alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Tak Ada UN Tahun Depan, Diganti Asesmen

BANJARBARU –  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) resmi menghapus Ujian Nasional (UN) pada tahun depan atau 2021. Sebagai gantinya, pemerintah bakal memberlakukan Asesmen Nasional.

Informasi tersebut dibenarkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, M Yusuf Effendy. Dia mengungkapkan, UN tahun depan sudah tidak ada. Sebab, asesmen yang akan menjadi syarat kelulusan sekolah.

Terkait bagaimana prosedur pelaksanaan Asesmen Nasional, dia mengaku masih menunggu petunjuk teknis dari pusat. “Kita tunggu saja bagaimana nanti pelaksanaannya,” beber Yusuf. 

Terkait aturan ini, Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kalsel, Eko Sanyoto mengaku siap melaksanakan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. “Kemarin dapat info UN dihapus diganti asesmen. Kami sebagai guru siap melaksanakannya,” katanya. 

Namun, dia menyampaikan, sekolah masih belum tahu bagaimana teknis pelaksanaan Asesmen Nasional. Karena belum ada pemberitahuan dari Disdikbud maupun Kemendikbud. “Katanya tetap ada ujian sekolah. Mungkin Oktober atau November sudah mulai disosialisasikan,” ujar Kepala SMAN 1 Martapura ini. 

Hal senada disampaikan Kepala SMAN 1 Banjarbaru, Finna Rahmiati. Dia mengaku belum mengetahui teknis Asesmen Nasional sebagai pengganti UN. “Karena belum begitu jelas tentang teknisnya, jadi saya belum bisa menentukan apakah asesmen ini lebih baik dari UN atau tidak,” katanya. 

Namun sekilas yang dia tahu, asesmen merujuk pada persoalan faktual yang ditemui siswa sehari-hari di lapangan. Dengan mengukur kemampuan literasi dan numerasi, serta kemampuan bernalar dan angka. “Kalau dilihat sekilas seperti itu menurut saya bagus. Karena berguna dalam implementasi di kehidupan sehari-hari,” ujar Finna. 

Sementara itu, jelang penerapan Asesmen Nasional pada 2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengundang para pemangku kepentingan untuk memberikan masukan. Asesmen Nasional tidak hanya dirancang sebagai pengganti Ujian Nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengatakan, perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu. Tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil. 

“Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia,” ucap Mendikbud Nadiem, Rabu (7/10).

Asesmen Nasional 2021 adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah. Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. 

AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif, yaitu literasi dan numerasi. Kedua aspek kompetensi minimum ini menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.

“Fokus pada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran. Karena justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lain, terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis serta dalam bantuk angka atau secara kuantitatif,” jelas Mendikbud. 

Bagian kedua dari Asesmen Nasional adalah survei karakter yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional, berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila. “Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif,” tutur Nadiem.

Bagian ketiga dari Asesmen Nasional adalah survei lingkungan belajar untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Asesmen Nasional pada 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid. “Hasil Asesmen Nasional tidak ada konsekuensinya buat sekolah, hanya pemetaan agar tahu kondisi sebenarnya,” ujar Nadiem.

Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan dengan cara menyediakan laporan hasil asesmen yang menjelaskan profil kekuatan dan area perbaikan tiap sekolah serta daerah.

“Sangat penting dipahami terutama oleh guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua bahwa Asesmen Nasional untuk 2021 tidak memerlukan persiapan-persiapan khusus maupun tambahan yang justru akan menjadi beban psikologis tersendiri. Tidak usah cemas, tidak perlu bimbel khusus demi Asesmen Nasional,” kata Mendikbud.

Senada itu, anggota Badan Standar Nasional Pendididikan (BSNP), periode 2019 – 2023, Doni Koesoema mengatakan Asesmen Nasional ini menjadi salah satu alternatif transformasi pendidikan di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pengajaran, dan lingkungan belajar di satuan pendidikan.

“Melalui asesmen yang lebih berfokus, diharapkan perbaikan kualitas, layanan pendidikan bisa semakin efektif. Dengan demikian Kepala Dinas harus memastikan pelaksanaan Asesmen Nasional di daerah dengan memerhatikan kesiapan sarana prasarana dan keselamatan peserta didik bila pandemi Covid-19 di daerahnya belum teratasi dengan baik” ujar Doni. 

Untuk itu, pemerintah mengajak semua para pemangku kepentingan untuk bersiap dalam mendukung pelaksanaan Asesmen Nasional mulai 2021 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. (ris/esy/tof/ema)

BANJARBARU –  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) resmi menghapus Ujian Nasional (UN) pada tahun depan atau 2021. Sebagai gantinya, pemerintah bakal memberlakukan Asesmen Nasional.

