alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Pandemi, Kekerasan Perempuan dan Anak Semakin Meningkat

BANJARBARU – Dampak dari pandemi Covid-19, membuat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kalsel semakin meningkat. UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) mencatat, selama pagebluk melanda sudah ada 38 kasus yang mereka terima.

Puluhan kasus tersebut, sebagian besar kekerasan terhadap anak: dengan 29 kasus. Sementara 9 lainnya kekerasan terhadap perempuan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalsel, Riko Ijami mengatakan, 38 kasus merupakan angka yang cukup tinggi. Dan lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Tahun lalu cuma 30 kasus. Sedangkan pada 2018 hanya 28 kasus,” katanya.

Dia mengungkapkan, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan bervariasi. Ada kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran. “Pandemi Covid-19 sangat memengaruhi terjadinya kekerasan ini. Karena dampak pandemi membuat banyak orang di-PHK (pemutusan hubungan kerja),” ungkapnya.

PHK sendiri menurutnya menjadi pemicu utama adanya perselisihan antara keluarga, hingga berimbas kepada kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Selain perselisihan, PHK juga membuat suami menelantarkan istri dan anaknya. Karena permasalahan ekonomi,” ujar Riko.

Dia menduga, selain yang sudah mereka data, masih banyak kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan yang terjadi. “Hal ini nantinya menjadi tugas kami untuk mencarinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kalsel, Husnul Hatimah menyampaikan, untuk meminimalisir angka kekerasan perempuan dan anak, pihaknya berupaya semaksimal mungkin dari berbagai aspek. “Di antaranya menjalankan program maupun anggaran dengan optimal, agar anak dan perempuan terhindar dari berbagai permasalahan,” ucapnya.

Di samping itu, dia menyebut, pihaknya juga mengajak masyarakat dan lembaga instansi lainnya untuk bersama-sama melihat dan memantau bagaimana kondisi anak dan perempuan di daerahnya masing-masing. “Karena, kami perlu dukungan itu,” sebutnya.

Secara terpisah, Psikolog Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Sukma Noor Akbar menjelaskan, pada masa pandemi seperti sekarang ini masyarakat memang harus waspada. Sebab, anak dan perempuan sangat rentan jadi korban kekerasan.

“Apalagi anak, sangat rentan jadi korban kekerasan seksual dan fisik. Karena selama belajar dari rumah, mereka banyak melakukan aktivitas di rumah,” jelasnya.

Menurutnya, di masa saat ini orangtua memiliki tugas lebih berat sebagai pendidik dan pendamping anak belajar dari rumah. Serta, bekerja. Jika tidak memiliki mental yang kuat maka akan mudah terpicu secara emosi kepada anak.

“Hak anak perlu diperjuangkan lagi, terutama kepada keluarga agar tidak mudah melakukan kekerasan yang nantinya akan berdampak pada psikologis anak di masa depan,” ujarnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Dampak dari pandemi Covid-19, membuat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kalsel semakin meningkat. UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) mencatat, selama pagebluk melanda sudah ada 38 kasus yang mereka terima.

Puluhan kasus tersebut, sebagian besar kekerasan terhadap anak: dengan 29 kasus. Sementara 9 lainnya kekerasan terhadap perempuan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalsel, Riko Ijami mengatakan, 38 kasus merupakan angka yang cukup tinggi. Dan lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Tahun lalu cuma 30 kasus. Sedangkan pada 2018 hanya 28 kasus,” katanya.

Dia mengungkapkan, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan bervariasi. Ada kekerasan fisik, psikis, seksual dan penelantaran. “Pandemi Covid-19 sangat memengaruhi terjadinya kekerasan ini. Karena dampak pandemi membuat banyak orang di-PHK (pemutusan hubungan kerja),” ungkapnya.

PHK sendiri menurutnya menjadi pemicu utama adanya perselisihan antara keluarga, hingga berimbas kepada kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Selain perselisihan, PHK juga membuat suami menelantarkan istri dan anaknya. Karena permasalahan ekonomi,” ujar Riko.

Dia menduga, selain yang sudah mereka data, masih banyak kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan yang terjadi. “Hal ini nantinya menjadi tugas kami untuk mencarinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kalsel, Husnul Hatimah menyampaikan, untuk meminimalisir angka kekerasan perempuan dan anak, pihaknya berupaya semaksimal mungkin dari berbagai aspek. “Di antaranya menjalankan program maupun anggaran dengan optimal, agar anak dan perempuan terhindar dari berbagai permasalahan,” ucapnya.

Di samping itu, dia menyebut, pihaknya juga mengajak masyarakat dan lembaga instansi lainnya untuk bersama-sama melihat dan memantau bagaimana kondisi anak dan perempuan di daerahnya masing-masing. “Karena, kami perlu dukungan itu,” sebutnya.

Secara terpisah, Psikolog Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Sukma Noor Akbar menjelaskan, pada masa pandemi seperti sekarang ini masyarakat memang harus waspada. Sebab, anak dan perempuan sangat rentan jadi korban kekerasan.

“Apalagi anak, sangat rentan jadi korban kekerasan seksual dan fisik. Karena selama belajar dari rumah, mereka banyak melakukan aktivitas di rumah,” jelasnya.

Menurutnya, di masa saat ini orangtua memiliki tugas lebih berat sebagai pendidik dan pendamping anak belajar dari rumah. Serta, bekerja. Jika tidak memiliki mental yang kuat maka akan mudah terpicu secara emosi kepada anak.

“Hak anak perlu diperjuangkan lagi, terutama kepada keluarga agar tidak mudah melakukan kekerasan yang nantinya akan berdampak pada psikologis anak di masa depan,” ujarnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/