alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Wednesday, 25 May 2022

Playlist Demonstran

SIANG ini (15/10), kabarnya aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kembali berunjuk rasa ke gedung DPRD Kalsel di Jalan Lambung Mangkurat.

==================
Oleh: Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
==================

Gelombang kedua tak terelakkan karena Presiden Jokowi bergeming. Enggan menerbitkan Perppu guna menganulir Undang-Undang Omnibus Law.

Ujar beliau, kalau tak puas silakan ke Mahkamah Konstitusi. Terserah…

Kembali pada aksi ini, semoga cuaca Banjarmasin cerah. Provokator mendadak ambien dan tertahan di kasur. Aparat diberi kesabaran, jauh dari ketersinggungan yang brutal. Dan semua dilindungi dari ancaman corona. Amin.

Sebagai bentuk dukungan kepada mahasiswa, Opini Metro edisi ini akan mengulas musik. Lho?

Sebab, tanpa lagu perjuangan yang epik, langkah demonstran akan gontai. Wajah lekas kuyu. Dan semangat rawan jeblok.

Maka, menyusun playlist sama pentingnya dengan menyiapkan masker, pamflet dan megafon.

Sejarah membuktikan. Kala menjatuhkan Orde Baru, angkatan Reformasi 1998 punya lagu-lagu favorit. Sebutlah Bongkar karya Iwan Fals.

Dirilis tahun 1989, album Swami juga memuat hit lain berjudul Bento. Dua lagu yang memicu kontroversi hebat. Karena sangat berani, membuat kuping rezim memerah.

Bongkar dan Bento adalah tipikal lagu yang tak mudah digilas selera zaman. Pada era kuliah daring, keduanya akan terus diputar.

Nah, September 2019, saat demo besar-besaran menolak revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mahasiswa di Jakarta menyanyikan Peradaban.

Diambil dari mini album Feast bertajuk Beberapa Orang Memaafkan yang dirilis setahun sebelumnya.

Keren, ternyata lagu mahasiswa tidak itu-itu melulu. Bukan berarti Darah Juang (Johnsony Marhasak Lumbantobing) atau Buruh Tani (Marjinal) itu jelek. Tapi, tak ada salahnya mencari penyegaran.

Jadi, apa rekomendasi untuk demo kali ini?

Pada urutan pertama, ada Mosi Tidak Percaya milik Efek Rumah Kaca. Dari album Kamar Gelap yang dirilis tahun 2008.

ERK sebenarnya band pop, tapi lagu ini rock n’ roll sekali. Liriknya menohok. Plus mudah dinyanyikan secara koor.

Kedua, ada Nyanyikan Lagu Perang milik Koil. Dirilis satu dekade silam, bagian dari album Blacklight Shines On.

Judulnya saja sudah gagah. Meski nyinyir, tapi tak bikin pesimis. Coba simak, “Kita bukan penguasa, kita rakyat jelata, bekerja dan berdoa. Kita bangsa yang besar, berdirilah yang tegar.”

Pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani bahkan mengaku iri dengan Otong, vokalis Koil. Karena Otong mampu menulis lirik politik semudah menulis lirik cinta.

Ketiga, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan) milik Seringai. Andalan dari album Serigala Militia yang dirilis tahun 2007.

Anehnya, pendengar kerap salah kaprah. Menyebut judul lagu ini sebagai Individu Merdeka. Yang sebenarnya merupakan bagian dari chorus-nya.

Vokalis Seringai, Arian 13 memang jago dalam menggubah chorus yang asyik untuk dinyanyikan bareng-bareng pas konser.

Terakhir, untuk sesi pemanasan, Garuda di Dadaku milik NTRL (dulu Netral) pantas dipilih.

Lagu ini menjadi OST untuk film dengan judul yang sama. Rilis tahun 2007, film ini bercerita tentang sepak bola. Tentang seleksi timnas junior Indonesia.

Dosis nasionalisme dari trek punk ini memang tinggi. Bagus untuk memprovokasi demonstran yang lupa sarapan. Apalagi kalau dinyanyikan sambil menabuh galon-galon bekas.

Saran playlist ini boleh dimodifikasi koordinator aksi sesuai kebutuhan di lapangan.

Tentu tangga lagu ini bisa lebih panjang. Karena musisi lokal kian melek politik. Bukan hanya kritis, karya mereka memang bermutu.

Untuk menyebut beberapa, dari unit stoner asal Bali, Jangar punya Negeri Nego. Sementara anak grunge punya Luka Bernegara dari Cupumanik. Dan yang sedang ngehit, Retorika dari The Brandals.

Masalahnya, tak semua lagu sarat kritik enak dinyanyikan pas berdemo. Contoh, anak metal telah menghafal Paradoks milik Burgerkill. Lalu, legenda hip hop Homicide punya Tantang Tirani yang luar biasa secara diksi.

