alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

9 Jam Mandi Keringat, Kerasnya Hidup di Balik Kostum Badut Jalanan

Dengan mengenakan kostum badut, Wahyu tampak melambaikan tangannya, berharap mendapatkan uang dari para pengendara yang melintas. Pria 35 tahun ini tidak sendiri, di Jalan A Yani Km 37, Kota Banjarbaru itu ada sekitar lima badut karakter yang mangkal. Bagaimanakah kehidupan mereka di tengah ancaman pandemi Covid-19 saat ini?

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru —

Kemarin (13/10) siang, udara Banjarbaru terasa panas. 33 derajat celcius jika ditilik di layar handphone. Radar Banjarmasin menemui para badut yang mangkal di sepanjang jalan di depan Q Mall Banjarbaru ika itu. Walaupun hari cukup panas, mereka terlihat tetap bersemangat menyapa para pengendara yang melintas.

Sesekali ada yang membuka kepala kostum badutnya untuk menyeka keringat yang sudah memenuhi wajahnya. Beberapa juga memilih berdiri di bawah pohon untuk menghindari sinar matahari.

Wahyu, salah seorang badut karakter mengatakan, panas dan hujan tidak menjadi kendala bagi mereka untuk mencari rezeki. “Kalau takut panas dan hujan, keluarga mau makan apa?” katanya kepada wartawan koran ini.

Panasnya cuaca kata Wahyu, membuat keringatnya terus mengalir hingga membuat bajunya di dalam kostum badut karakter Ipin: salah satu tokoh animasi anak-anak, yang dipakainya basah semua. “Kalau tidak tahan dengan panas matahari, kami biasanya memanfaatkan pohon untuk bernaung,” bebernya.

Namun, dia mengungkapkan, semenjak virus corona mewabah pendapatannya jauh menurun. “Dulu sebelum pandemi bisa dapat uang Rp80 ribu sehari. Sekarang paling Rp40 ribu. Bahkan bisa tidak dapat uang sama sekali,” ungkapnya.

Pendapatannya itupun tidak sepenuhnya untuk dirinya, warga Desa Tangkas, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar ini harus menyisihkan 30 persen untuk membayar sewa kostum badut. “Kalau dapat Rp40 ribu, berarti Rp10 ribu untuk pemilik kostum,” ujar Wahyu.

Meski pendapatannya semakin sedikit, dia mengaku tetap bersyukur. “Bisa saja dicukup-cukupkan untuk keperluan keluarga, walaupun tidak sebanding dengan lamanya mangkal di jalan,” katanya.

Bapak dua anak ini mengaku mangkal sembilan jam saban hari. Dari pukul 9 pagi sampai 6 sore. Selama itu, Wahyu tidak melepas kostum badutnya. “Paling melepas kepalanya saja, kalau mau minum atau makan,” ujarnya.

Supaya tahan berjam-jam mengenakan kostum badut, Wahyu menyampaikan, biasanya dirinya menghindari sinar matahari. “Saya usahakan mangkal di tempat yang teduh,” ucapnya.

Hal senada diutarakan Triyono, 45, badut karakter lainnya yang mangkal di sana. Dirinya biasanya mangkal di samping tugu perbatasan antara Martapura dan Banjarbaru, supaya tidak terpapar sinar matahari. “Tidak sanggup kalau terlalu lama berpanas-panasan,” katanya.

Terkait pendapatannya, tidak jauh berbeda dengan Wahyu. Semenjak pandemi datang, Triyono mengaku kesulitan mencari penghasilan. “Tidak banyak yang ngasih uang. Bahkan, ada yang cuma memberi 200 rupiah,” paparnya.

Namun, warga Sekumpul, Martapura ini mengaku tidak dapat meninggalkan pekerjaannya sebagai badut. Sebab, tidak ada usaha lain yang bisa dilakukannya. “Dulu pernah berjualan pentol, tapi malah merugi. Tidak balik modal,” ucapnya.

