alexametrics
31.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

6 dari 374 Pendemo yang Diamankan Reaktif Covid, Tim Gugas: Jika Ada Gejala, Segera ke Puskesmas

BANJARMASIN – Dengan sabar, Yana menunggu di belakang Aula Batlayeri Polda Kalsel, kemarin (16/10). Dia orang tua salah satu remaja yang diamankan polisi selama demonstrasi menolak Undang-Undang Omnibus Law, Kamis (15/10).

Baca dulu: Kelelahan, Menangis dan Pulang; Ini yang Tersisa dari Aksi Omnibus Law Jilid II

 

Raut wajahnya tenang, tapi perempuan 35 tahun itu mengaku khawatir. Putranya yang berusia 16 tahun tak kunjung pulang ke rumah sampai tengah malam.

“Namanya juga orang tua, pasti khawatir. Anak saya pamit jam 4 sore. Katanya mau hunting foto seperti hobinya biasa,” kisahnya.

Dia sudah hafal kebiasaan anaknya. Paling telat pulang ke rumah sebelum azan isya. Tapi malam itu, sampai jam 9, tak juga pulang.

Warga Jalan Seberang Masjid itu kemudian coba menghubungi ponselnya. Tapi nomornya sedang tidak aktif. Mencari ke rumah beberapa teman main anaknya, juga nihil.

Yana baru ingat, saat itu di gedung DPRD Kalsel sedang demo besar-besaran. “Pagi-pagi coba datang ke Polda. Eh ternyata ada,” tukasnya.

Dia yakin, anaknya tak ikut-ikutan berunjuk rasa. Anaknya hanya keliru tangkap. Tapi dia yakin, ada hikmah di balik kejadian ini.

“Saya enggak akan memarahinya. Nasihati saja. Agar lebih berhati-hati, jangan sampai terulang lagi,” tutupnya.

Sementara itu, Kapolda Kalsel Irjen Pol Nico Afinta menyebutkan, 374 orang diamankan demi mencegah keributan di tengah aksi mahasiswa. Apalagi kebanyakan masih pelajar.

Polda Kalsel mengamankan 270 orang. Rinciannya, 259 laki-laki dan 11 perempuan. Status mereka adalah dua mahasiswa, 69 pelajar, 43 buruh, dan 156 pengangguran.

Sedangkan Polresta Banjarmasin mengamankan 104 orang. Rinciannya, 102 laki-laki dan dua perempuan. Pelajar ada 48 orang, pengangguran 56 orang, dan nol untuk buruh atau mahasiswa.

Hasil pemeriksaan, satu orang kedapatan membawa senjata tajam dan satu orang positif menggunakan narkotika.

Tapi seusai rapid test, enam orang dinyatakan reaktif. Bagi Nico, hasil ini harus diperhatikan. “Akan di-swab. Bayangkan bila ada yang positif, berpotensi sekali menularkan pada yang lain,” tukasnya.

Sebagai tindak lanjut, Nico akan berkoordinasi dengan perguruan tinggi di Kalsel. Ke depan, kalau hendak turun ke jalan, mahasiswa disyaratkan menyerahkan surat bebas COVID-19 kepada kampus.

“Kita masih berada di tengah pandemi. Semua mengetahui berkumpulnya orang banyak bisa berpotensi menyebarkan virus,” tutupnya.

Ada Gejala, Segera ke Puskesmas

Juru Bicara Tim Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riyadi, menyarankan agar pengunjuk rasa segera menjalani tes swab.

Bukan tanpa alasan. Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin itu menilai, demonstrasi menolak Omnibus Law itu rawan menjadi klaster baru penularan COVID-19.

Dalam kerumunan sebesar itu, meski mengenakan masker, rentan menularkan virus corona. “Segera melapor kalau muncul gejala. Segera ke puskesmas untuk swab,” pintanya, kemarin (16/10).

Gejala seperti meriang atau batuk, sakit tenggorokan dan hilangnya indra penciuman. Kalau sudah begitu, tak perlu lagi di-rapid, langsung di-swab saja.

