico Balalembang bahwa pencoblosan digelar dua kloter. Yakni dari pagi menuju siang, serta dari siang hingga menjelang sore.

“Untuk di Lapas sendiri kita ada dua TPS dengan total DPT (Daftar Pemilih Tetap) berjumlah 806 orang. Mekanisme pencoblosan tidak jauh berbeda dengan TPS pada umumnya, begitupun protokol kesehatannya,” kata Amico kemarin.

Namun yang membedakan, narapidana kata Amico dibagi per sesi. Yang mana setiap sesi pihak Lapas hanya memperbolehkan 10 narapidana untuk masuk ke areal TPS dan dilakukan secara bergantian.

“Karena ada protokol kesehatan dan juga pertimbangan lain, maka hanya 10 orang yang masuk ke TPS. Jadi warga binaan keluar dari blok (tahanan) lalu menuju TPS sesuai giliran, setelah itu balik lagi ke blok,” ceritanya.

Karena ini areal penjara, maka selain petugas keamanan dari pihak Lapas. Sejumlah aparat keamanan dari kepolisian juga diturunkan untuk mengamankan jalannya pemungutan suara.

“Kita sudah punya alur tersendiri, jadi warga binaan ketika keluar blok langsung diarahkan menuju TPS. Secara keseluruhan prosesinya berjalan lancar dan terkendali,” katanya.

Disinggung ihwal apakah ada kendala dari narapidana untuk teknis pemungutan? Amico menjelaskan bahwa sebelumnya telah dilakukan sosialisasi tata cara pencoblosan oleh KPU. Alhasil, para napi terangnya sudah mengerti dengan alurnya.

“Di setiap blok juga sudah kita tempel poster tata cara pencoblosan yang sah dari KPU. Kalau untuk informasi kandidat itu kita tempel di depan TPS, jadi warga binaan bisa melihat paslonnya siapa,” ujarnya.

Karena minim bahkan dilarangnya agenda kampanye di dalam areal Lapas. Amico mengklaim bahwa petugas Lapas yang juga termasuk menjadi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS sudah bersikap netral.

“Kita selalu tekankan jangan ada yang terafilisasi, kita pastikan petugas kami netral. Jadi pilihan warga binaan murni dari pilihan mereka, bukan dipengaruhi atau seperti apa,” tuntasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Pelaksanaan pencoblosan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Banjarbaru berjalan kondusif. Ratusan narapidana menuntaskan hak suaranya kemarin di dua TPS khusus di lokasi Lapas.

Dengan menggunakan alur khusus. Total ada 806 narapidana yang mencoblos untuk pemilihan Gubernur Kalsel dan Wali Kota & Wakil Wali Kota Banjarbaru

Menurut Kepala Lapas Banjarbaru, Amico Balalembang bahwa pencoblosan digelar dua kloter. Yakni dari pagi menuju siang, serta dari siang hingga menjelang sore.

“Untuk di Lapas sendiri kita ada dua TPS dengan total DPT (Daftar Pemilih Tetap) berjumlah 806 orang. Mekanisme pencoblosan tidak jauh berbeda dengan TPS pada umumnya, begitupun protokol kesehatannya,” kata Amico kemarin.

Namun yang membedakan, narapidana kata Amico dibagi per sesi. Yang mana setiap sesi pihak Lapas hanya memperbolehkan 10 narapidana untuk masuk ke areal TPS dan dilakukan secara bergantian.

“Karena ada protokol kesehatan dan juga pertimbangan lain, maka hanya 10 orang yang masuk ke TPS. Jadi warga binaan keluar dari blok (tahanan) lalu menuju TPS sesuai giliran, setelah itu balik lagi ke blok,” ceritanya.

Karena ini areal penjara, maka selain petugas keamanan dari pihak Lapas. Sejumlah aparat keamanan dari kepolisian juga diturunkan untuk mengamankan jalannya pemungutan suara.

“Kita sudah punya alur tersendiri, jadi warga binaan ketika keluar blok langsung diarahkan menuju TPS. Secara keseluruhan prosesinya berjalan lancar dan terkendali,” katanya.

Disinggung ihwal apakah ada kendala dari narapidana untuk teknis pemungutan? Amico menjelaskan bahwa sebelumnya telah dilakukan sosialisasi tata cara pencoblosan oleh KPU. Alhasil, para napi terangnya sudah mengerti dengan alurnya.

“Di setiap blok juga sudah kita tempel poster tata cara pencoblosan yang sah dari KPU. Kalau untuk informasi kandidat itu kita tempel di depan TPS, jadi warga binaan bisa melihat paslonnya siapa,” ujarnya.

Karena minim bahkan dilarangnya agenda kampanye di dalam areal Lapas. Amico mengklaim bahwa petugas Lapas yang juga termasuk menjadi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS sudah bersikap netral.

“Kita selalu tekankan jangan ada yang terafilisasi, kita pastikan petugas kami netral. Jadi pilihan warga binaan murni dari pilihan mereka, bukan dipengaruhi atau seperti apa,” tuntasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/