alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Uji Kesabaran, Motoris Kelotok Siring Tendean: Ke Seberang pun Juga Sepi

Motoris kelotok di kawasan Siring Pierre Tendean kembali harus bersabar. Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin belum bisa memastikan kapan kawasan itu kembali dibuka. Meski sebelumnya, penutupan dijanjikan hanya berjalan selama tiga bulan.

Penutupan kawasan itu berlangsung sejak awal Juli lalu. Bila merujuk hal itu, semestinya awal Oktober sudah dapat dibuka kembali untuk umum. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin, Ikhsan Al Haq menepisnya. Ia mengatakan, tiga bulan itu menurutnya hanya perkiraan. Bukan janji.

“Perlu melihat kembali keadaan di lapangan. Apakah penularan virus Covid-19 sudah benar-benar bisa disetop atau tidak. Ternyata belum kan. Jadi, kami belum berani untuk membuka kawasan itu,” ucapnya, kemarin (7/10) pagi.

Pertimbangan tutup, atau kawasan Siring Pierre Tendean dibuka itu masih merujuk pada status penularan Covid-19 di Kota Banjarmasin. Pemko Banjarmasin khawatir bila dibuka bakal menjadi sarana berkumpulnya banyak orang. Berpotensi menimbulkan kerumunan.

Tidak hanya di kawasan Siring Pierre Tendean saja. Ikhsan menjelaskan berapa zona wisata yang dikelola oleh Pemko Banjarmasin maupun masyarakat diminta untuk tidak dibuka alias ditunda dulu.

Ikhsan menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memprediksi kapan kawasan objek wisata di Banjarmasin bakal dibuka. Tergantung kondisi bagaimana perkembangan penyebaran Covid-19. Ia berharap masyarakat bisa memahami keadaan. “Sampai benar-benar dinyatakan oleh Tim Gugus Tugas P2 Covid-19 Kota Banjarmasin boleh dibuka,” tekannya.

Kalau pun nanti izin buka diberikan, Ikhsan mengatakan bahwa prioritas utama bukanlah kawasan Siring Pierre Tendean. Namun, kampung-kampung wisata terlebih dulu. “Kalau untuk siring, kami sangat hati-hati,” tegasnya.

Lantas, bagaimana dengan nasib para motoris kelotok yang biasa mangkal di Siring Pierre Tendean? Ikhsan menekankan bahwa pihaknya tidak menghentikan operasional susur sungai. Ia hanya minta motoris untuk menerapkan protokol kesehatan. Kemudian memindah lokasi pengangkutan penumpang.

Yang mulanya di Siring Pierre Tendean, ke Siring Jenderal Sudirman. “Kami tidak menutup usaha kelotok. Kami cuma menutup siringnya dari segala aktivitas. Kami berikan alternatif untuk berpindah ke Siring Jenderal Sudirman karena Siring Pierre Tendean ditutup,” kilahnya.

Lantas bagaimana tanggapan para motoris kelotok? Kondisinya tak banyak berubah. Kelotok masih banyak menganggur kemarin (7/10) siang. Tak ada satu pun beroperasi, atau membawa penumpang.

Motoris kelotok, Iki Budi Arianto mengatakan bahwa semenjak ditutupnya kawasan Siring Pierre Tendean, sejak saat itu pula pendapatan mereka berkurang. “Akhir pekan tadi saja cuma tiga kelotok yang beroperasi. Itu pun dicarter dari tempat lain. Bukan naik dari tempat ini (Siring Pierre Tendean, Red),” ucap lelaki yang juga bertugas menjaga loket tiket itu.

Iki mengatakan bahwa pihaknya sudah pernah mencoba memindah loket tiket ke seberang. Atau ke Siring kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Namun, tak ada seorang pengunjung pun yang mau naik kelotok.

