alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Inspirasi dari Pedagang Loak: Kalau Hilang, Artinya Sedekah

Jadi pengusaha itu gampang. Saking gampangnya, syaratnya hanya dua: kemauan dan jangan gengsi. Kalau untung, jangan lupa berbagi.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

ITU prinsip Hamdani. Orangnya ramah. Siapa pun yang datang berkunjung ke rumahnya, disambut seulas senyum.

Sudah selama empat bulan ia menggeluti dunia perdagangan barang loak. Dikunjungi di kiosnya kemarin (4/12) siang, lelaki 48 tahun itu tampak santai. Mengisap tembakau sembari menonton televisi.

Kios milik ayah dua anak itu menyatu dengan rumah. Persis di bawah pohon besar nan rindang di pinggir Jalan PM Noor, Banjarmasin Barat.

Seperti yang Anda bayangkan. Kiosnya dijejali barang bekas. Saking penuhnya, untuk duduk perlu menyibak barang-barang yang bergelantungan.

Di kiosnya, Hamdani menjual berbagai macam. Dari barang elektronik, suku cadang motor, hingga gerobak pentol!

“Kalau gerobak ini, ada orang yang menitipkan untuk dijual. Bukan milik saya,” ucapnya seraya terkekeh.

Hamdani sebelumnya peronda malam sukarela di sebuah gudang. Artinya, bila diupah diterima. Bila tidak, pun tak apa-apa.

Namun, ada mulut anak dan istri yang harus dikasih makan. Ia memutar otak, hingga muncul kesimpulan untuk berdagang.

“Waktu itu, menurut saya, membuka usaha tanpa modal ya berjualan barang bekas,” ujarnya.

Ingin membuka usaha lain, masalahnya tak ada modal. “Dari berjualan barang bekas, alhamdulillah perlahan ada rezeki untuk saya sekeluarga,” bebernya.

Dia bahkan masih ingat barang bekas yang pertama kali dijual. Yakni sebuah kipas angin yang dibuang pemiliknya. Teronggok di bak sampah, tak jauh dari rumahnya.

“Saya bersihkan, kemudian saya letakkan begitu saja di depan rumah. Tak lama, ternyata ada yang mengetuk dan menanyakan harganya,” kenangnya.

Hamdani terkesima, kipas angin bekas itu bisa ditawar orang. “Rp75 ribu. Luar biasa bukan? Tanpa pikir panjang, langsung saya jual. Kata si pembeli, baling-balingnya mau dimanfaatkan lagi. Entah buat apa,” lanjutnya.

Dari situ, Hamdani rajin mengumpulkan barang bekas dari bak sampah. Apapun yang menurutnya masih bisa berguna, ia pungut.

“Saya tak pernah menemukan barang yang masih berfungsi. Semuanya rusak,” tukasnya dan terbahak.

Tumpukan demi tumpukan barang bekas pun muncul. Dia mulai mendirikan tiang-tiang layaknya jemuran pakaian di depan rumah. Dipilah dan ditumpuk sesuai jenisnya.

Sejak itu, barang berkas ngantre untuk menghampirinya. Orang-orang menyumbangkan begitu saja. Kalau harus keluar uang, biasanya ia berikan kepada penjual yang tampak tua dan tak mampu.

“Selama ada kemauan dan tidak gengsi, kita bisa kok jadi pengusaha. Dan jangan lupa, bila kecipratan untung, jangan lupa berbagi,” pesannya.

Ditanya harga, terkecuali gerobak pentol tadi, barang-barang lain tidak dipatok harga. Dia juga tidak khawatir bilang ada yang mencuri barang bekasnya. Toh kebanyakan dikasih juga.

“Silakan berikan harga selayaknya. Kalau pun ada yang hilang, anggap saja bersedekah,” tutupnya. (fud/ema)

Jadi pengusaha itu gampang. Saking gampangnya, syaratnya hanya dua: kemauan dan jangan gengsi. Kalau untung, jangan lupa berbagi.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

ITU prinsip Hamdani. Orangnya ramah. Siapa pun yang datang berkunjung ke rumahnya, disambut seulas senyum.

Sudah selama empat bulan ia menggeluti dunia perdagangan barang loak. Dikunjungi di kiosnya kemarin (4/12) siang, lelaki 48 tahun itu tampak santai. Mengisap tembakau sembari menonton televisi.

Kios milik ayah dua anak itu menyatu dengan rumah. Persis di bawah pohon besar nan rindang di pinggir Jalan PM Noor, Banjarmasin Barat.

Seperti yang Anda bayangkan. Kiosnya dijejali barang bekas. Saking penuhnya, untuk duduk perlu menyibak barang-barang yang bergelantungan.

Di kiosnya, Hamdani menjual berbagai macam. Dari barang elektronik, suku cadang motor, hingga gerobak pentol!

“Kalau gerobak ini, ada orang yang menitipkan untuk dijual. Bukan milik saya,” ucapnya seraya terkekeh.

Hamdani sebelumnya peronda malam sukarela di sebuah gudang. Artinya, bila diupah diterima. Bila tidak, pun tak apa-apa.

Namun, ada mulut anak dan istri yang harus dikasih makan. Ia memutar otak, hingga muncul kesimpulan untuk berdagang.

“Waktu itu, menurut saya, membuka usaha tanpa modal ya berjualan barang bekas,” ujarnya.

Ingin membuka usaha lain, masalahnya tak ada modal. “Dari berjualan barang bekas, alhamdulillah perlahan ada rezeki untuk saya sekeluarga,” bebernya.

Dia bahkan masih ingat barang bekas yang pertama kali dijual. Yakni sebuah kipas angin yang dibuang pemiliknya. Teronggok di bak sampah, tak jauh dari rumahnya.

“Saya bersihkan, kemudian saya letakkan begitu saja di depan rumah. Tak lama, ternyata ada yang mengetuk dan menanyakan harganya,” kenangnya.

Hamdani terkesima, kipas angin bekas itu bisa ditawar orang. “Rp75 ribu. Luar biasa bukan? Tanpa pikir panjang, langsung saya jual. Kata si pembeli, baling-balingnya mau dimanfaatkan lagi. Entah buat apa,” lanjutnya.

Dari situ, Hamdani rajin mengumpulkan barang bekas dari bak sampah. Apapun yang menurutnya masih bisa berguna, ia pungut.

“Saya tak pernah menemukan barang yang masih berfungsi. Semuanya rusak,” tukasnya dan terbahak.

Tumpukan demi tumpukan barang bekas pun muncul. Dia mulai mendirikan tiang-tiang layaknya jemuran pakaian di depan rumah. Dipilah dan ditumpuk sesuai jenisnya.

Sejak itu, barang berkas ngantre untuk menghampirinya. Orang-orang menyumbangkan begitu saja. Kalau harus keluar uang, biasanya ia berikan kepada penjual yang tampak tua dan tak mampu.

“Selama ada kemauan dan tidak gengsi, kita bisa kok jadi pengusaha. Dan jangan lupa, bila kecipratan untung, jangan lupa berbagi,” pesannya.

Ditanya harga, terkecuali gerobak pentol tadi, barang-barang lain tidak dipatok harga. Dia juga tidak khawatir bilang ada yang mencuri barang bekasnya. Toh kebanyakan dikasih juga.

“Silakan berikan harga selayaknya. Kalau pun ada yang hilang, anggap saja bersedekah,” tutupnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/