alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Bakal Hadapi La Nina, Kalsel Mulai Petakan Daerah Rawan Bencana

BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator saat ini menunjukkan berkembangnya La Nina. Kondisi ini tentu perlu diwaspadai masyarakat Banua, sebab di Kalsel ada beberapa daerah yang rawan banjir.

La Nina sendiri merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Anomali La Nina seiring dimulainya musim hujan pada bulan Oktober ini berpotensi menjadi pemicu bencana banjir dan tanah longsor.

Terkait hal ini, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Mujiyat menyampaikan, menjelang musim hujan pihaknya bakal melakukan pemetaan daerah-daerah rawan bencana. “Dengan begitu, kita bisa melakukan antisipasi dengan cepat,” katanya.

Dalam penanganan bencana, dia menyampaikan pihaknya ingin memaksimalkan helikopter tipe chinook CH47D yang tiba Senin (12/10) tadi. “Karena di samping untuk water bombing, heli tersebut juga bisa digunakan untuk pendistribusian logistik,” ucapnya.

Helikopter dari Amerika itu rencananya beroperasi selama 10 hari di Kalsel. Namun, jika masih diperlukan waktu operasional bisa ditambah. “Biaya operasional semua ditanggung pusat, jadi daerah cuma sebagai sasaran operasional,” ujar Mujiyat.

Sementara itu, terkait daerah rawan bencana, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Sahruddin mengatakan, jika berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ada sepuluh kabupaten/kota di Kalsel yang berpotensi banjir apabila hujan turun dengan intensitas tinggi.

Sepuluh daerah itu yakni, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Balangan, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Tapin, Barito Kuala dan Kota Banjarbaru. “Daerah-daerah ini biasanya banjir karena luapan air sungai,” beber Sahruddin.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah sungai di Banua yang meluap apabila intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir meninggi. Di antaranya, Sungai Riam Kiwa dan Sungai Riam Kanan. “Kalau dua sungai ini meluap, dampaknya banjir di beberapa wilayah Kabupaten Banjar,” ungkapnya.

Lanjutnya, sedangkan di daerah Banua Anam, banjir biasanya dikarenakan luapan air dari Sungai Tabalong yang melintasi Kabupaten Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Utara (HSU). “Kalau sungai ini meluap, yang banjir pasti sepaket. Yakni, Tabalong, Balangan dan HSU. HSU yang paling lama terendam, karena berada paling bawah,” ujarnya.

Selain itu, Sahruddin menyampaikan, Sungai Barito juga berpotensi meluap jika intensitas hujan tinggi di daerah hulu. Akibatnya, banjir pun terjadi di wilayah Barito Kuala. “Sementara di daerah pesisir, sungai yang rawan meluap ialah Sungai Satui, Sungai Kusan dan Sungai Tabanio. Ini bisa mengakibatkan kawasan Tanah Laut dan Tanah Bumbu banjir,” ucapnya.

Sedangkan di Banjarbaru, ada Sungai Cempaka yang saban tahun meluap apabila hujan deras mengguyur kawasan itu. Akibatnya, wilayah Kecamatan Cempaka direndam banjir. “Sungai Kemuning juga terkadang meluap, dan mengakibatkan kawasan Kemuning dan sekitarnya terendam,” beber Sahruddin.

Lalu apakah ada potensi banjir bandang di wilayah Kalsel? Dia menyampaikan, sejauh ini belum pernah terjadi banjir besar yang datang secara tiba-tiba. “Biasanya air naik secara perlahan, tidak seperti air bah yang datang tiba-tiba dan cepat,” paparnya.

Secara terpisah, terkait perkembangan La Nina, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru Goeroeh Tjiptanto menuturkan, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) pada Oktober ini telah menunjukkan kondisi La Nina. “Beberapa institusi memprediksi La Nina lemah sampai moderat terjadi hingga Maret atau Mei 2021,” tuturnya.

Lebih jauh dia memaparkan, catatan historis menunjukkan La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya.

Namun, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan Selatan dan hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera.

“Selanjutnya pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara, dan Papua,” kata Goeroeh.

Sedangkan pada Oktober ini, dia mengungkapkan, Kalsel diperkirakan memasuki musim hujan. Peningkatan curah hujan, seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis. Seperti banjir dan tanah longsor. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator saat ini menunjukkan berkembangnya La Nina. Kondisi ini tentu perlu diwaspadai masyarakat Banua, sebab di Kalsel ada beberapa daerah yang rawan banjir.