Bayangkan ada mahasiswa yang nekat nge-scream atau ngerap di depan wakil rakyat. Rawan salah paham. Nanti malah dikira polisi sedang menyemburkan ujaran kebencian. (*)

SIANG ini (15/10), kabarnya aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kembali berunjuk rasa ke gedung DPRD Kalsel di Jalan Lambung Mangkurat.

==================
Oleh: Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
==================

Gelombang kedua tak terelakkan karena Presiden Jokowi bergeming. Enggan menerbitkan Perppu guna menganulir Undang-Undang Omnibus Law.

Ujar beliau, kalau tak puas silakan ke Mahkamah Konstitusi. Terserah…

Kembali pada aksi ini, semoga cuaca Banjarmasin cerah. Provokator mendadak ambien dan tertahan di kasur. Aparat diberi kesabaran, jauh dari ketersinggungan yang brutal. Dan semua dilindungi dari ancaman corona. Amin.

Sebagai bentuk dukungan kepada mahasiswa, Opini Metro edisi ini akan mengulas musik. Lho?

Sebab, tanpa lagu perjuangan yang epik, langkah demonstran akan gontai. Wajah lekas kuyu. Dan semangat rawan jeblok.

Maka, menyusun playlist sama pentingnya dengan menyiapkan masker, pamflet dan megafon.

Sejarah membuktikan. Kala menjatuhkan Orde Baru, angkatan Reformasi 1998 punya lagu-lagu favorit. Sebutlah Bongkar karya Iwan Fals.

Dirilis tahun 1989, album Swami juga memuat hit lain berjudul Bento. Dua lagu yang memicu kontroversi hebat. Karena sangat berani, membuat kuping rezim memerah.

Bongkar dan Bento adalah tipikal lagu yang tak mudah digilas selera zaman. Pada era kuliah daring, keduanya akan terus diputar.

Nah, September 2019, saat demo besar-besaran menolak revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mahasiswa di Jakarta menyanyikan Peradaban.

Diambil dari mini album Feast bertajuk Beberapa Orang Memaafkan yang dirilis setahun sebelumnya.

Keren, ternyata lagu mahasiswa tidak itu-itu melulu. Bukan berarti Darah Juang (Johnsony Marhasak Lumbantobing) atau Buruh Tani (Marjinal) itu jelek. Tapi, tak ada salahnya mencari penyegaran.

Jadi, apa rekomendasi untuk demo kali ini?

Pada urutan pertama, ada Mosi Tidak Percaya milik Efek Rumah Kaca. Dari album Kamar Gelap yang dirilis tahun 2008.

ERK sebenarnya band pop, tapi lagu ini rock n’ roll sekali. Liriknya menohok. Plus mudah dinyanyikan secara koor.

Kedua, ada Nyanyikan Lagu Perang milik Koil. Dirilis satu dekade silam, bagian dari album Blacklight Shines On.

Judulnya saja sudah gagah. Meski nyinyir, tapi tak bikin pesimis. Coba simak, “Kita bukan penguasa, kita rakyat jelata, bekerja dan berdoa. Kita bangsa yang besar, berdirilah yang tegar.”

Pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani bahkan mengaku iri dengan Otong, vokalis Koil. Karena Otong mampu menulis lirik politik semudah menulis lirik cinta.

Ketiga, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan) milik Seringai. Andalan dari album Serigala Militia yang dirilis tahun 2007.

Anehnya, pendengar kerap salah kaprah. Menyebut judul lagu ini sebagai Individu Merdeka. Yang sebenarnya merupakan bagian dari chorus-nya.

Vokalis Seringai, Arian 13 memang jago dalam menggubah chorus yang asyik untuk dinyanyikan bareng-bareng pas konser.

Terakhir, untuk sesi pemanasan, Garuda di Dadaku milik NTRL (dulu Netral) pantas dipilih.

Lagu ini menjadi OST untuk film dengan judul yang sama. Rilis tahun 2007, film ini bercerita tentang sepak bola. Tentang seleksi timnas junior Indonesia.

Dosis nasionalisme dari trek punk ini memang tinggi. Bagus untuk memprovokasi demonstran yang lupa sarapan. Apalagi kalau dinyanyikan sambil menabuh galon-galon bekas.

Saran playlist ini boleh dimodifikasi koordinator aksi sesuai kebutuhan di lapangan.

Tentu tangga lagu ini bisa lebih panjang. Karena musisi lokal kian melek politik. Bukan hanya kritis, karya mereka memang bermutu.

Untuk menyebut beberapa, dari unit stoner asal Bali, Jangar punya Negeri Nego. Sementara anak grunge punya Luka Bernegara dari Cupumanik. Dan yang sedang ngehit, Retorika dari The Brandals.

Masalahnya, tak semua lagu sarat kritik enak dinyanyikan pas berdemo. Contoh, anak metal telah menghafal Paradoks milik Burgerkill. Lalu, legenda hip hop Homicide punya Tantang Tirani yang luar biasa secara diksi.

Bayangkan ada mahasiswa yang nekat nge-scream atau ngerap di depan wakil rakyat. Rawan salah paham. Nanti malah dikira polisi sedang menyemburkan ujaran kebencian. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/