alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Selasa, 17 Mei 2022

Okupansi Hotel Membaik, Tapi Belum Normal; Kembali Lesu karena PSBB di Jakarta

BANJARBARU – Setelah terpuruk di awal-awal pandemi Covid-19, bisnis perhotelan kini mulai bergairah. Dalam beberapa bulan terakhir Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Banua terus meningkat. Hanya saja, okupansi atau tingkat hunian masih belum normal seperti sebelum pagebluk melanda.

Sekretaris Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Selatan, Fahmi mengatakan, okupansi hotel saat ini masih kurang 40 persen jika dibandingkan masa-masa sebelum pandemi. “Sekarang tingkat hunian rata-rata 55 persen,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Dia mengungkapkan, belum normalnya tingkat hunian memaksa hotel masih merumahkan sebagian karyawannya. Sebab, pendapatan terhitung minim. “Ada 10 persen karyawan yang dirumahkan. Sebab, hotel saat ini tidak bisa mendapatkan profit. Pemasukan cuma cukup untuk bayar gaji karyawan, air, listrik, telepon dan lain-lain,” ungkapnya.

General Manager Hotel Roditha Banjarbaru ini berharap, bisnis perhotelan bisa kembali bergairah seperti sebelum ada pandemi. Sehingga para pengusaha hotel bisa mendapatkan profit. “Dalam beberapa bulan terakhir okupansi sebenarnya mulai naik, tapi tidak banyak. Agustus misalnya, okupansi 50 persen. Lalu bulan ini 55 persen,” bebernya.

Kenapa bisnis hotel sulit kembali normal? Dia menyampaikan, hal itu dikarenakan sejumlah bisnis belum pulih. Sehingga tidak banyak tamu dari luar daerah yang masuk ke Kalsel. “Saat ini hanya sektor pertambangan yang bertahan,” ucapnya.

Secara terpisah, GM Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru, Roy Amazon membenarkan jika tingkat okupansi hotel hingga kini belum normal. “Rata-rata 50 persen masih,” paparnya. Dia menuturkan, pada Agustus lalu sebenarnya sempat membaik. Tetapi bulan ini kembali lesu lantaran diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah. Termasuk di Jakarta. 

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis, tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Agustus 2020 sebesar 45,80 persen atau naik 8,57 poin dibandingkan Juli 2020 yang saat itu cuma 37,23 persen.

Sedangkan TPK hotel non bintang, pada bulan yang sama terjadi penurunan dibandingkan dengan Juli 2020. Yakni dari 20,59 persen menjadi 19,88 persen, atau turun 9,95 poin.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, untuk hotel berbintang, berdasarkan klasifikasinya pada Agustus 2020, TPK tertinggi dicapai oleh kelompok hotel bintang 3. Yakni sebesar 51,60 persen. Sementara TPK terendah terjadi pada hotel bintang 1, sebesar 14,73 persen. “Jika dibandingkan bulan sebelumnya, klasifikasi hotel bintang 3 mengalami peningkatan sebesar 14,31 poin,” katanya.

Sementara klasifikasi hotel bintang 4, dia menyebut naik sebesar 7,05 poin dan klasifikasi hotel bintang 2 naik 5,10 poin. “Kalau klasifikasi bintang 1 terjadi penurunan sebesar 3,96 poin,” sebutnya.

Di sisi lain, TPK tertinggi pada hotel non bintang pada bulan Agustus 2020 dicapai oleh kelompok hotel dengan jumlah kamar 41 sampai 100. Yakni sebesar 24,63 persen. “Sedangkan TPK terendah terjadi pada kelompok jumlah kamar kurang dari 10, yaitu sebesar 15,38 persen,” ujar Edy.

Dia menyampaikan, dibandingkan bulan sebelumnya, TPK kelompok hotel dengan jumlah kamar 10 – 24 naik 0,61 poin. Sementara kelompok dengan jumlah kamar 25 – 40 naik 0,02 poin dan kelompok dengan jumlah kamar 41 – 100 turun 13,03 poin. “Untuk kelompok dengan jumlah kamar kurang dari 10 naik 1,77 poin,” pungkasnya. (ris/tof/ema)

BANJARBARU – Setelah terpuruk di awal-awal pandemi Covid-19, bisnis perhotelan kini mulai bergairah. Dalam beberapa bulan terakhir Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Banua terus meningkat. Hanya saja, okupansi atau tingkat hunian masih belum normal seperti sebelum pagebluk melanda.