“Kami sempat mencobanya selama lima pekan. Memang banyak yang berkunjung ke Siring Jenderal Sudirman, tapi tak ada satu pun yang mau naik kelotok. Makanya kami pindah ke sini lagi,” ulasnya.(war/dye/ema)

Motoris kelotok di kawasan Siring Pierre Tendean kembali harus bersabar. Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin belum bisa memastikan kapan kawasan itu kembali dibuka. Meski sebelumnya, penutupan dijanjikan hanya berjalan selama tiga bulan.

Penutupan kawasan itu berlangsung sejak awal Juli lalu. Bila merujuk hal itu, semestinya awal Oktober sudah dapat dibuka kembali untuk umum. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin, Ikhsan Al Haq menepisnya. Ia mengatakan, tiga bulan itu menurutnya hanya perkiraan. Bukan janji.

“Perlu melihat kembali keadaan di lapangan. Apakah penularan virus Covid-19 sudah benar-benar bisa disetop atau tidak. Ternyata belum kan. Jadi, kami belum berani untuk membuka kawasan itu,” ucapnya, kemarin (7/10) pagi.

Pertimbangan tutup, atau kawasan Siring Pierre Tendean dibuka itu masih merujuk pada status penularan Covid-19 di Kota Banjarmasin. Pemko Banjarmasin khawatir bila dibuka bakal menjadi sarana berkumpulnya banyak orang. Berpotensi menimbulkan kerumunan.

Tidak hanya di kawasan Siring Pierre Tendean saja. Ikhsan menjelaskan berapa zona wisata yang dikelola oleh Pemko Banjarmasin maupun masyarakat diminta untuk tidak dibuka alias ditunda dulu.

Ikhsan menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memprediksi kapan kawasan objek wisata di Banjarmasin bakal dibuka. Tergantung kondisi bagaimana perkembangan penyebaran Covid-19. Ia berharap masyarakat bisa memahami keadaan. “Sampai benar-benar dinyatakan oleh Tim Gugus Tugas P2 Covid-19 Kota Banjarmasin boleh dibuka,” tekannya.

Kalau pun nanti izin buka diberikan, Ikhsan mengatakan bahwa prioritas utama bukanlah kawasan Siring Pierre Tendean. Namun, kampung-kampung wisata terlebih dulu. “Kalau untuk siring, kami sangat hati-hati,” tegasnya.

Lantas, bagaimana dengan nasib para motoris kelotok yang biasa mangkal di Siring Pierre Tendean? Ikhsan menekankan bahwa pihaknya tidak menghentikan operasional susur sungai. Ia hanya minta motoris untuk menerapkan protokol kesehatan. Kemudian memindah lokasi pengangkutan penumpang.

Yang mulanya di Siring Pierre Tendean, ke Siring Jenderal Sudirman. “Kami tidak menutup usaha kelotok. Kami cuma menutup siringnya dari segala aktivitas. Kami berikan alternatif untuk berpindah ke Siring Jenderal Sudirman karena Siring Pierre Tendean ditutup,” kilahnya.

Lantas bagaimana tanggapan para motoris kelotok? Kondisinya tak banyak berubah. Kelotok masih banyak menganggur kemarin (7/10) siang. Tak ada satu pun beroperasi, atau membawa penumpang.

Motoris kelotok, Iki Budi Arianto mengatakan bahwa semenjak ditutupnya kawasan Siring Pierre Tendean, sejak saat itu pula pendapatan mereka berkurang. “Akhir pekan tadi saja cuma tiga kelotok yang beroperasi. Itu pun dicarter dari tempat lain. Bukan naik dari tempat ini (Siring Pierre Tendean, Red),” ucap lelaki yang juga bertugas menjaga loket tiket itu.

Iki mengatakan bahwa pihaknya sudah pernah mencoba memindah loket tiket ke seberang. Atau ke Siring kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Namun, tak ada seorang pengunjung pun yang mau naik kelotok.

“Kami sempat mencobanya selama lima pekan. Memang banyak yang berkunjung ke Siring Jenderal Sudirman, tapi tak ada satu pun yang mau naik kelotok. Makanya kami pindah ke sini lagi,” ulasnya.(war/dye/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/