alexametrics
34.1 C
Banjarmasin
Thursday, 19 May 2022

Denny Indrayana, Hijrah, dan Dukungan Istri Tercinta

Haji Denny, Rabu (7/10) sengaja tak melaksanakan kampanye. Ia lebih banyak tinggal di rumah bersama keluarga. Kemarin adalah hari ulang tahun istrinya, Hj Ida Rosyidah yang ke-44.

Malam sebelumnya, Haji Denny memberikan kejutan dengan sengaja pulang dari jadwal kampanye di Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Pria ini tidak meneruskan rencana perjalanan ke Barabai, Hulu Sungai Tengah. Tiba di kediaman jam setengah 2 dini hari, Haji Denny menjadi orang yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya. Hj Ida Rosyidah kaget dengan kedatangan suaminya di tengah malam tersebut.

Tidak membuat perayaan yang berlebihan, Haji Denny berkumpul dengan keluarga, ibunda beliau Hj Titien Sumarni, anak-anaknya, serta beberapa relawan yang berkesempatan hadir untuk makan siang dan membacakan doa selamat yang dilafadzkan Ustaz Hasanudin atau lebih dikenal julukan UAS Banjarmasin.

Sambil berkelakar, Haji Denny mengatakan ada dua hal yang tidak boleh dilupakan. Pertama mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Kedua, hari ulang tahun istri tercinta. Perkataan Haji Denny tersebut disambut tawa oleh hadirin yang hadir.

Haji Denny menceritakan, sejak menikah di tahun 1999, atau setelah 21 tahun berkeluarga, dirinya dengan Hj Ida Rosyidah telah berpindah rumah sebanyak 14 kali. Di antaranya, karena tugas mengajar di Yogyakarta, Jakarta, dan Melbourne (Australia).

Ketika menjadi Staf Khusus Presiden SBY untuk bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan KKN (2008-2011) dan Wakil Menteri Hukum dan HAM (2011-2014), Haji Denny empat kali berpindah rumah dinas. Di Australia, ketika mengambil program doktoral (PhD), ataupun ketika menjadi profesor tamu (visiting profesor) di Melbourne Law School, Haji Denny dan keluarga sempat menempati lima rumah kontrakan.

Tidak heran jika hijrah sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya yang memang menyukai kehidupan menantang. Itu pula yang menjadi salah satu pertimbangan Haji Denny dan istri, ketika memutuskan kembali ke Banua, dan mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Selatan.

Melalui pertimbangan yang matang, dan menghitung segala risikonya, serta setelah mendapatkan restu dari orang tua, Haji Denny mantap mewakafkan diri bagi Banua.

“Jika hanya memikirkan diri sendiri, sebenarnya kehidupan kami di Melbourne dan Jakarta sudah nyaman. Tetapi melihat kondisi Banua yang makin banyak masalah, dan tertinggal dibandingkan provinsi lain, saya merasa berdosa jika tidak mengabdikan diri bagi kampung halaman. Sebagai putra Banua, yang lahir di Kotabaru, dan besar di Banjarbaru, saya merasa berkewajiban untuk pulang membangun Kalimantan Selatan,” ucapnya.

Istri, menurut dia, adalah bagian dari kawan berjuang yang sangat menentukan arah hijrahnya. “Istri adalah pendukung utama saya, yang terus menjadi sahabat setia dalam setiap tantangan. Terima kasih Bunda Os, selamat ulang tahun. Semoga terus bahagia dunia dan akhirat,” ucap Haji Denny sambil mengecup mesra kening istrinya. (*)

Haji Denny, Rabu (7/10) sengaja tak melaksanakan kampanye. Ia lebih banyak tinggal di rumah bersama keluarga. Kemarin adalah hari ulang tahun istrinya, Hj Ida Rosyidah yang ke-44.

Malam sebelumnya, Haji Denny memberikan kejutan dengan sengaja pulang dari jadwal kampanye di Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Pria ini tidak meneruskan rencana perjalanan ke Barabai, Hulu Sungai Tengah. Tiba di kediaman jam setengah 2 dini hari, Haji Denny menjadi orang yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya. Hj Ida Rosyidah kaget dengan kedatangan suaminya di tengah malam tersebut.

Tidak membuat perayaan yang berlebihan, Haji Denny berkumpul dengan keluarga, ibunda beliau Hj Titien Sumarni, anak-anaknya, serta beberapa relawan yang berkesempatan hadir untuk makan siang dan membacakan doa selamat yang dilafadzkan Ustaz Hasanudin atau lebih dikenal julukan UAS Banjarmasin.

Sambil berkelakar, Haji Denny mengatakan ada dua hal yang tidak boleh dilupakan. Pertama mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad SAW. Kedua, hari ulang tahun istri tercinta. Perkataan Haji Denny tersebut disambut tawa oleh hadirin yang hadir.

Haji Denny menceritakan, sejak menikah di tahun 1999, atau setelah 21 tahun berkeluarga, dirinya dengan Hj Ida Rosyidah telah berpindah rumah sebanyak 14 kali. Di antaranya, karena tugas mengajar di Yogyakarta, Jakarta, dan Melbourne (Australia).

Ketika menjadi Staf Khusus Presiden SBY untuk bidang Hukum, HAM dan Pemberantasan KKN (2008-2011) dan Wakil Menteri Hukum dan HAM (2011-2014), Haji Denny empat kali berpindah rumah dinas. Di Australia, ketika mengambil program doktoral (PhD), ataupun ketika menjadi profesor tamu (visiting profesor) di Melbourne Law School, Haji Denny dan keluarga sempat menempati lima rumah kontrakan.

Tidak heran jika hijrah sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya yang memang menyukai kehidupan menantang. Itu pula yang menjadi salah satu pertimbangan Haji Denny dan istri, ketika memutuskan kembali ke Banua, dan mencalonkan diri sebagai Gubernur Kalimantan Selatan.

Melalui pertimbangan yang matang, dan menghitung segala risikonya, serta setelah mendapatkan restu dari orang tua, Haji Denny mantap mewakafkan diri bagi Banua.

“Jika hanya memikirkan diri sendiri, sebenarnya kehidupan kami di Melbourne dan Jakarta sudah nyaman. Tetapi melihat kondisi Banua yang makin banyak masalah, dan tertinggal dibandingkan provinsi lain, saya merasa berdosa jika tidak mengabdikan diri bagi kampung halaman. Sebagai putra Banua, yang lahir di Kotabaru, dan besar di Banjarbaru, saya merasa berkewajiban untuk pulang membangun Kalimantan Selatan,” ucapnya.

Istri, menurut dia, adalah bagian dari kawan berjuang yang sangat menentukan arah hijrahnya. “Istri adalah pendukung utama saya, yang terus menjadi sahabat setia dalam setiap tantangan. Terima kasih Bunda Os, selamat ulang tahun. Semoga terus bahagia dunia dan akhirat,” ucap Haji Denny sambil mengecup mesra kening istrinya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/