alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

Hujan dan Covid, Buyarkan Partisipasi Pemilih..?

Partisipasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kalimantan Selatan tahun turun. Terlihat dari rendahnya persentase pemilih di bebeberapa TPS pada pemungutan suara, kemarin (9/12).

Di Banjarbaru misalnya, sejumlah TPS tampak sepi karena partisipasi pemilihnya rendah. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya tempat pemungutan suara selalu ramai didatangi warga yang ingin menggunakan hak suaranya.

Salah satunya di TPS 58, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan. Di sini, persentase pemilih sangat rendah. Yakni, hanya sekitar 50 persen. “Jumlah DPT (daftar pemilih tetap) di sini 406. Tapi yang hadir menggunakan hak pilihnya cuma 198,” kata Anggota KPPS di TPS 058, Bashori Agus.

Dia mengungkapkan, dari 198 pemilih, jumlah surat suara yang sah sebanyak 189. “Karena ada sembilan surat suara yang tidak sah,” ungkapnya.

Berdasarkan jumlah surat suara yang sah, Bashori menyampaikan, pada pemilihan Gubernur Kalsel, pasangan nomor urut 02, Denny Indrayana-Difriadi unggul dengan perolehan 106 suara. “Sedangkan pasangan Sahbirin Noor-Muhidin memperoleh 84 suara,” ucapnya.

Sementara itu, di TPS 007, Kelurahan Komet, Banjarbaru Utara partisipasi pemilih juga rendah: hanya sekitar 70 persen. Jumlah ini berada di bawah target KPU Kalsel: 79 persen.

“Jumlah DPT 261, tapi jumlah suara cuma 190. Jadi partisipasi sekitar 70 sampai 72 persen,” ujar Ketua KPPS di TPS 007, Anton Septiadi.

Dari jumlah itu, dikatakannya, keunggulan diraih pasangan Denny-Difri dengan perolehan 145 suara. Sementara, Sahbirin – Muhidin mendapatkan 45 suara. “Jadi tidak ada suara yang tidak sah,” katanya.

Di sisi lain, terkait rendahnya partisipasi pemilih, Pengamat Sosial Politik dari UIN Antasari, Ani Cahyadi Maseri menuturkan bahwa hal ini sudah diduga sebelumnya. “Saya menduga partisipasi pemilih hanya sekitar 60 persen,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya jumlah pemilih. Faktor utamanya yakni masih mewabahnya Covid-19.

“Faktor lainnya ialah cuaca yang hampir se-Kalsel turun hujan. Serta, faktor money politik yang rendah, sehingga berakibat swing voter cenderung tidak memilih,” ungkapnya.

Lalu apa saja dampaknya apabila persentase pemilih menurun? Dia menjelaskan, hal itu akan berdampak negatif bagi calon yang mengandalkan dukungan pragmatis atau bukan rasional dan emosional. “Dipastikan suaranya akan kecil,” jelasnya.

Namun, bagi calon yang punya pendukung rasional dan emosional atau militan, menurut Ani suaranya bisa konstan. “Jadi turunnya partisipasi ada dampak positifnya juga bagi calon yang punya pendukung rasional dan militan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan, Pengamat Politik dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Gazali Rahman. Menurutnya, turunnya partisipasi di Pilkada Kalsel tahun ini dikarenakan pandemi Covid-19.

“Karena pandemi, pihak penyelenggara dan kandidat tidak bisa maksimal bersosialisasi serta berkampanye. Sehingga, dalam pantauan sementara partisipasi pilkada rendah,” bebernya.

Rendahnya jumlah pemilih menurutnya bisa berdampak kepada suara para calon. “Kalau misal kandidat punya kantong pendukung, tapi di sana tidak banyak yang memberikan suara tentu suaranya akan rendah,” pungkasnya.

KPU Kalsel sendiri menargetkan angka partisipasi pemilih sebesar 79 persen. Lebih tinggi dibanding target secara nasional 77,5 persen. Namun, kenyataannya target ini melorot meski KPU menyatakan belum bisa menyebut persentase.

Komisioner KPU Kalsel Edy Ariansyah mengatakan ada sedikit faktor tak terduga yang menurunkan partisipasi pemilih. “Yakni cuaca yang sempat hujan di kabupaten setempat,” ujar Edy kemarin. Meski dia mengatakan itu hanya terjadi di beberapa wilayah. “Kamu sudah berikhtiar semaksimal mungkin. Semoga target partisipasi tercapai,” harapnya.

Ketua KPU Kalsel Sarmuji menambahkan, terlihat sepinya TPS memang didesain demikian. Karena pemilih yang hendak menggunakan hak pilihnya harus sesuai waktu yang tertera di undangan. “Ini demi meminimalisir terjadinya kerumunan agar tak terjadi penularan Covid-19,” ujarnya.