“Langsung swab saja. Apabila hasilnya positif, lakukan karantina mandiri. Tapi bila di rumah tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri, maka bisa ke rumah karantina yang disediakan,” jelasnya. (war/gmp/fud/ema)

BANJARMASIN – Dengan sabar, Yana menunggu di belakang Aula Batlayeri Polda Kalsel, kemarin (16/10). Dia orang tua salah satu remaja yang diamankan polisi selama demonstrasi menolak Undang-Undang Omnibus Law, Kamis (15/10).

Baca dulu: Kelelahan, Menangis dan Pulang; Ini yang Tersisa dari Aksi Omnibus Law Jilid II

 

Raut wajahnya tenang, tapi perempuan 35 tahun itu mengaku khawatir. Putranya yang berusia 16 tahun tak kunjung pulang ke rumah sampai tengah malam.

“Namanya juga orang tua, pasti khawatir. Anak saya pamit jam 4 sore. Katanya mau hunting foto seperti hobinya biasa,” kisahnya.

Dia sudah hafal kebiasaan anaknya. Paling telat pulang ke rumah sebelum azan isya. Tapi malam itu, sampai jam 9, tak juga pulang.

Warga Jalan Seberang Masjid itu kemudian coba menghubungi ponselnya. Tapi nomornya sedang tidak aktif. Mencari ke rumah beberapa teman main anaknya, juga nihil.

Yana baru ingat, saat itu di gedung DPRD Kalsel sedang demo besar-besaran. “Pagi-pagi coba datang ke Polda. Eh ternyata ada,” tukasnya.

Dia yakin, anaknya tak ikut-ikutan berunjuk rasa. Anaknya hanya keliru tangkap. Tapi dia yakin, ada hikmah di balik kejadian ini.

“Saya enggak akan memarahinya. Nasihati saja. Agar lebih berhati-hati, jangan sampai terulang lagi,” tutupnya.

Sementara itu, Kapolda Kalsel Irjen Pol Nico Afinta menyebutkan, 374 orang diamankan demi mencegah keributan di tengah aksi mahasiswa. Apalagi kebanyakan masih pelajar.

Polda Kalsel mengamankan 270 orang. Rinciannya, 259 laki-laki dan 11 perempuan. Status mereka adalah dua mahasiswa, 69 pelajar, 43 buruh, dan 156 pengangguran.

Sedangkan Polresta Banjarmasin mengamankan 104 orang. Rinciannya, 102 laki-laki dan dua perempuan. Pelajar ada 48 orang, pengangguran 56 orang, dan nol untuk buruh atau mahasiswa.

Hasil pemeriksaan, satu orang kedapatan membawa senjata tajam dan satu orang positif menggunakan narkotika.

Tapi seusai rapid test, enam orang dinyatakan reaktif. Bagi Nico, hasil ini harus diperhatikan. “Akan di-swab. Bayangkan bila ada yang positif, berpotensi sekali menularkan pada yang lain,” tukasnya.

Sebagai tindak lanjut, Nico akan berkoordinasi dengan perguruan tinggi di Kalsel. Ke depan, kalau hendak turun ke jalan, mahasiswa disyaratkan menyerahkan surat bebas COVID-19 kepada kampus.

“Kita masih berada di tengah pandemi. Semua mengetahui berkumpulnya orang banyak bisa berpotensi menyebarkan virus,” tutupnya.

Ada Gejala, Segera ke Puskesmas

Juru Bicara Tim Gugus Tugas P2 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riyadi, menyarankan agar pengunjuk rasa segera menjalani tes swab.

Bukan tanpa alasan. Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin itu menilai, demonstrasi menolak Omnibus Law itu rawan menjadi klaster baru penularan COVID-19.

Dalam kerumunan sebesar itu, meski mengenakan masker, rentan menularkan virus corona. “Segera melapor kalau muncul gejala. Segera ke puskesmas untuk swab,” pintanya, kemarin (16/10).

Gejala seperti meriang atau batuk, sakit tenggorokan dan hilangnya indra penciuman. Kalau sudah begitu, tak perlu lagi di-rapid, langsung di-swab saja.

“Langsung swab saja. Apabila hasilnya positif, lakukan karantina mandiri. Tapi bila di rumah tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri, maka bisa ke rumah karantina yang disediakan,” jelasnya. (war/gmp/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/