alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Kamis, 19 Mei 2022

Penolakan UU Omnibus Law: Dari Jam 8 Sampai Menang

Unjuk rasa menolak Undang-Undang Omnibus Law di Banjarmasin diprakarsai mahasiswa. Tuntutan mereka satu, Presiden Jokowi mengeluarkan Perppu untuk mencabut UU kontroversial tersebut.

Baca juga: Dari Demo Kemarin: Ada yang Kecopetan, Ada yang Mengamuk Bawa Sajam

 

BANJARMASIN – Sehari sebelum aksi, pamflet undangan berseliweran di media sosial. Demonstran diundang berkumpul di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Tujuannya gedung DPRD Kalsel.

Dalam pamflet itu tertulis, aksi akan dimulai sejak jam 8 pagi dan baru berakhir ketika menang. Artinya, demonstran takkan pulang sampai tuntutan dipenuhi.

Di luar dugaan, aksi yang semula ditaksir hanya diikuti 500 orang, kemarin (8/10) ternyata tembus angka 1.000 orang.

Jalan Lambung Mangkurat pun dijejali massa. Tak hanya mahasiswa, warga biasa dan SMK juga berdatangan.

“Ini panggilan jiwa, bang,” kata M Nabil Yafi, siswa kelas XII SMKN 4 Banjarmasin. Dia datang bersama tiga temannya, Adit, Adam dan Halim dari kelas XI. Ketiganya tak kalah bersemangat.

Di lapangan, mudah membedakan asal demonstran. Mahasiswa mengenakan jaket almameter kampusnya masing-masing. Sedangkan yang bukan mahasiswa mengenakan pakaian berwarna gelap.

Barikade gedung dewan tak kalah ketat. Selain dua mobil water canon, Polda Kalsel dan Polresta Banjarmasin juga meminta bantuan.

“Ada personel dari Polresta Banjarbaru, Polres Banjar dan Polres Barito Kuala. Kami juga dibantu Kodim 1007/Banjarmasin,” kata Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Rachmat Hendrawan.

Niat massa untuk menduduki gedung dewan pun gagal. Barikade itu tak bisa ditembus.

Keadaan sempat memanas ketika massa meminta wakil rakyat dihadirkan ke tengah-tengah massa. Syukur, emosi bisa diredam. Kendati sejumlah pot bunga di pedestrian jalan menjadi korban. Pecah dan terhambur.

Permintaan dialog akhirnya dikabulkan. Tak hanya dihadiri Ketua DPRD Kalsel, Supian HK, tapi juga ada Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan.

Sesusai mendengar tuntutan massa, anggota DPRD menyatakan sikap. Satu suara dengan pengunjuk rasa: menolak Omnibus Law. Senada dengan Rudy. Ia menyatakan, Pemprov Kalsel sepakat mendukung aspirasi mahasiswa.

Sebagai jaminan, Supian berjanji akan segera berangkat ke Jakarta. Menyampaikan aspirasi langsung ke Istana Negara.

Politikus partai Golkar itu juga sempat mengajak perwakilan mahasiswa untuk berangkat bareng. Tentu saja ditolak.

“Massa aksi sepakat berangkat bersama atau bertahan di gedung DPRD. Kami sepakat untuk menunggu hasilnya,” tegas Koordinator Wilayah BEM se-Kalimantan, Ahdiat Zairullah.

Semakin siang, kondisi kian mencair. Tak ada lagi gesekan. Perwakilan pengunjuk rasa kemudian diajak masuk untuk menandatangi surat tuntutan. Nota kesepahaman itu ditandatangani pula oleh Ketua DPRD Kalsel dan Plt Gubernur Kalsel.

Janji Hari Ini Bakal Kembali

Setelah bertahan di tengah guyuran hujan deras, massa aksi baru membubarkan diri pada sore hari.

Sembari beranjak pergi, mahasiswa dan pelajar tetap menyanyikan lagu perjuangan.

Sebelum hujan turun, puluhan orang berkaos hitam sempat menyalakan kembang api di tengah jalan. Aksi itu dikhawatirkan bisa memicu kericuhan. Tapi toh padam dengan sendirinya.

Kendati memilih pulang, Koordinator Wilayah BEM se-Kalimantan, Ahdiat Zairullah menegaskan, mereka akan kembali hari ini (9/10).

Menagih janji Anggota DPRD Kalsel yang menyatakan akan membawa tuntutan mahasiswa kepada Presiden Joko Widodo. Agar mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk mendepak UU Omnibus Law.

“Kami akan kembali lagi besok pagi guna menuntut janji,” tuntasnya.

