alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Nilai Ekspor Kalsel Akhirnya Naik

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel telah merilis neraca perdagangan selama Oktober 2020. Dalam rilis itu diketahui, nilai ekspor Banua akhirnya naik setelah selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan. Sementara nilai impor justru turun.

Berdasarkan data BPS Kalsel, nilai ekspor Kalsel pada Oktober 2020 tercatat USD352,63 juta. Naik 7,34 persen dibandingkan September 2020 yang hanya USD328,52 juta. Sedangkan, nilai impor mengalami penurunan sebesar 15,59 persen. Dari USD39,75 juta menjadi USD33,56 juta.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, nilai ekspor Banua meningkat lantaran kontribusi kelompok barang utama penyumbang ekspor, yakni bahan bakar mineral mengalami kenaikan.

“Kelompok ini nilai ekspornya naik 10,47 persen. Yakni, dari USD234,29 juta pada bulan September menjadi USD258,66 juta di bulan Oktober,” jelasnya di Kanal Youtube BPS Kalsel, kemarin.

Dia menyampaikan, kelompok bahan bakar mineral cukup memengaruhi nilai ekspor Kalsel, karena selama ini memberikan kontribusi paling besar: 73,35 persen. “Di urutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewan/nabati yang menyumbangkan ekspor USD42,66 juta. Kontribusinya 12,10 persen,” ucapnya.

Terkait negara tujuan ekspor, Edy mengungkapkan pada periode Oktober barang-barang dari Kalsel paling banyak diekspor ke Tiongkok dengan nilai USD74,09 juta. “Nilai ekspor ke Tiongkok ini mengalami kenaikan 29,33 persen dibandingkan September 2020,” ungkapnya.

Selain Tiongkok, dia menyampaikan, ekspor Kalsel ke Jepang pada Oktober juga lumayan tinggi yakni sebesar USD44,65 juta. “India berada di urutan ke tiga dengan nilai ekspor sebesar USD44,43 juta, disusul Pakistan USD34,72 juta dan Malaysia USD32,58 juta,” ucapnya.

Sementara itu, untuk perkembangan impor, Edy menuturkan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada bulan Oktober. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD25,59 juta; mesin-mesin/pesawat mekanik, USD7,03 juta dan kelompok bahan kimia organik sebesar USD0,26 juta.

“Kontribusi dari masing-masing tiga kelompok ini kalau diurut adalah 76,26 persen, 20,94 persen dan 0,78 persen dari total impor Oktober 2020,” ucapnya.

Mengenai impor menurut negara asal, dia merincikan, tertinggi berasal dari Singapura yang mencapai USD25,29 juta. Diikuti Malaysia, USD6,36 juta dan Tiongkok, USD1,02 juta. “Singapura jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 75,35 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya.

Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan, neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada Oktober 2020 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD319,07 juta. “Nilai tersebut lebih besar dibandingkan neraca perdagangan pada bulan September 2020 yang surplus USD288,77 juta,” paparnya.

Menanggapi data dari BPS Kalsel, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani menjelaskan, naiknya nilai ekspor Banua didorong oleh kondisi ekonomi dunia yang mulai bergerak positif.

“Industri manufaktur sudah mulai berproduksi, sehingga permintaan beberapa komoditas bahan baku dari Kalsel semakin meningkat. Seperti Batubara, CPO dan karet alam,” jelasnya.

Di samping itu, dia menuturkan, harga beberapa komoditas di pasar internasional juga mulai membaik, terutama sawit. Sehingga menambah spirit bagi pelaku usaha perkebunan sawit untuk meningkatkan produksinya dan memperluas pasar.

“Kenaikan ekspor juga lantaran lahirnya beberapa produk/komoditi baru non tambang dari Kalsel yang mulai memasuki pasar ekspor, antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), belut dan produk UKM lainnya,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel telah merilis neraca perdagangan selama Oktober 2020. Dalam rilis itu diketahui, nilai ekspor Banua akhirnya naik setelah selama pandemi Covid-19 mengalami penurunan. Sementara nilai impor justru turun.

Berdasarkan data BPS Kalsel, nilai ekspor Kalsel pada Oktober 2020 tercatat USD352,63 juta. Naik 7,34 persen dibandingkan September 2020 yang hanya USD328,52 juta. Sedangkan, nilai impor mengalami penurunan sebesar 15,59 persen. Dari USD39,75 juta menjadi USD33,56 juta.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, nilai ekspor Banua meningkat lantaran kontribusi kelompok barang utama penyumbang ekspor, yakni bahan bakar mineral mengalami kenaikan.

“Kelompok ini nilai ekspornya naik 10,47 persen. Yakni, dari USD234,29 juta pada bulan September menjadi USD258,66 juta di bulan Oktober,” jelasnya di Kanal Youtube BPS Kalsel, kemarin.

Dia menyampaikan, kelompok bahan bakar mineral cukup memengaruhi nilai ekspor Kalsel, karena selama ini memberikan kontribusi paling besar: 73,35 persen. “Di urutan kedua ada kelompok lemak dan minyak hewan/nabati yang menyumbangkan ekspor USD42,66 juta. Kontribusinya 12,10 persen,” ucapnya.

Terkait negara tujuan ekspor, Edy mengungkapkan pada periode Oktober barang-barang dari Kalsel paling banyak diekspor ke Tiongkok dengan nilai USD74,09 juta. “Nilai ekspor ke Tiongkok ini mengalami kenaikan 29,33 persen dibandingkan September 2020,” ungkapnya.

Selain Tiongkok, dia menyampaikan, ekspor Kalsel ke Jepang pada Oktober juga lumayan tinggi yakni sebesar USD44,65 juta. “India berada di urutan ke tiga dengan nilai ekspor sebesar USD44,43 juta, disusul Pakistan USD34,72 juta dan Malaysia USD32,58 juta,” ucapnya.

Sementara itu, untuk perkembangan impor, Edy menuturkan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada bulan Oktober. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD25,59 juta; mesin-mesin/pesawat mekanik, USD7,03 juta dan kelompok bahan kimia organik sebesar USD0,26 juta.

“Kontribusi dari masing-masing tiga kelompok ini kalau diurut adalah 76,26 persen, 20,94 persen dan 0,78 persen dari total impor Oktober 2020,” ucapnya.

Mengenai impor menurut negara asal, dia merincikan, tertinggi berasal dari Singapura yang mencapai USD25,29 juta. Diikuti Malaysia, USD6,36 juta dan Tiongkok, USD1,02 juta. “Singapura jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 75,35 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya.

Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan, neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada Oktober 2020 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD319,07 juta. “Nilai tersebut lebih besar dibandingkan neraca perdagangan pada bulan September 2020 yang surplus USD288,77 juta,” paparnya.

Menanggapi data dari BPS Kalsel, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani menjelaskan, naiknya nilai ekspor Banua didorong oleh kondisi ekonomi dunia yang mulai bergerak positif.

“Industri manufaktur sudah mulai berproduksi, sehingga permintaan beberapa komoditas bahan baku dari Kalsel semakin meningkat. Seperti Batubara, CPO dan karet alam,” jelasnya.

Di samping itu, dia menuturkan, harga beberapa komoditas di pasar internasional juga mulai membaik, terutama sawit. Sehingga menambah spirit bagi pelaku usaha perkebunan sawit untuk meningkatkan produksinya dan memperluas pasar.

“Kenaikan ekspor juga lantaran lahirnya beberapa produk/komoditi baru non tambang dari Kalsel yang mulai memasuki pasar ekspor, antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), belut dan produk UKM lainnya,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/