alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

32.305 Warga Desa Kehilangan Mata Pencaharian

BANJARBARU – Dampak pandemi Covid-19 memukul masyarakat di pedesaan lebih keras. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kalsel mencatat, ada 32.305 warga desa kehilangan mata pencaharian selama pagebluk virus corona.

Baca dulu: Aksi Diam Orang-orangan Tolak UU Ciptaker

Kepala Dinas PMD Kalsel, Zulkifli mengatakan, warga desa yang kehilangan mata pencaharian tersebar di 11 kabupaten di Kalsel. “Terbanyak ada di Kabupaten Banjar, dari 32.305 orang yang kehilangan mata pencaharian, di sana ada 8.066,” katanya, kemarin.

Dia mengungkapkan, terbanyak kedua Barito Kuala dengan total 6.601 warga yang kehilangan mata pencaharian. Disusul, Tanah Laut, 4.341 warga; Balangan, 3.269 warga; Hulu Sungai Selatan, 2.257 warga; Tabalong, 2.257 warga; Hulu Sungai Tengah, 1.752 warga; Kotabaru, 1.532 warga; Tanah Bumbu, 1.210 warga dan Hulu Sungai Utara, 1.016 warga.

“Paling sedikit di Kabupaten Tapin. Di sana terdata hanya ada empat warga desa yang kehilangan mata pencaharian selama pandemi Covid-19,” beber Zulkipli.

Dijelaskannya, warga di desa yang kehilangan mata pencaharian sebagian besar pedagang. Selama pagebluk ini mereka berhenti berjualan lantaran dagangannya tidak laku. “Dari informasi yang kami terima, ternyata di desa sebagian masyarakat yang memiliki tabungan masih enggan banyak berbelanja. Akibatnya produk warga tidak laku,” jelasnya.

Dia menduga, masyarakat enggan berbelanja karena menghindari keluar rumah atau ke pasar lantaran takut tertular Covid-19. “Atau mungkin ada juga yang belum mau banyak mengeluarkan uang, karena untuk jaga-jaga. Kita ‘kan belum tahu pandemi ini sampai kapan,” paparnya.

Lalu apa yang dilakukan pemerintah untuk membantu warga desa yang kehilangan mata pencaharian? Zulkipli menyampaikan, masyarakat yang tidak punya pekerjaan sudah dimasukkan dalam kelompok penerima bantuan langsung tunai (BLT) dari dana desa (DD). “Selama Covid-19 ini mereka tidak punya pendapatan, jadi perlu bantuan. Maka dari itu masuk dalam daftar penerima BLT-DD,” ucapnya.

BLT-DD sendiri merupakan bantuan dari pemerintah yang dialokasikan dari dana desa, untuk diberikan ke masyarakat desa yang tidak mampu dan terdampak pandemi Covid-19. “Total penerima BLT-DD di Kalsel ada 153.219 kepala keluarga,” beber Zulkipli.

Dia menambahkan, BLT-DD sudah disalurkan selama enam tahapan sejak April 2020. Pada tiga tahap pertama, setiap kepala keluarga menerima Rp600 ribu perbulan. Setelah itu di tahap selanjutnya, Rp300 ribu. “Sekarang sedang pencairan tahap enam,” tambahnya.

Berdasarkan data mereka per 5 Oktober 2020, BLT-DD yang sudah tersalurkan sekitar Rp300 miliar. Dari pagu Rp413 miliar. “BLT ini diambil dari dana desa. Sementara pagu dana desa ada tahun ini Rp1,5 triliun,” ujar Zulkipli.

Lanjutnta, saat ini pihaknya sedang menunggu arahan dari pemerintah pusat terkait BLT-DD ini, apakah dilanjutkan atau dihentikan dulu. “Karena ini sudah pencairan tahap akhir. Masih kami tunggu apakah lanjut sampai Desember atau tidak,” paparnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Syahrituah Siregar menyampaikan, banyaknya warga yang kehilangan mata pencaharian harus segera diantisipasi pemerintah. Pasalnya, kalau tidak bakal terjadi bahaya sosial ekonomi.

“Di mana akan banyak orang kelaparan dan angka kriminalitas meningkat, karena banyak kehilangan pekerjaan tapi tidak ada sumber pekerjaan baru. Mudah-mudahan itu tidak sampai terjadi,” katanya.

Menurutnya, agar hal itu tidak terjadi pemerintah bersama pihak terkait harus punya solusi. Salah satunya ialah menyediakan sumber penerimaan dan pekerjaan baru untuk warga yang kehilangan mata pencaharian.

“Perlu ada jaring pengaman sosial, proyek padat karya infrastruktur pedesaan dan jalur inovasi bisnis di masa physical distancing untuk menjadi sumber penerimaan dan pekerjaan baru,” ujarnya.

