alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Di Kalsel, Impor Mulai Naik, Ekspor Lesu

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel telah merilis nilai ekspor dan impor selama September 2020. Dalam rilis itu diketahui, nilai impor mulai naik sementara ekspor masih mengalami penurunan.

Berdasarkan data BPS Kalsel, nilai ekspor Kalsel pada September 2020 tercatat USD328,65 juta. Turun 3,42 persen dibandingkan Agustus 2020 yang mencapai USD340,28 juta. Sedangkan, nilai impor mengalami kenaikan sebesar 66,15 persen. Dari USD23,93 juta menjadi USD39,75 juta.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, khusus untuk ekspor, nilainya masih turun lantaran kontribusi kelompok barang utama penyumbang ekspor: bahan bakar mineral kembali mengalami penurunan.

“Kelompok bahan bakar mineral nilai ekspornya turun 5,53 persen. Yakni, dari USD247,96 juta di bulan Agustus menjadi USD234,29 juta pada bulan September,” jelasnya.

Dia menyampaikan, kelompok bahan bakar mineral cukup memengaruhi nilai ekspor Kalsel, karena selama ini memberikan kontribusi paling besar. “Kontribusi kelompok ini 71,29 persen,” ucapnya.

Beruntung, masih ada kelompok lain yang mengalami kenaikan nilai ekspor. Diantaranya, lemak dan minyak hewan/nabati, pada September 2020 menyumbangkan USD39,81 juta. Naik 27,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kelompok kayu dan barang dari kayu nilai ekspornya juga naik, yakni 9,25 persen. Dengan andil USD21,34 juta pada bulan September,” beber Edy.

Terkait negara tujuan ekspor, Edy mengungkapkan pada periode September barang-barang dari Kalsel paling banyak diekspor ke India dengan nilai USD62,38 juta. “Nilai ekspor ke India ini mengalami kenaikan 78,58 persen dibandingkan Agustus 2020,” ungkapnya.

Selain India, dia menyampaikan, ekspor Kalsel ke Tiongkok pada September juga lumayan tinggi yakni sebesar USD57,28 juta. “Pakistan berada di urutan ke tiga dengan nilai ekspor sebesar USD37,70 juta, disusul Malaysia USD26,96 juta dan Jepang USD26,54 juta,” ucapnya.

Sementara itu, untuk perkembangan impor, Edy menuturkan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada bulan September. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD19,93 juta; mesin-mesin/pesawat mekanik, USD11,87 juta dan kelompon kapal laut sebesar USD6,37 juta.

“Kontribusi dari masing-masing tiga kelompok ini kalau diurut adalah 50,14 persen, 29,86 persen dan 16,02 persen dari total impor September 2020,” ucapnya.

Mengenai impor menurut negara asal, Edy merincikan, tertinggi berasal dari Singapura yang mencapai USD21,68 juta. Diikuti Malaysia, USD8,70 juta dan Tiongkok, USD5,15 juta. “Singapura jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 54,54 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya.

Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan meski impor masih mengalami penurunan namun neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada September 2020 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD288,90 juta. “Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan neraca perdagangan pada bulan Agustus 2020 yang surplus USD316,35 juta,” paparnya.

Menanggapi data dari BPS Kalsel, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani menjelaskan, turunnya angka ekspor Kalsel tidak lepas dari kondisi pandemi Covid-19 yang menimpa hampir seluruh dunia. “Termasuk negara tujuan ekspor utama Kalsel. Seperti Tiongkok,” jelasnya.

Dia berharap, pandemi segera berakhir. Agar aktivitas ekspor Kalsel dapat menggeliat kembali, karena tingginya permintaan negara-negara tujuan ekspor. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel telah merilis nilai ekspor dan impor selama September 2020. Dalam rilis itu diketahui, nilai impor mulai naik sementara ekspor masih mengalami penurunan.

Berdasarkan data BPS Kalsel, nilai ekspor Kalsel pada September 2020 tercatat USD328,65 juta. Turun 3,42 persen dibandingkan Agustus 2020 yang mencapai USD340,28 juta. Sedangkan, nilai impor mengalami kenaikan sebesar 66,15 persen. Dari USD23,93 juta menjadi USD39,75 juta.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, khusus untuk ekspor, nilainya masih turun lantaran kontribusi kelompok barang utama penyumbang ekspor: bahan bakar mineral kembali mengalami penurunan.

“Kelompok bahan bakar mineral nilai ekspornya turun 5,53 persen. Yakni, dari USD247,96 juta di bulan Agustus menjadi USD234,29 juta pada bulan September,” jelasnya.

Dia menyampaikan, kelompok bahan bakar mineral cukup memengaruhi nilai ekspor Kalsel, karena selama ini memberikan kontribusi paling besar. “Kontribusi kelompok ini 71,29 persen,” ucapnya.

Beruntung, masih ada kelompok lain yang mengalami kenaikan nilai ekspor. Diantaranya, lemak dan minyak hewan/nabati, pada September 2020 menyumbangkan USD39,81 juta. Naik 27,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kelompok kayu dan barang dari kayu nilai ekspornya juga naik, yakni 9,25 persen. Dengan andil USD21,34 juta pada bulan September,” beber Edy.

Terkait negara tujuan ekspor, Edy mengungkapkan pada periode September barang-barang dari Kalsel paling banyak diekspor ke India dengan nilai USD62,38 juta. “Nilai ekspor ke India ini mengalami kenaikan 78,58 persen dibandingkan Agustus 2020,” ungkapnya.

Selain India, dia menyampaikan, ekspor Kalsel ke Tiongkok pada September juga lumayan tinggi yakni sebesar USD57,28 juta. “Pakistan berada di urutan ke tiga dengan nilai ekspor sebesar USD37,70 juta, disusul Malaysia USD26,96 juta dan Jepang USD26,54 juta,” ucapnya.

Sementara itu, untuk perkembangan impor, Edy menuturkan, ada tiga kelompok barang yang mempunyai nilai impor tertinggi pada bulan September. Yakni, bahan bakar mineral sebesar USD19,93 juta; mesin-mesin/pesawat mekanik, USD11,87 juta dan kelompon kapal laut sebesar USD6,37 juta.

“Kontribusi dari masing-masing tiga kelompok ini kalau diurut adalah 50,14 persen, 29,86 persen dan 16,02 persen dari total impor September 2020,” ucapnya.

Mengenai impor menurut negara asal, Edy merincikan, tertinggi berasal dari Singapura yang mencapai USD21,68 juta. Diikuti Malaysia, USD8,70 juta dan Tiongkok, USD5,15 juta. “Singapura jadi yang tertinggi karena kontribusi impornya mencapai 54,54 persen, dari total nilai impor Kalsel,” rincinya.

Dari data-data nilai eskpor dan impor, dia menuturkan meski impor masih mengalami penurunan namun neraca perdagangan ekspor impor Kalsel pada September 2020 menunjukkan nilai yang positif. Yakni, surplus sebesar USD288,90 juta. “Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan neraca perdagangan pada bulan Agustus 2020 yang surplus USD316,35 juta,” paparnya.

Menanggapi data dari BPS Kalsel, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani menjelaskan, turunnya angka ekspor Kalsel tidak lepas dari kondisi pandemi Covid-19 yang menimpa hampir seluruh dunia. “Termasuk negara tujuan ekspor utama Kalsel. Seperti Tiongkok,” jelasnya.

Dia berharap, pandemi segera berakhir. Agar aktivitas ekspor Kalsel dapat menggeliat kembali, karena tingginya permintaan negara-negara tujuan ekspor. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/