alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Risiko Anak jadi OTG Tinggi, IDAI: Tunda Dulu Sekolah Tatap Muka

BANJARBARU – Pagebluk Covid-19 di Kota Banjarbaru yang belum melandai membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) masih digelar secara daring. Meskipun di satu sisi, sebagian orang tua menginginkan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) dilakukan.

Rencana PTM ini sendiri merebak usai pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan melakui SKB tiga menteri. Dengan catatan sekolah harus berada di zona hijau, protokol ketat serta mendapat restu orang tua.

Di Kota Banjarbaru, Pemko memastikan PTM belum bisa digelar. Pertimbangannya, kasus masih terjadi yang juga membuat status Banjarbaru belum masuk zona yang diperbolehkan menggelar PTM.

“Zona kita masih oranye untuk Kota Banjarbaru walau memang ada kelurahan yang zonanya kuning dan hijau, tapi acuan kita zona kota keseluruhan,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarbaru, M Aswan.

Selain status zona, pertimbangan lain kata Aswan juga kepada restu atau persetujuan orang tua murid. Sebab syarat utama PTM bisa digelar adanya kesepakatan antara orang tua atau wali murid dengan pihak sekolah.

“Harus melalui izin orang tua, itu syarat pokok. Maka dari itu, kami terus menyiapkan beberapa sekolah untuk persiapan PTM ini apabila nanti bisa digelar. Hal ini juga untuk meyakinkan orang tua bahwa protokol di sekolah sudah matang,” katanya.

Rupanya, selain pertimbangan-pertimbangan tadi. Kadisdik juga mengatakan bahwa pihaknya juga telah mendapatkan saran oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalsel terkait PTM di Banjarbaru.

Aswan mengatakan bahwa beberapa waktu lalu ia berkomunikasi langsung dengan Ketua IDAI Kalsel. Yang mana disebutnya bahwa IDAI Kalsel menyarankan agar PTM ditunda terlebih dahulu karena situasi masih pandemi.

“Jadi ketua IDAI Kalsel langsung menelpon saya dan menyarankan agar PTM sebaiknya ditunda dahulu. Karena saat itu pihak IDAI mendapat informasi jika Banjarbaru bakal PTM, padahal kita belum PTM namun sedang menyiapkan kesiapannya,” cerita Aswan.

Memang saran dari IDAI ini kata Aswan juga sangat penting. Sebab IDAI katanya juga salah satu stakeholder dalam mempertimbangakan PTM digelar atau tidak.

“Menurut pihak IDAI, anak-anak tergolong rawan tertular. Karena tingkat risiko ini maka anak-anak  disebut cenderung punya imun yang kuat namun bakal menjadi OTG dan ini berpotensi menularkan kepada guru atau orang tua mereka,” tutur Aswan.

Ke depannya, Disdik dalam hal ini kata Aswan juga akan menggelar rapat dengan stakeholder terkait, termasuk dari IDAI Kalsel. “Sembari menunggu status zona kita jadi sesuai kriteria, kini kami terus menyiapkan kesiapannya,” sambungnya.

Lalu bagaimana kondisi pembelajaran di sekolah Banjarbaru sekarang? Aswan mengatakan jika Disdik dalam hal ini meminta tiap-tiap sekolah untuk mengambil kebijakan yang adaptif dengan mengedepankan protokol kesehatan.

“Sifatnya kebijakan yang adaptif. Misalnya jika daring terkendala maka ada pilihan luring terbatang. Karena memang ada beberapa wilayah yang terkendala, inu kita minta kebijakan sekolah yang adaptif tapi tetap dengan protokol kesehatan,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Pagebluk Covid-19 di Kota Banjarbaru yang belum melandai membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) masih digelar secara daring. Meskipun di satu sisi, sebagian orang tua menginginkan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) dilakukan.

Rencana PTM ini sendiri merebak usai pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan melakui SKB tiga menteri. Dengan catatan sekolah harus berada di zona hijau, protokol ketat serta mendapat restu orang tua.

Di Kota Banjarbaru, Pemko memastikan PTM belum bisa digelar. Pertimbangannya, kasus masih terjadi yang juga membuat status Banjarbaru belum masuk zona yang diperbolehkan menggelar PTM.

“Zona kita masih oranye untuk Kota Banjarbaru walau memang ada kelurahan yang zonanya kuning dan hijau, tapi acuan kita zona kota keseluruhan,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarbaru, M Aswan.

Selain status zona, pertimbangan lain kata Aswan juga kepada restu atau persetujuan orang tua murid. Sebab syarat utama PTM bisa digelar adanya kesepakatan antara orang tua atau wali murid dengan pihak sekolah.

“Harus melalui izin orang tua, itu syarat pokok. Maka dari itu, kami terus menyiapkan beberapa sekolah untuk persiapan PTM ini apabila nanti bisa digelar. Hal ini juga untuk meyakinkan orang tua bahwa protokol di sekolah sudah matang,” katanya.

Rupanya, selain pertimbangan-pertimbangan tadi. Kadisdik juga mengatakan bahwa pihaknya juga telah mendapatkan saran oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalsel terkait PTM di Banjarbaru.

Aswan mengatakan bahwa beberapa waktu lalu ia berkomunikasi langsung dengan Ketua IDAI Kalsel. Yang mana disebutnya bahwa IDAI Kalsel menyarankan agar PTM ditunda terlebih dahulu karena situasi masih pandemi.

“Jadi ketua IDAI Kalsel langsung menelpon saya dan menyarankan agar PTM sebaiknya ditunda dahulu. Karena saat itu pihak IDAI mendapat informasi jika Banjarbaru bakal PTM, padahal kita belum PTM namun sedang menyiapkan kesiapannya,” cerita Aswan.

Memang saran dari IDAI ini kata Aswan juga sangat penting. Sebab IDAI katanya juga salah satu stakeholder dalam mempertimbangakan PTM digelar atau tidak.

“Menurut pihak IDAI, anak-anak tergolong rawan tertular. Karena tingkat risiko ini maka anak-anak  disebut cenderung punya imun yang kuat namun bakal menjadi OTG dan ini berpotensi menularkan kepada guru atau orang tua mereka,” tutur Aswan.

Ke depannya, Disdik dalam hal ini kata Aswan juga akan menggelar rapat dengan stakeholder terkait, termasuk dari IDAI Kalsel. “Sembari menunggu status zona kita jadi sesuai kriteria, kini kami terus menyiapkan kesiapannya,” sambungnya.

Lalu bagaimana kondisi pembelajaran di sekolah Banjarbaru sekarang? Aswan mengatakan jika Disdik dalam hal ini meminta tiap-tiap sekolah untuk mengambil kebijakan yang adaptif dengan mengedepankan protokol kesehatan.

“Sifatnya kebijakan yang adaptif. Misalnya jika daring terkendala maka ada pilihan luring terbatang. Karena memang ada beberapa wilayah yang terkendala, inu kita minta kebijakan sekolah yang adaptif tapi tetap dengan protokol kesehatan,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/