Informasi terakhir, Ketua DPRD Kalsel, Supian HK masih menyiapkan keberangkatannya menuju Jakarta. (war/fud/ema)

Unjuk rasa menolak Undang-Undang Omnibus Law di Banjarmasin diprakarsai mahasiswa. Tuntutan mereka satu, Presiden Jokowi mengeluarkan Perppu untuk mencabut UU kontroversial tersebut.

Baca juga: Dari Demo Kemarin: Ada yang Kecopetan, Ada yang Mengamuk Bawa Sajam

 

BANJARMASIN – Sehari sebelum aksi, pamflet undangan berseliweran di media sosial. Demonstran diundang berkumpul di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Tujuannya gedung DPRD Kalsel.

Dalam pamflet itu tertulis, aksi akan dimulai sejak jam 8 pagi dan baru berakhir ketika menang. Artinya, demonstran takkan pulang sampai tuntutan dipenuhi.

Di luar dugaan, aksi yang semula ditaksir hanya diikuti 500 orang, kemarin (8/10) ternyata tembus angka 1.000 orang.

Jalan Lambung Mangkurat pun dijejali massa. Tak hanya mahasiswa, warga biasa dan SMK juga berdatangan.

“Ini panggilan jiwa, bang,” kata M Nabil Yafi, siswa kelas XII SMKN 4 Banjarmasin. Dia datang bersama tiga temannya, Adit, Adam dan Halim dari kelas XI. Ketiganya tak kalah bersemangat.

Di lapangan, mudah membedakan asal demonstran. Mahasiswa mengenakan jaket almameter kampusnya masing-masing. Sedangkan yang bukan mahasiswa mengenakan pakaian berwarna gelap.

Barikade gedung dewan tak kalah ketat. Selain dua mobil water canon, Polda Kalsel dan Polresta Banjarmasin juga meminta bantuan.

“Ada personel dari Polresta Banjarbaru, Polres Banjar dan Polres Barito Kuala. Kami juga dibantu Kodim 1007/Banjarmasin,” kata Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Rachmat Hendrawan.

Niat massa untuk menduduki gedung dewan pun gagal. Barikade itu tak bisa ditembus.

Keadaan sempat memanas ketika massa meminta wakil rakyat dihadirkan ke tengah-tengah massa. Syukur, emosi bisa diredam. Kendati sejumlah pot bunga di pedestrian jalan menjadi korban. Pecah dan terhambur.

Permintaan dialog akhirnya dikabulkan. Tak hanya dihadiri Ketua DPRD Kalsel, Supian HK, tapi juga ada Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Kalsel, Rudy Resnawan.

Sesusai mendengar tuntutan massa, anggota DPRD menyatakan sikap. Satu suara dengan pengunjuk rasa: menolak Omnibus Law. Senada dengan Rudy. Ia menyatakan, Pemprov Kalsel sepakat mendukung aspirasi mahasiswa.

Sebagai jaminan, Supian berjanji akan segera berangkat ke Jakarta. Menyampaikan aspirasi langsung ke Istana Negara.

Politikus partai Golkar itu juga sempat mengajak perwakilan mahasiswa untuk berangkat bareng. Tentu saja ditolak.

“Massa aksi sepakat berangkat bersama atau bertahan di gedung DPRD. Kami sepakat untuk menunggu hasilnya,” tegas Koordinator Wilayah BEM se-Kalimantan, Ahdiat Zairullah.

Semakin siang, kondisi kian mencair. Tak ada lagi gesekan. Perwakilan pengunjuk rasa kemudian diajak masuk untuk menandatangi surat tuntutan. Nota kesepahaman itu ditandatangani pula oleh Ketua DPRD Kalsel dan Plt Gubernur Kalsel.

Janji Hari Ini Bakal Kembali

Setelah bertahan di tengah guyuran hujan deras, massa aksi baru membubarkan diri pada sore hari.

Sembari beranjak pergi, mahasiswa dan pelajar tetap menyanyikan lagu perjuangan.

Sebelum hujan turun, puluhan orang berkaos hitam sempat menyalakan kembang api di tengah jalan. Aksi itu dikhawatirkan bisa memicu kericuhan. Tapi toh padam dengan sendirinya.

Kendati memilih pulang, Koordinator Wilayah BEM se-Kalimantan, Ahdiat Zairullah menegaskan, mereka akan kembali hari ini (9/10).

Menagih janji Anggota DPRD Kalsel yang menyatakan akan membawa tuntutan mahasiswa kepada Presiden Joko Widodo. Agar mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk mendepak UU Omnibus Law.

“Kami akan kembali lagi besok pagi guna menuntut janji,” tuntasnya.

Informasi terakhir, Ketua DPRD Kalsel, Supian HK masih menyiapkan keberangkatannya menuju Jakarta. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/