alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

WADUH KOK GINI..!! Ikut Demo, Beasiswa Terancam Dicabut, Begini Alasan Pihak Kampus…

SETIAP unjuk rasa mahasiswa digelar di Banjarmasin, ada tiga perguruan tinggi yang menjadi pelopor. Tampil di depan dan dominan dalam jumlah massa.

Yaitu Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, dan Universitas Islam Kalimantan (Uniska).

Belakangan, terdengar kabar, bahwa ada kampus yang coba membungkam mahasiswa. Melarang mereka berdemonstrasi. Sumber itu menyebut Uniska.

Bahwa petinggi universitas mengancam mencabut beasiswa Bidikmisi yang diterima mahasiswa apabila mengikuti aksi unjuk rasa penolakan Omnibus Law Cipta Kerja.

Sampai berita ini ditulis, dalam upaya konfirmasi, Rektor Uniska Prof Abdul Malik belum memberikan jawaban. Tapi staf bidang kemahasiswaan, Fardian membantah jika ini disebut sebagai upaya pelarangan apalagi pembungkaman.

“Sebetulnya, lebih kepada mengkhawatirkan mereka. Bukan melarang atau tidak membolehkan mahasiswa berunjuk rasa,” ujarnya via sambungan telepon, (20/10).

Apa yang dikhawatirkan? Lebih khusus, ia menyebut kemungkinan aksi yang berakhir ricuh. Seperti di kota-kota besar lainnya.

“Ditakutkan mahasiswa yang ikut demo terkena masalah. Lebih-lebih, bila satu peserta Bidikmisi terkena masalah, maka seluruh angkatannya akan terkena imbasnya,” tambahnya.

Tentu saja, ini bukan kebijakan pemerintah pusat, dalam hal ini Ristekdikti. Melainkan kebijakan yang dibuat masing-masing kampus. Khusus di Uniska, berlaku untuk seluruh angkatan penerima Bidikmisi.

Lantas, bagaimana bila ada penerima Bidikmisi yang nekat? Fardian mengaku hanya bisa mengimbau. “Soal kebijakan ada pada atasan. Bisa diberikan peringatan atau semacamnya. Bukan langsung dihentikan beasiswanya,” tutupnya.

Sumber anonim Radar Banjarmasin mengatakan, imbauan itu disebarkan dalam grup-grup WhatsApp mahasiswa penerima beasiswa. “Memang tidak berupa pengumuman tertulis,” bisiknya.

Sementara itu, Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Uniska, Padliansyah mengaku belum mendengarnya. “Kalau ada, kami kaji lebih dulu,” ujarnya sesuai berdemo. (war/fud/ema)

SETIAP unjuk rasa mahasiswa digelar di Banjarmasin, ada tiga perguruan tinggi yang menjadi pelopor. Tampil di depan dan dominan dalam jumlah massa.

Yaitu Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, dan Universitas Islam Kalimantan (Uniska).

Belakangan, terdengar kabar, bahwa ada kampus yang coba membungkam mahasiswa. Melarang mereka berdemonstrasi. Sumber itu menyebut Uniska.

Bahwa petinggi universitas mengancam mencabut beasiswa Bidikmisi yang diterima mahasiswa apabila mengikuti aksi unjuk rasa penolakan Omnibus Law Cipta Kerja.

Sampai berita ini ditulis, dalam upaya konfirmasi, Rektor Uniska Prof Abdul Malik belum memberikan jawaban. Tapi staf bidang kemahasiswaan, Fardian membantah jika ini disebut sebagai upaya pelarangan apalagi pembungkaman.

“Sebetulnya, lebih kepada mengkhawatirkan mereka. Bukan melarang atau tidak membolehkan mahasiswa berunjuk rasa,” ujarnya via sambungan telepon, (20/10).

Apa yang dikhawatirkan? Lebih khusus, ia menyebut kemungkinan aksi yang berakhir ricuh. Seperti di kota-kota besar lainnya.

“Ditakutkan mahasiswa yang ikut demo terkena masalah. Lebih-lebih, bila satu peserta Bidikmisi terkena masalah, maka seluruh angkatannya akan terkena imbasnya,” tambahnya.

Tentu saja, ini bukan kebijakan pemerintah pusat, dalam hal ini Ristekdikti. Melainkan kebijakan yang dibuat masing-masing kampus. Khusus di Uniska, berlaku untuk seluruh angkatan penerima Bidikmisi.

Lantas, bagaimana bila ada penerima Bidikmisi yang nekat? Fardian mengaku hanya bisa mengimbau. “Soal kebijakan ada pada atasan. Bisa diberikan peringatan atau semacamnya. Bukan langsung dihentikan beasiswanya,” tutupnya.

Sumber anonim Radar Banjarmasin mengatakan, imbauan itu disebarkan dalam grup-grup WhatsApp mahasiswa penerima beasiswa. “Memang tidak berupa pengumuman tertulis,” bisiknya.

Sementara itu, Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Uniska, Padliansyah mengaku belum mendengarnya. “Kalau ada, kami kaji lebih dulu,” ujarnya sesuai berdemo. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/