Dia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk para badut karakter. Karena, minimnya pendapatan membuat mereka kesulitan menghidupi keluarga. “Apalagi dua anak saya masih sekolah. Saya harus membeli paket internet untuk mereka sekolah online,” pungkas bapak empat anak ini. (ris/ran/ema)

Dengan mengenakan kostum badut, Wahyu tampak melambaikan tangannya, berharap mendapatkan uang dari para pengendara yang melintas. Pria 35 tahun ini tidak sendiri, di Jalan A Yani Km 37, Kota Banjarbaru itu ada sekitar lima badut karakter yang mangkal. Bagaimanakah kehidupan mereka di tengah ancaman pandemi Covid-19 saat ini?

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru —

Kemarin (13/10) siang, udara Banjarbaru terasa panas. 33 derajat celcius jika ditilik di layar handphone. Radar Banjarmasin menemui para badut yang mangkal di sepanjang jalan di depan Q Mall Banjarbaru ika itu. Walaupun hari cukup panas, mereka terlihat tetap bersemangat menyapa para pengendara yang melintas.

Sesekali ada yang membuka kepala kostum badutnya untuk menyeka keringat yang sudah memenuhi wajahnya. Beberapa juga memilih berdiri di bawah pohon untuk menghindari sinar matahari.

Wahyu, salah seorang badut karakter mengatakan, panas dan hujan tidak menjadi kendala bagi mereka untuk mencari rezeki. “Kalau takut panas dan hujan, keluarga mau makan apa?” katanya kepada wartawan koran ini.

Panasnya cuaca kata Wahyu, membuat keringatnya terus mengalir hingga membuat bajunya di dalam kostum badut karakter Ipin: salah satu tokoh animasi anak-anak, yang dipakainya basah semua. “Kalau tidak tahan dengan panas matahari, kami biasanya memanfaatkan pohon untuk bernaung,” bebernya.

Namun, dia mengungkapkan, semenjak virus corona mewabah pendapatannya jauh menurun. “Dulu sebelum pandemi bisa dapat uang Rp80 ribu sehari. Sekarang paling Rp40 ribu. Bahkan bisa tidak dapat uang sama sekali,” ungkapnya.

Pendapatannya itupun tidak sepenuhnya untuk dirinya, warga Desa Tangkas, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar ini harus menyisihkan 30 persen untuk membayar sewa kostum badut. “Kalau dapat Rp40 ribu, berarti Rp10 ribu untuk pemilik kostum,” ujar Wahyu.

Meski pendapatannya semakin sedikit, dia mengaku tetap bersyukur. “Bisa saja dicukup-cukupkan untuk keperluan keluarga, walaupun tidak sebanding dengan lamanya mangkal di jalan,” katanya.

Bapak dua anak ini mengaku mangkal sembilan jam saban hari. Dari pukul 9 pagi sampai 6 sore. Selama itu, Wahyu tidak melepas kostum badutnya. “Paling melepas kepalanya saja, kalau mau minum atau makan,” ujarnya.

Supaya tahan berjam-jam mengenakan kostum badut, Wahyu menyampaikan, biasanya dirinya menghindari sinar matahari. “Saya usahakan mangkal di tempat yang teduh,” ucapnya.

Hal senada diutarakan Triyono, 45, badut karakter lainnya yang mangkal di sana. Dirinya biasanya mangkal di samping tugu perbatasan antara Martapura dan Banjarbaru, supaya tidak terpapar sinar matahari. “Tidak sanggup kalau terlalu lama berpanas-panasan,” katanya.

Terkait pendapatannya, tidak jauh berbeda dengan Wahyu. Semenjak pandemi datang, Triyono mengaku kesulitan mencari penghasilan. “Tidak banyak yang ngasih uang. Bahkan, ada yang cuma memberi 200 rupiah,” paparnya.

Namun, warga Sekumpul, Martapura ini mengaku tidak dapat meninggalkan pekerjaannya sebagai badut. Sebab, tidak ada usaha lain yang bisa dilakukannya. “Dulu pernah berjualan pentol, tapi malah merugi. Tidak balik modal,” ucapnya.

Dia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk para badut karakter. Karena, minimnya pendapatan membuat mereka kesulitan menghidupi keluarga. “Apalagi dua anak saya masih sekolah. Saya harus membeli paket internet untuk mereka sekolah online,” pungkas bapak empat anak ini. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/