alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Trik Ampuh Menghadapi Titik Jenuh Belajar Dari Rumah

Pada masa pandemi Covid-19, guru dituntut mampu melaksanakan pembelajaran dari rumah. Kebijakan physical distancing yang dikeluarkan pemerintah demi menghindari munculnya cluster baru dalam penyebaran virus corona di lingkungan sekolah mengharuskan siswa harus mengikuti proses belajar dari rumah (BDR).

==================
Oleh: Marnawati S.Pd
Guru SMPN 5 Kusan Hilir, Tanah Bumbu
==================

BDR ini sudah berlangsung sejak bulan Maret 2020 hingga saat ini. Covid-19 telah merenggut kemerdekaan anak-anak untuk belajar dan bermain di sekolah. Kegiatan belajar dari rumah tanpa hadirnya tenaga pengajar dan teman kelas di ruangan yang sama berpotensi membuat anak kerap bosan dan menolak belajar. Tak sedikit guru yang mendapat keluhan orang tua peserta didik tentang kondisi anak yang enggan untuk belajar. Sehingga tugas sekolah bisa menumpuk setiap harinya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Deputi Tumbuh Kembang Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI mengatakan dari 4.000 anak yang disurvei, ternyata 50 persen anak sudah mengalami kebosanan belajar di rumahnya. Agar situasi ini tak membuat anak semakin stress, maka sebaiknya guru punya trik agar anak kembali semangat menjalani BDR. Berikut trik ampuh yang bisa diterapkan dalam menghadapi titik jenuh BDR agar suasana belajar di rumah kembali menyenangkan.

Pertama, guru harus memberikan pembelajaran yang bermakna (meaningfull). Belajar tidak hanya dibatasi dengan kemampuan kognitif hafalan belaka yang sebagian masyarakat masih beranggapan anak yang cerdas adalah anak yang nilai kognitifnya bagus. Padahal dengan mengejar kemampuan kognitif belaka, maka pemikiran anak didik tidaklah berkembang. Namun, belajar yang bermakna (meaningfull) adalah proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Maka carilah pembelajaran yang bermakna bagi mereka dengan cara sering memberikan pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana”, dan “apa” yang bisa memancing keingintahuan anak didik.

Kedua, guru memberi ice breaking yang menyenangkan. Ice breaking tidak hanya dihadirkan saat di ruang kelas, namun saat PJJ pun bisa dilakukan. Dengan hadirnya ice breaking sangat bermanfaat dalam mencairkan situasi pembelajaran di grup yang tadinya kaku dan membosankan menjadi ceria dan menyenangkan. Banyak contoh ice breaking virtual yang bisa digunakan, misalnya situs www.ProProfs.com. Situs ini menyediakan brain games seperti tebak gambar, teka-teki, cari kata dan lain-lain.

Ketiga, guru harus kreatif membuat media pembelajaran. Menurut Hamalik (1986) bahwa media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat mengakibatkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan belajar, dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa. Tentu poin ini memiliki peran yang sangat utama dalam pembelajaran jarak jauh. Guru bisa menggunakan tatap muka virtual melalui teleconference untuk melepas rasa kangen anak didik dengan guru dan teman-temannya. Dalam media pembelajaran, guru bisa mengunggah foto anak didiknya sehingga mereka akan merasa dihargai.

Keempat, guru bisa memberi hadiah. Salah satu cara untuk memotivasi anak belajar adalah dengan iming-iming hadiah. Hadiah yang bisa diberikan tidaklah harus mahal. Secara psikologis, mereka akan sangat dihargai dengan pemberian hadiah dari gurunya. Contoh, anak yang mengerjakan tugas tepat waktu akan mendapatkan hadiah. Hadiah bisa berupa pulsa, alat tulis menulis atau yang lainnya. Jangan lupa, siapa pun yang mendapatkan hadiah, wajib diumumkan sehingga anak didik yang lain ikut termotivasi.

Jadi, menghadapi titik jenuh anak dalam proses BDR, guru sebaiknya harus selalu berinovasi mencari cara agar pembelajaran tetap berlangsung menyenangkan. Dengan membuat anak nyaman, senang, dan santai dalam belajar maka dapat memperkuat sistem imun menghadapi pandemi Covid-19 saat ini. Semoga proses BDR ini bisa dijadikan ajang untuk mempererat tali silaturahmi antara guru, orang tua, dan anak didik. (*)

Pada masa pandemi Covid-19, guru dituntut mampu melaksanakan pembelajaran dari rumah. Kebijakan physical distancing yang dikeluarkan pemerintah demi menghindari munculnya cluster baru dalam penyebaran virus corona di lingkungan sekolah mengharuskan siswa harus mengikuti proses belajar dari rumah (BDR).