Di samping itu, dia menjelaskan, semua pemegang kebijakan. Baik pebisnis maupun pemerintah juga harus mulai berhitung ketahanan finansialnya, untuk melihat bisa bertahan berapa lama. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Dampak pandemi Covid-19 memukul masyarakat di pedesaan lebih keras. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kalsel mencatat, ada 32.305 warga desa kehilangan mata pencaharian selama pagebluk virus corona.

Baca dulu: Aksi Diam Orang-orangan Tolak UU Ciptaker

Kepala Dinas PMD Kalsel, Zulkifli mengatakan, warga desa yang kehilangan mata pencaharian tersebar di 11 kabupaten di Kalsel. “Terbanyak ada di Kabupaten Banjar, dari 32.305 orang yang kehilangan mata pencaharian, di sana ada 8.066,” katanya, kemarin.

Dia mengungkapkan, terbanyak kedua Barito Kuala dengan total 6.601 warga yang kehilangan mata pencaharian. Disusul, Tanah Laut, 4.341 warga; Balangan, 3.269 warga; Hulu Sungai Selatan, 2.257 warga; Tabalong, 2.257 warga; Hulu Sungai Tengah, 1.752 warga; Kotabaru, 1.532 warga; Tanah Bumbu, 1.210 warga dan Hulu Sungai Utara, 1.016 warga.

“Paling sedikit di Kabupaten Tapin. Di sana terdata hanya ada empat warga desa yang kehilangan mata pencaharian selama pandemi Covid-19,” beber Zulkipli.

Dijelaskannya, warga di desa yang kehilangan mata pencaharian sebagian besar pedagang. Selama pagebluk ini mereka berhenti berjualan lantaran dagangannya tidak laku. “Dari informasi yang kami terima, ternyata di desa sebagian masyarakat yang memiliki tabungan masih enggan banyak berbelanja. Akibatnya produk warga tidak laku,” jelasnya.

Dia menduga, masyarakat enggan berbelanja karena menghindari keluar rumah atau ke pasar lantaran takut tertular Covid-19. “Atau mungkin ada juga yang belum mau banyak mengeluarkan uang, karena untuk jaga-jaga. Kita ‘kan belum tahu pandemi ini sampai kapan,” paparnya.

Lalu apa yang dilakukan pemerintah untuk membantu warga desa yang kehilangan mata pencaharian? Zulkipli menyampaikan, masyarakat yang tidak punya pekerjaan sudah dimasukkan dalam kelompok penerima bantuan langsung tunai (BLT) dari dana desa (DD). “Selama Covid-19 ini mereka tidak punya pendapatan, jadi perlu bantuan. Maka dari itu masuk dalam daftar penerima BLT-DD,” ucapnya.

BLT-DD sendiri merupakan bantuan dari pemerintah yang dialokasikan dari dana desa, untuk diberikan ke masyarakat desa yang tidak mampu dan terdampak pandemi Covid-19. “Total penerima BLT-DD di Kalsel ada 153.219 kepala keluarga,” beber Zulkipli.

Dia menambahkan, BLT-DD sudah disalurkan selama enam tahapan sejak April 2020. Pada tiga tahap pertama, setiap kepala keluarga menerima Rp600 ribu perbulan. Setelah itu di tahap selanjutnya, Rp300 ribu. “Sekarang sedang pencairan tahap enam,” tambahnya.

Berdasarkan data mereka per 5 Oktober 2020, BLT-DD yang sudah tersalurkan sekitar Rp300 miliar. Dari pagu Rp413 miliar. “BLT ini diambil dari dana desa. Sementara pagu dana desa ada tahun ini Rp1,5 triliun,” ujar Zulkipli.

Lanjutnta, saat ini pihaknya sedang menunggu arahan dari pemerintah pusat terkait BLT-DD ini, apakah dilanjutkan atau dihentikan dulu. “Karena ini sudah pencairan tahap akhir. Masih kami tunggu apakah lanjut sampai Desember atau tidak,” paparnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Syahrituah Siregar menyampaikan, banyaknya warga yang kehilangan mata pencaharian harus segera diantisipasi pemerintah. Pasalnya, kalau tidak bakal terjadi bahaya sosial ekonomi.

“Di mana akan banyak orang kelaparan dan angka kriminalitas meningkat, karena banyak kehilangan pekerjaan tapi tidak ada sumber pekerjaan baru. Mudah-mudahan itu tidak sampai terjadi,” katanya.

Menurutnya, agar hal itu tidak terjadi pemerintah bersama pihak terkait harus punya solusi. Salah satunya ialah menyediakan sumber penerimaan dan pekerjaan baru untuk warga yang kehilangan mata pencaharian.

“Perlu ada jaring pengaman sosial, proyek padat karya infrastruktur pedesaan dan jalur inovasi bisnis di masa physical distancing untuk menjadi sumber penerimaan dan pekerjaan baru,” ujarnya.

Di samping itu, dia menjelaskan, semua pemegang kebijakan. Baik pebisnis maupun pemerintah juga harus mulai berhitung ketahanan finansialnya, untuk melihat bisa bertahan berapa lama. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/