Sekretaris Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Selatan, Fahmi mengatakan, okupansi hotel saat ini masih kurang 40 persen jika dibandingkan masa-masa sebelum pandemi. “Sekarang tingkat hunian rata-rata 55 persen,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Dia mengungkapkan, belum normalnya tingkat hunian memaksa hotel masih merumahkan sebagian karyawannya. Sebab, pendapatan terhitung minim. “Ada 10 persen karyawan yang dirumahkan. Sebab, hotel saat ini tidak bisa mendapatkan profit. Pemasukan cuma cukup untuk bayar gaji karyawan, air, listrik, telepon dan lain-lain,” ungkapnya.

General Manager Hotel Roditha Banjarbaru ini berharap, bisnis perhotelan bisa kembali bergairah seperti sebelum ada pandemi. Sehingga para pengusaha hotel bisa mendapatkan profit. “Dalam beberapa bulan terakhir okupansi sebenarnya mulai naik, tapi tidak banyak. Agustus misalnya, okupansi 50 persen. Lalu bulan ini 55 persen,” bebernya.

Kenapa bisnis hotel sulit kembali normal? Dia menyampaikan, hal itu dikarenakan sejumlah bisnis belum pulih. Sehingga tidak banyak tamu dari luar daerah yang masuk ke Kalsel. “Saat ini hanya sektor pertambangan yang bertahan,” ucapnya.

Secara terpisah, GM Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru, Roy Amazon membenarkan jika tingkat okupansi hotel hingga kini belum normal. “Rata-rata 50 persen masih,” paparnya. Dia menuturkan, pada Agustus lalu sebenarnya sempat membaik. Tetapi bulan ini kembali lesu lantaran diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah. Termasuk di Jakarta. 

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis, tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Agustus 2020 sebesar 45,80 persen atau naik 8,57 poin dibandingkan Juli 2020 yang saat itu cuma 37,23 persen.

Sedangkan TPK hotel non bintang, pada bulan yang sama terjadi penurunan dibandingkan dengan Juli 2020. Yakni dari 20,59 persen menjadi 19,88 persen, atau turun 9,95 poin.

Kepala BPS Kalsel, Moh Edy Mahmud mengatakan, untuk hotel berbintang, berdasarkan klasifikasinya pada Agustus 2020, TPK tertinggi dicapai oleh kelompok hotel bintang 3. Yakni sebesar 51,60 persen. Sementara TPK terendah terjadi pada hotel bintang 1, sebesar 14,73 persen. “Jika dibandingkan bulan sebelumnya, klasifikasi hotel bintang 3 mengalami peningkatan sebesar 14,31 poin,” katanya.

Sementara klasifikasi hotel bintang 4, dia menyebut naik sebesar 7,05 poin dan klasifikasi hotel bintang 2 naik 5,10 poin. “Kalau klasifikasi bintang 1 terjadi penurunan sebesar 3,96 poin,” sebutnya.

Di sisi lain, TPK tertinggi pada hotel non bintang pada bulan Agustus 2020 dicapai oleh kelompok hotel dengan jumlah kamar 41 sampai 100. Yakni sebesar 24,63 persen. “Sedangkan TPK terendah terjadi pada kelompok jumlah kamar kurang dari 10, yaitu sebesar 15,38 persen,” ujar Edy.

Dia menyampaikan, dibandingkan bulan sebelumnya, TPK kelompok hotel dengan jumlah kamar 10 – 24 naik 0,61 poin. Sementara kelompok dengan jumlah kamar 25 – 40 naik 0,02 poin dan kelompok dengan jumlah kamar 41 – 100 turun 13,03 poin. “Untuk kelompok dengan jumlah kamar kurang dari 10 naik 1,77 poin,” pungkasnya. (ris/tof/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/