==================
Oleh: Marnawati S.Pd
Guru SMPN 5 Kusan Hilir, Tanah Bumbu
==================

BDR ini sudah berlangsung sejak bulan Maret 2020 hingga saat ini. Covid-19 telah merenggut kemerdekaan anak-anak untuk belajar dan bermain di sekolah. Kegiatan belajar dari rumah tanpa hadirnya tenaga pengajar dan teman kelas di ruangan yang sama berpotensi membuat anak kerap bosan dan menolak belajar. Tak sedikit guru yang mendapat keluhan orang tua peserta didik tentang kondisi anak yang enggan untuk belajar. Sehingga tugas sekolah bisa menumpuk setiap harinya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Deputi Tumbuh Kembang Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI mengatakan dari 4.000 anak yang disurvei, ternyata 50 persen anak sudah mengalami kebosanan belajar di rumahnya. Agar situasi ini tak membuat anak semakin stress, maka sebaiknya guru punya trik agar anak kembali semangat menjalani BDR. Berikut trik ampuh yang bisa diterapkan dalam menghadapi titik jenuh BDR agar suasana belajar di rumah kembali menyenangkan.

Pertama, guru harus memberikan pembelajaran yang bermakna (meaningfull). Belajar tidak hanya dibatasi dengan kemampuan kognitif hafalan belaka yang sebagian masyarakat masih beranggapan anak yang cerdas adalah anak yang nilai kognitifnya bagus. Padahal dengan mengejar kemampuan kognitif belaka, maka pemikiran anak didik tidaklah berkembang. Namun, belajar yang bermakna (meaningfull) adalah proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Maka carilah pembelajaran yang bermakna bagi mereka dengan cara sering memberikan pertanyaan “mengapa” atau “bagaimana”, dan “apa” yang bisa memancing keingintahuan anak didik.

Kedua, guru memberi ice breaking yang menyenangkan. Ice breaking tidak hanya dihadirkan saat di ruang kelas, namun saat PJJ pun bisa dilakukan. Dengan hadirnya ice breaking sangat bermanfaat dalam mencairkan situasi pembelajaran di grup yang tadinya kaku dan membosankan menjadi ceria dan menyenangkan. Banyak contoh ice breaking virtual yang bisa digunakan, misalnya situs www.ProProfs.com. Situs ini menyediakan brain games seperti tebak gambar, teka-teki, cari kata dan lain-lain.

Ketiga, guru harus kreatif membuat media pembelajaran. Menurut Hamalik (1986) bahwa media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat mengakibatkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan belajar, dan bahkan membawa pengaruh psikologis terhadap siswa. Tentu poin ini memiliki peran yang sangat utama dalam pembelajaran jarak jauh. Guru bisa menggunakan tatap muka virtual melalui teleconference untuk melepas rasa kangen anak didik dengan guru dan teman-temannya. Dalam media pembelajaran, guru bisa mengunggah foto anak didiknya sehingga mereka akan merasa dihargai.

Keempat, guru bisa memberi hadiah. Salah satu cara untuk memotivasi anak belajar adalah dengan iming-iming hadiah. Hadiah yang bisa diberikan tidaklah harus mahal. Secara psikologis, mereka akan sangat dihargai dengan pemberian hadiah dari gurunya. Contoh, anak yang mengerjakan tugas tepat waktu akan mendapatkan hadiah. Hadiah bisa berupa pulsa, alat tulis menulis atau yang lainnya. Jangan lupa, siapa pun yang mendapatkan hadiah, wajib diumumkan sehingga anak didik yang lain ikut termotivasi.

Jadi, menghadapi titik jenuh anak dalam proses BDR, guru sebaiknya harus selalu berinovasi mencari cara agar pembelajaran tetap berlangsung menyenangkan. Dengan membuat anak nyaman, senang, dan santai dalam belajar maka dapat memperkuat sistem imun menghadapi pandemi Covid-19 saat ini. Semoga proses BDR ini bisa dijadikan ajang untuk mempererat tali silaturahmi antara guru, orang tua, dan anak didik. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/