Meski yakin angka partisipasi tetap tinggi, dia mengakui, jika pun rendah paling berkisar di angka 65 persen. “Kami tetap optimis target partisipasi pemilih akan tercapai,” tandasnya. (ris/mof/ran/ema)

Partisipasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kalimantan Selatan tahun turun. Terlihat dari rendahnya persentase pemilih di bebeberapa TPS pada pemungutan suara, kemarin (9/12).

Di Banjarbaru misalnya, sejumlah TPS tampak sepi karena partisipasi pemilihnya rendah. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya tempat pemungutan suara selalu ramai didatangi warga yang ingin menggunakan hak suaranya.

Salah satunya di TPS 58, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan. Di sini, persentase pemilih sangat rendah. Yakni, hanya sekitar 50 persen. “Jumlah DPT (daftar pemilih tetap) di sini 406. Tapi yang hadir menggunakan hak pilihnya cuma 198,” kata Anggota KPPS di TPS 058, Bashori Agus.

Dia mengungkapkan, dari 198 pemilih, jumlah surat suara yang sah sebanyak 189. “Karena ada sembilan surat suara yang tidak sah,” ungkapnya.

Berdasarkan jumlah surat suara yang sah, Bashori menyampaikan, pada pemilihan Gubernur Kalsel, pasangan nomor urut 02, Denny Indrayana-Difriadi unggul dengan perolehan 106 suara. “Sedangkan pasangan Sahbirin Noor-Muhidin memperoleh 84 suara,” ucapnya.

Sementara itu, di TPS 007, Kelurahan Komet, Banjarbaru Utara partisipasi pemilih juga rendah: hanya sekitar 70 persen. Jumlah ini berada di bawah target KPU Kalsel: 79 persen.

“Jumlah DPT 261, tapi jumlah suara cuma 190. Jadi partisipasi sekitar 70 sampai 72 persen,” ujar Ketua KPPS di TPS 007, Anton Septiadi.

Dari jumlah itu, dikatakannya, keunggulan diraih pasangan Denny-Difri dengan perolehan 145 suara. Sementara, Sahbirin – Muhidin mendapatkan 45 suara. “Jadi tidak ada suara yang tidak sah,” katanya.

Di sisi lain, terkait rendahnya partisipasi pemilih, Pengamat Sosial Politik dari UIN Antasari, Ani Cahyadi Maseri menuturkan bahwa hal ini sudah diduga sebelumnya. “Saya menduga partisipasi pemilih hanya sekitar 60 persen,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya jumlah pemilih. Faktor utamanya yakni masih mewabahnya Covid-19.

“Faktor lainnya ialah cuaca yang hampir se-Kalsel turun hujan. Serta, faktor money politik yang rendah, sehingga berakibat swing voter cenderung tidak memilih,” ungkapnya.

Lalu apa saja dampaknya apabila persentase pemilih menurun? Dia menjelaskan, hal itu akan berdampak negatif bagi calon yang mengandalkan dukungan pragmatis atau bukan rasional dan emosional. “Dipastikan suaranya akan kecil,” jelasnya.

Namun, bagi calon yang punya pendukung rasional dan emosional atau militan, menurut Ani suaranya bisa konstan. “Jadi turunnya partisipasi ada dampak positifnya juga bagi calon yang punya pendukung rasional dan militan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan, Pengamat Politik dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Gazali Rahman. Menurutnya, turunnya partisipasi di Pilkada Kalsel tahun ini dikarenakan pandemi Covid-19.

“Karena pandemi, pihak penyelenggara dan kandidat tidak bisa maksimal bersosialisasi serta berkampanye. Sehingga, dalam pantauan sementara partisipasi pilkada rendah,” bebernya.

Rendahnya jumlah pemilih menurutnya bisa berdampak kepada suara para calon. “Kalau misal kandidat punya kantong pendukung, tapi di sana tidak banyak yang memberikan suara tentu suaranya akan rendah,” pungkasnya.

KPU Kalsel sendiri menargetkan angka partisipasi pemilih sebesar 79 persen. Lebih tinggi dibanding target secara nasional 77,5 persen. Namun, kenyataannya target ini melorot meski KPU menyatakan belum bisa menyebut persentase.

Komisioner KPU Kalsel Edy Ariansyah mengatakan ada sedikit faktor tak terduga yang menurunkan partisipasi pemilih. “Yakni cuaca yang sempat hujan di kabupaten setempat,” ujar Edy kemarin. Meski dia mengatakan itu hanya terjadi di beberapa wilayah. “Kamu sudah berikhtiar semaksimal mungkin. Semoga target partisipasi tercapai,” harapnya.

Ketua KPU Kalsel Sarmuji menambahkan, terlihat sepinya TPS memang didesain demikian. Karena pemilih yang hendak menggunakan hak pilihnya harus sesuai waktu yang tertera di undangan. “Ini demi meminimalisir terjadinya kerumunan agar tak terjadi penularan Covid-19,” ujarnya.

Meski yakin angka partisipasi tetap tinggi, dia mengakui, jika pun rendah paling berkisar di angka 65 persen. “Kami tetap optimis target partisipasi pemilih akan tercapai,” tandasnya. (ris/mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/