Informasi tersebut dibenarkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, M Yusuf Effendy. Dia mengungkapkan, UN tahun depan sudah tidak ada. Sebab, asesmen yang akan menjadi syarat kelulusan sekolah.

Terkait bagaimana prosedur pelaksanaan Asesmen Nasional, dia mengaku masih menunggu petunjuk teknis dari pusat. “Kita tunggu saja bagaimana nanti pelaksanaannya,” beber Yusuf. 

Terkait aturan ini, Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kalsel, Eko Sanyoto mengaku siap melaksanakan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. “Kemarin dapat info UN dihapus diganti asesmen. Kami sebagai guru siap melaksanakannya,” katanya. 

Namun, dia menyampaikan, sekolah masih belum tahu bagaimana teknis pelaksanaan Asesmen Nasional. Karena belum ada pemberitahuan dari Disdikbud maupun Kemendikbud. “Katanya tetap ada ujian sekolah. Mungkin Oktober atau November sudah mulai disosialisasikan,” ujar Kepala SMAN 1 Martapura ini. 

Hal senada disampaikan Kepala SMAN 1 Banjarbaru, Finna Rahmiati. Dia mengaku belum mengetahui teknis Asesmen Nasional sebagai pengganti UN. “Karena belum begitu jelas tentang teknisnya, jadi saya belum bisa menentukan apakah asesmen ini lebih baik dari UN atau tidak,” katanya. 

Namun sekilas yang dia tahu, asesmen merujuk pada persoalan faktual yang ditemui siswa sehari-hari di lapangan. Dengan mengukur kemampuan literasi dan numerasi, serta kemampuan bernalar dan angka. “Kalau dilihat sekilas seperti itu menurut saya bagus. Karena berguna dalam implementasi di kehidupan sehari-hari,” ujar Finna. 

Sementara itu, jelang penerapan Asesmen Nasional pada 2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengundang para pemangku kepentingan untuk memberikan masukan. Asesmen Nasional tidak hanya dirancang sebagai pengganti Ujian Nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengatakan, perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu. Tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil. 

“Potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini kemudian menjadi cermin untuk melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan Indonesia,” ucap Mendikbud Nadiem, Rabu (7/10).

Asesmen Nasional 2021 adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah. Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. 

AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif, yaitu literasi dan numerasi. Kedua aspek kompetensi minimum ini menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.

“Fokus pada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran. Karena justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lain, terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis serta dalam bantuk angka atau secara kuantitatif,” jelas Mendikbud. 

Bagian kedua dari Asesmen Nasional adalah survei karakter yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional, berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila. “Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif,” tutur Nadiem.

Bagian ketiga dari Asesmen Nasional adalah survei lingkungan belajar untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Asesmen Nasional pada 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid. “Hasil Asesmen Nasional tidak ada konsekuensinya buat sekolah, hanya pemetaan agar tahu kondisi sebenarnya,” ujar Nadiem.

Kemendikbud juga akan membantu sekolah dan dinas pendidikan dengan cara menyediakan laporan hasil asesmen yang menjelaskan profil kekuatan dan area perbaikan tiap sekolah serta daerah.

“Sangat penting dipahami terutama oleh guru, kepala sekolah, murid, dan orang tua bahwa Asesmen Nasional untuk 2021 tidak memerlukan persiapan-persiapan khusus maupun tambahan yang justru akan menjadi beban psikologis tersendiri. Tidak usah cemas, tidak perlu bimbel khusus demi Asesmen Nasional,” kata Mendikbud.

Senada itu, anggota Badan Standar Nasional Pendididikan (BSNP), periode 2019 – 2023, Doni Koesoema mengatakan Asesmen Nasional ini menjadi salah satu alternatif transformasi pendidikan di tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pengajaran, dan lingkungan belajar di satuan pendidikan.

“Melalui asesmen yang lebih berfokus, diharapkan perbaikan kualitas, layanan pendidikan bisa semakin efektif. Dengan demikian Kepala Dinas harus memastikan pelaksanaan Asesmen Nasional di daerah dengan memerhatikan kesiapan sarana prasarana dan keselamatan peserta didik bila pandemi Covid-19 di daerahnya belum teratasi dengan baik” ujar Doni. 

Untuk itu, pemerintah mengajak semua para pemangku kepentingan untuk bersiap dalam mendukung pelaksanaan Asesmen Nasional mulai 2021 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. (ris/esy/tof/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/