alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Kelelahan, Menangis dan Pulang; Ini yang Tersisa dari Aksi Omnibus Law Jilid II

Tepat jam 12 malam, setelah bolak-balik bernegosiasi dengan aparat, mahasiswa membubarkan diri. Diiringi isak tangis koordinator aksi.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

DIBANDINGKAN unjuk rasa di kota-kota lain yang ricuh, di Banjarmasin berlangsung kondusif. Kalau pun ada gesekan, korbannya cuma pot kembang yang rusak.

Pada gelombang kedua, Kamis (15/10) siang, mahasiswa menggelar mibar bebas di Jalan Lambung Mangkurat. Tak jauh dari gedung DPRD Kalsel.

Pantauan Radar Banjarmasin, setelah magrib, mulai ada demonstran yang beranjak pulang. Hingga massa tersisa separuh.

Setelah itu, mahasiswa dan aparat terlibat adu ngotot. Apakah aparat bisa menahan diri dari tindakan represif? Apakah mahasiswa lebih dulu membubarkan diri?

Malam itu, kedua kubu tampak benar-benar kelelahan. Ada yang merebahkan diri di aspal untuk rehat sejenak.

Koordinator Wilayah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Kalimantan Selatan, Ahdiat Zairullah mengaku tak bisa memaksa agar rekan-rekannya bertahan di lokasi. Siapapun boleh pergi. Tapi bagi yang bersedia bertahan, ia mengucapkan terima kasih.

Ahdiat dan kawan-kawannya bertekad untuk bermalam di jalan. Baru pulang, kalau tuntutan dipenuhi. Tuntutan yang agak musykil: Presiden Joko Widodo datang ke Banjarmasin dan menerbitkan Perppu untuk menganulir Omnibus Law.

“Kami akan terus aksi. Apabila hari ini chaos dan dibubarkan, kami akan turun lagi pada hari lain,” tambah Ahdiat.

Agar mosi tidak percaya tak sekadar slogan. Ini soal pembuktian.

Kedatangan Anggota DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda saja dicueki. Apalagi tawaran judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

“Semua orang juga tahu, pemilihan MK itu politis. Tiga dari Mahkamah Agung, tiga orang presiden, tiga pilihan DPR. Pakai logika saja. Enam lawan tiga, siapa yang menang?” cecar mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat itu.

Satu-satunya pilihan adalah parlemen jalanan. Malam pun semakin larut. Hanya terdengar dengung mesin unit water canon.

Di balik mobil itu, ada Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Rachmat Hendrawan dan Dandim 1007, Kolonel Infanteri M Leo Pola Ardiansa S duduk bersandarkan trotoar. Wajah keduanya juga tampak kecapekan.

Sebelumnya, pukul 18.30, situasi sempat tegang. Water canon disiagakan ke arah massa. Beruntung, Kapolda Kalsel Irjen Pol Nico Afinta menahannya.

“Sejauh ini kami tetap persuasif. Mereka bertahan, kami bertahan. Yang jelas, kami tidak boleh terpancing. Mau sampai subuh pun kami amankan. Sampai mereka membubarkan diri, kami terus di sini,” kata Rachmat.

Mahasiswa kini belajar. Keinginan yang kuat tak selalu seiring dengan hasil.

Dengan stamina terkuras, mahasiswa terpaksa bubar. Ahdiat tertunduk dan menangis. Dirangkul sesama teman seperjuangan.

Baca juga: 6 dari 374 Pendemo yang Diamankan Reaktif Covid

“Permintaan mahasiwa sudah diakomodir ketua serikat buruh di pusat. Yang sudah bertemu langsung dengan presiden. Ketua DPRD dan Plt Gubernur Kalsel juga menyampaikan permintaan mahasiswa,” tutup Nico. (fud/ema)

Tepat jam 12 malam, setelah bolak-balik bernegosiasi dengan aparat, mahasiswa membubarkan diri. Diiringi isak tangis koordinator aksi.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

DIBANDINGKAN unjuk rasa di kota-kota lain yang ricuh, di Banjarmasin berlangsung kondusif. Kalau pun ada gesekan, korbannya cuma pot kembang yang rusak.

Pada gelombang kedua, Kamis (15/10) siang, mahasiswa menggelar mibar bebas di Jalan Lambung Mangkurat. Tak jauh dari gedung DPRD Kalsel.

Pantauan Radar Banjarmasin, setelah magrib, mulai ada demonstran yang beranjak pulang. Hingga massa tersisa separuh.

Setelah itu, mahasiswa dan aparat terlibat adu ngotot. Apakah aparat bisa menahan diri dari tindakan represif? Apakah mahasiswa lebih dulu membubarkan diri?

Malam itu, kedua kubu tampak benar-benar kelelahan. Ada yang merebahkan diri di aspal untuk rehat sejenak.

Koordinator Wilayah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Kalimantan Selatan, Ahdiat Zairullah mengaku tak bisa memaksa agar rekan-rekannya bertahan di lokasi. Siapapun boleh pergi. Tapi bagi yang bersedia bertahan, ia mengucapkan terima kasih.

Ahdiat dan kawan-kawannya bertekad untuk bermalam di jalan. Baru pulang, kalau tuntutan dipenuhi. Tuntutan yang agak musykil: Presiden Joko Widodo datang ke Banjarmasin dan menerbitkan Perppu untuk menganulir Omnibus Law.

“Kami akan terus aksi. Apabila hari ini chaos dan dibubarkan, kami akan turun lagi pada hari lain,” tambah Ahdiat.

Agar mosi tidak percaya tak sekadar slogan. Ini soal pembuktian.

Kedatangan Anggota DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda saja dicueki. Apalagi tawaran judicial review ke Mahkamah Konstitusi.

“Semua orang juga tahu, pemilihan MK itu politis. Tiga dari Mahkamah Agung, tiga orang presiden, tiga pilihan DPR. Pakai logika saja. Enam lawan tiga, siapa yang menang?” cecar mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat itu.

Satu-satunya pilihan adalah parlemen jalanan. Malam pun semakin larut. Hanya terdengar dengung mesin unit water canon.

Di balik mobil itu, ada Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Rachmat Hendrawan dan Dandim 1007, Kolonel Infanteri M Leo Pola Ardiansa S duduk bersandarkan trotoar. Wajah keduanya juga tampak kecapekan.

Sebelumnya, pukul 18.30, situasi sempat tegang. Water canon disiagakan ke arah massa. Beruntung, Kapolda Kalsel Irjen Pol Nico Afinta menahannya.

“Sejauh ini kami tetap persuasif. Mereka bertahan, kami bertahan. Yang jelas, kami tidak boleh terpancing. Mau sampai subuh pun kami amankan. Sampai mereka membubarkan diri, kami terus di sini,” kata Rachmat.

Mahasiswa kini belajar. Keinginan yang kuat tak selalu seiring dengan hasil.

Dengan stamina terkuras, mahasiswa terpaksa bubar. Ahdiat tertunduk dan menangis. Dirangkul sesama teman seperjuangan.

Baca juga: 6 dari 374 Pendemo yang Diamankan Reaktif Covid

“Permintaan mahasiwa sudah diakomodir ketua serikat buruh di pusat. Yang sudah bertemu langsung dengan presiden. Ketua DPRD dan Plt Gubernur Kalsel juga menyampaikan permintaan mahasiswa,” tutup Nico. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/