La Nina sendiri merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Anomali La Nina seiring dimulainya musim hujan pada bulan Oktober ini berpotensi menjadi pemicu bencana banjir dan tanah longsor.

Terkait hal ini, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Mujiyat menyampaikan, menjelang musim hujan pihaknya bakal melakukan pemetaan daerah-daerah rawan bencana. “Dengan begitu, kita bisa melakukan antisipasi dengan cepat,” katanya.

Dalam penanganan bencana, dia menyampaikan pihaknya ingin memaksimalkan helikopter tipe chinook CH47D yang tiba Senin (12/10) tadi. “Karena di samping untuk water bombing, heli tersebut juga bisa digunakan untuk pendistribusian logistik,” ucapnya.

Helikopter dari Amerika itu rencananya beroperasi selama 10 hari di Kalsel. Namun, jika masih diperlukan waktu operasional bisa ditambah. “Biaya operasional semua ditanggung pusat, jadi daerah cuma sebagai sasaran operasional,” ujar Mujiyat.

Sementara itu, terkait daerah rawan bencana, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Sahruddin mengatakan, jika berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ada sepuluh kabupaten/kota di Kalsel yang berpotensi banjir apabila hujan turun dengan intensitas tinggi.

Sepuluh daerah itu yakni, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Balangan, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Tapin, Barito Kuala dan Kota Banjarbaru. “Daerah-daerah ini biasanya banjir karena luapan air sungai,” beber Sahruddin.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah sungai di Banua yang meluap apabila intensitas hujan dalam beberapa hari terakhir meninggi. Di antaranya, Sungai Riam Kiwa dan Sungai Riam Kanan. “Kalau dua sungai ini meluap, dampaknya banjir di beberapa wilayah Kabupaten Banjar,” ungkapnya.

Lanjutnya, sedangkan di daerah Banua Anam, banjir biasanya dikarenakan luapan air dari Sungai Tabalong yang melintasi Kabupaten Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Utara (HSU). “Kalau sungai ini meluap, yang banjir pasti sepaket. Yakni, Tabalong, Balangan dan HSU. HSU yang paling lama terendam, karena berada paling bawah,” ujarnya.

Selain itu, Sahruddin menyampaikan, Sungai Barito juga berpotensi meluap jika intensitas hujan tinggi di daerah hulu. Akibatnya, banjir pun terjadi di wilayah Barito Kuala. “Sementara di daerah pesisir, sungai yang rawan meluap ialah Sungai Satui, Sungai Kusan dan Sungai Tabanio. Ini bisa mengakibatkan kawasan Tanah Laut dan Tanah Bumbu banjir,” ucapnya.

Sedangkan di Banjarbaru, ada Sungai Cempaka yang saban tahun meluap apabila hujan deras mengguyur kawasan itu. Akibatnya, wilayah Kecamatan Cempaka direndam banjir. “Sungai Kemuning juga terkadang meluap, dan mengakibatkan kawasan Kemuning dan sekitarnya terendam,” beber Sahruddin.

Lalu apakah ada potensi banjir bandang di wilayah Kalsel? Dia menyampaikan, sejauh ini belum pernah terjadi banjir besar yang datang secara tiba-tiba. “Biasanya air naik secara perlahan, tidak seperti air bah yang datang tiba-tiba dan cepat,” paparnya.

Secara terpisah, terkait perkembangan La Nina, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru Goeroeh Tjiptanto menuturkan, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) pada Oktober ini telah menunjukkan kondisi La Nina. “Beberapa institusi memprediksi La Nina lemah sampai moderat terjadi hingga Maret atau Mei 2021,” tuturnya.

Lebih jauh dia memaparkan, catatan historis menunjukkan La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya.

Namun, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada Bulan Oktober-November, peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan Selatan dan hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera.

“Selanjutnya pada Desember hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara, dan Papua,” kata Goeroeh.

Sedangkan pada Oktober ini, dia mengungkapkan, Kalsel diperkirakan memasuki musim hujan. Peningkatan curah hujan, seiring dengan awal musim hujan disertai peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidro-meteorologis. Seperti banjir dan tanah longsor. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/