alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Demo Jilid III: Biar Sedikit, Asal Militan

Unjuk rasa digelar sampai berjilid-jilid. Tapi jumlah demonstran kian berkurang. Napas perlawanan tampak mulai ngos-ngosan.

BANJARMASIN – Mahasiswa kembali menggelar aksi di Jalan Lambung Mangkurat, (20/10) siang. Tak jauh dari gedung DPRD Kalsel.

Menggelar mimbar bebas, orasi mahasiswa masih sama. Menuntut presiden mengeluarkan perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang) untuk menganulir Omnibus Law yang disahkan DPR RI.

Mahasiswa juga memberikan rapor merah untuk kinerja Presiden Joko Widodo dan wakilnya Maruf Amin. Koordinator aksi, Ahdiat Zairullah menyebut terjadi banyak kemunduran selama tahun mereka bekerja.

“Demokrasi dikebiri, HAM dilanggar, bahkan konflik agraria semakin bergejolak di banyak daerah,” beber Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Lambung Mangkurat itu.

Pada aksi pertama dan kedua, jumlah pendemo bisa mencapai seribu. Kali ini menurun, bahkan tak sampai separonya.

Namun, Ahdiat tak ambil pusing. Menurutnya, kuantitas massa tak penting. Yang penting adalah militansi massa.

“Ketika tak ada lagi yang turun ke jalan, artinya banyak yang sudah kecewa atau pupus harapannya. Tapi kami, akan terus ada menyampaikan aspirasi,” bebernya.

Aksi kali ini juga lebih singkat. Puas berorasi, mahasiswa membubarkan diri. Ahdiat menjamin, demi menjaga napas perjuangan, aksi serupa bakal digelar setiap pekan.

“Hari ini pemerintah gagal mendengarkan suara rakyat. Kami kembali bertanya apakah kedaulatan benar-benar berada di tangan rakyat. Hari ini kami mengingatkan bahwa sudah banyak aksi penolakan terhadap Omnibus Law,” tuntasnya.

PKL Laris Manis

Jinggo bolak-balik membopong nampan berisi minuman dingin. Menjajakannya kepada demonstran ataupun aparat. Dalam hitungan menit, minuman kemasan yang dibawanya ludes.

“Sudah yang sepuluh kali saya bolak-balik mengambil stok minuman,” ujarnya di sela-sela aksi.

Satu nampan berisi 24 botol. Maka, bisa dibayangkan berapa botol yang mampu dijualnya dalam waktu beberapa menit.

Setiap kali ada aksi unjuk rasa, lelaki 44 tahun itu memang selalu turun berjualan. Baginya, unjuk rasa adalah rezeki nomplok.

“Lebih baik langsung menjajakan seperti ini, ketimbang menunggu mahasiswa atau polisi menghampiri,” ungkapnya.

Kendati demikian, dibandingkan demonstrasi pertama dan kedua, kemarin, dagangannya agak sepi. “Kali ini saya bisa duduk-duduk beristirahat. Pada aksi unjuk rasa belumnya, saya kewalahan,” bebernya seraya terkekeh.

Lantas bagaimana soal harga? Jinggo tak mematok harga mahal. Ia mengklaim, harganya masih ramah dengan kantong mahasiswa. “Rp5 ribu saja perbotol,” sebutnya.

Apakah Jinggo tak khawatir jika demo berakhir ricuh? Dia mengaku tak takut. “Saya percaya, baik yang berdemo maupun yang mengamankan sama-sama orang baik,” pujinya.

Tak hanya para penjual minuman yang laris manis, pedagang camilan juga. Salah satunya Inah.

Tapi Inah rupanya telah belajar. Camilannya kalah laku dengan minuman dingin Jinggo. Dia bertekad, jika ada aksi berikutnya, bakal berganti jualan. “Nanti, saya mau menjual minuman saja,” janjinya. (war/fud/ema)

Unjuk rasa digelar sampai berjilid-jilid. Tapi jumlah demonstran kian berkurang. Napas perlawanan tampak mulai ngos-ngosan.

BANJARMASIN – Mahasiswa kembali menggelar aksi di Jalan Lambung Mangkurat, (20/10) siang. Tak jauh dari gedung DPRD Kalsel.

Menggelar mimbar bebas, orasi mahasiswa masih sama. Menuntut presiden mengeluarkan perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang) untuk menganulir Omnibus Law yang disahkan DPR RI.

Mahasiswa juga memberikan rapor merah untuk kinerja Presiden Joko Widodo dan wakilnya Maruf Amin. Koordinator aksi, Ahdiat Zairullah menyebut terjadi banyak kemunduran selama tahun mereka bekerja.

“Demokrasi dikebiri, HAM dilanggar, bahkan konflik agraria semakin bergejolak di banyak daerah,” beber Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Lambung Mangkurat itu.

Pada aksi pertama dan kedua, jumlah pendemo bisa mencapai seribu. Kali ini menurun, bahkan tak sampai separonya.

Namun, Ahdiat tak ambil pusing. Menurutnya, kuantitas massa tak penting. Yang penting adalah militansi massa.

“Ketika tak ada lagi yang turun ke jalan, artinya banyak yang sudah kecewa atau pupus harapannya. Tapi kami, akan terus ada menyampaikan aspirasi,” bebernya.

Aksi kali ini juga lebih singkat. Puas berorasi, mahasiswa membubarkan diri. Ahdiat menjamin, demi menjaga napas perjuangan, aksi serupa bakal digelar setiap pekan.

“Hari ini pemerintah gagal mendengarkan suara rakyat. Kami kembali bertanya apakah kedaulatan benar-benar berada di tangan rakyat. Hari ini kami mengingatkan bahwa sudah banyak aksi penolakan terhadap Omnibus Law,” tuntasnya.

PKL Laris Manis

Jinggo bolak-balik membopong nampan berisi minuman dingin. Menjajakannya kepada demonstran ataupun aparat. Dalam hitungan menit, minuman kemasan yang dibawanya ludes.

“Sudah yang sepuluh kali saya bolak-balik mengambil stok minuman,” ujarnya di sela-sela aksi.

Satu nampan berisi 24 botol. Maka, bisa dibayangkan berapa botol yang mampu dijualnya dalam waktu beberapa menit.

Setiap kali ada aksi unjuk rasa, lelaki 44 tahun itu memang selalu turun berjualan. Baginya, unjuk rasa adalah rezeki nomplok.

“Lebih baik langsung menjajakan seperti ini, ketimbang menunggu mahasiswa atau polisi menghampiri,” ungkapnya.

Kendati demikian, dibandingkan demonstrasi pertama dan kedua, kemarin, dagangannya agak sepi. “Kali ini saya bisa duduk-duduk beristirahat. Pada aksi unjuk rasa belumnya, saya kewalahan,” bebernya seraya terkekeh.

Lantas bagaimana soal harga? Jinggo tak mematok harga mahal. Ia mengklaim, harganya masih ramah dengan kantong mahasiswa. “Rp5 ribu saja perbotol,” sebutnya.

Apakah Jinggo tak khawatir jika demo berakhir ricuh? Dia mengaku tak takut. “Saya percaya, baik yang berdemo maupun yang mengamankan sama-sama orang baik,” pujinya.

Tak hanya para penjual minuman yang laris manis, pedagang camilan juga. Salah satunya Inah.

Tapi Inah rupanya telah belajar. Camilannya kalah laku dengan minuman dingin Jinggo. Dia bertekad, jika ada aksi berikutnya, bakal berganti jualan. “Nanti, saya mau menjual minuman saja,” janjinya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/