alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Kapan Sekolah Dibuka..? Keputusan Belum Final

BANJARMASIN – Pembukaan sekolah hingga pembelajaran tatap muka di Banjarmasin belum menemui keputusan final.

Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah menilai, rencana pembukaan sekolah di masa pandemi masih menuai pro dan kontra.

“Satu sisi, para orang tua menginginkan agar sekolah kembali dibuka. Karena anak-anak sudah jenuh. Sisi lain, ada pula orang tua yang tidak mau sekolah dibuka karena khawatir,” ucapnya.

Untuk itu, Hermansyah menekankan perlunya kajian mendalam. Sebelum memutuskan apakah sekolah dapat kembali dibuka atau belum.

“Nanti bersama gugus tugas dan Dinas Pendidikan kembali duduk satu meja. Agar pas sekolah benar-benar dibuka, tidak menimbulkan polemik baru,” janjinya.

Sebelumnya, Jumat (23/10) lalu di Balai Kota, Disdik dan Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin.

Agendanya, membahas rencana pembukaan sekolah di ibu kota provinsi ini. Hasilnya? Positif. Rekomendasi bisa diperoleh asalkan sekolah memenuhi prosedur yang disyaratkan gugas.

Kepala Disdik Banjarmasin, Totok Agus Daryanto menekankan, saat ini pihaknya masih dalam tahap persiapan. Dan kemungkinan, pembukaan sekolah hingga pelajaran tatap muka bisa pada pekan kedua bulan November.

Kendati ada rencana demikian, Totok menegaskan, ini baru ancang-ancang. Sebab belum ada lampu hijau dari wali kota.

Kemudian, mengacu pada surat keputusan bersama empat menteri, ada prosedur yang harus dijalankan sekolah. Agar boleh kembali belajar tatap muka, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi Disdik dan sekolah.

Misalnya, menyediakan tempat cuci tangan, membuat jarak antar kursi siswa, kantin tidak dibuka, dan pelajaran hanya selama empat jam dengan jeda sekali istirahat.

“Saat persiapan nanti gugas akan kunjungan. Dari situ baru ketahuan, apakah sekolah bersangkutan sudah boleh dibuka atau belum,” terang Totok.

Intinya, antara belajar di tengah pandemi dan belajar di masa normal adalah perkara yang sangat berbeda. Budaya sekolah pun harus berubah.

Misalkan kebiasaan mencium tangan guru ketika hendak membubarkan kelas. Kali ini, kontak fisik dilarang.

Di sisi lain. Sekali lagi, sebelum dibuka, kepala sekolah juga harus mengantongi izin dulu. Terutama, izin dari orang tua atau wali murid.

“Yang direncanakan untuk tingkat SMP dulu. Sekali lagi, masih persiapan dulu. Untuk tingkat SD, seusai rapat disepakati bahwa tetap mengacu pada keputusan awal, yakni tahun 2021,” tuntasnya. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Pembukaan sekolah hingga pembelajaran tatap muka di Banjarmasin belum menemui keputusan final.

Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah menilai, rencana pembukaan sekolah di masa pandemi masih menuai pro dan kontra.

“Satu sisi, para orang tua menginginkan agar sekolah kembali dibuka. Karena anak-anak sudah jenuh. Sisi lain, ada pula orang tua yang tidak mau sekolah dibuka karena khawatir,” ucapnya.

Untuk itu, Hermansyah menekankan perlunya kajian mendalam. Sebelum memutuskan apakah sekolah dapat kembali dibuka atau belum.

“Nanti bersama gugus tugas dan Dinas Pendidikan kembali duduk satu meja. Agar pas sekolah benar-benar dibuka, tidak menimbulkan polemik baru,” janjinya.

Sebelumnya, Jumat (23/10) lalu di Balai Kota, Disdik dan Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin.

Agendanya, membahas rencana pembukaan sekolah di ibu kota provinsi ini. Hasilnya? Positif. Rekomendasi bisa diperoleh asalkan sekolah memenuhi prosedur yang disyaratkan gugas.

Kepala Disdik Banjarmasin, Totok Agus Daryanto menekankan, saat ini pihaknya masih dalam tahap persiapan. Dan kemungkinan, pembukaan sekolah hingga pelajaran tatap muka bisa pada pekan kedua bulan November.

Kendati ada rencana demikian, Totok menegaskan, ini baru ancang-ancang. Sebab belum ada lampu hijau dari wali kota.

Kemudian, mengacu pada surat keputusan bersama empat menteri, ada prosedur yang harus dijalankan sekolah. Agar boleh kembali belajar tatap muka, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi Disdik dan sekolah.

Misalnya, menyediakan tempat cuci tangan, membuat jarak antar kursi siswa, kantin tidak dibuka, dan pelajaran hanya selama empat jam dengan jeda sekali istirahat.

“Saat persiapan nanti gugas akan kunjungan. Dari situ baru ketahuan, apakah sekolah bersangkutan sudah boleh dibuka atau belum,” terang Totok.

Intinya, antara belajar di tengah pandemi dan belajar di masa normal adalah perkara yang sangat berbeda. Budaya sekolah pun harus berubah.

Misalkan kebiasaan mencium tangan guru ketika hendak membubarkan kelas. Kali ini, kontak fisik dilarang.

Di sisi lain. Sekali lagi, sebelum dibuka, kepala sekolah juga harus mengantongi izin dulu. Terutama, izin dari orang tua atau wali murid.

“Yang direncanakan untuk tingkat SMP dulu. Sekali lagi, masih persiapan dulu. Untuk tingkat SD, seusai rapat disepakati bahwa tetap mengacu pada keputusan awal, yakni tahun 2021,” tuntasnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/