alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Wednesday, 25 May 2022

Jual Motor Demi Speaker, Begini Curhat Musisi Jalanan Ketika Menyanyi pun Dilarang

Pengamen di Banjarmasin tak hanya dituntut lihai bermain gitar dan memiliki suara merdu. Mereka juga harus memiliki mata yang awas dan kaki yang mampu berlari kencang.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

DISOROT panas matahari, Sahran dan Ismail berkolaborasi. Bila Sahran menyanyi, maka Ismail yang memetik gitar. Begitu pula sebaliknya.

Nyanyian mereka dari sepasang speaker. Beradu dengan deru mesin kendaraan yang melintas di perempatan lampu merah Jalan Pangeran Antasari.

Rupiah demi rupiah dikumpulkan. Nominalnya memang tak seberapa, tapi layak disyukuri.

Kemarin (4/10) siang, bergabung dua kawan, Anshari dan Zainuddin. Mereka yang bertugas menyodorkan kotak, mengharapkan koin atau lembaran uang dari pengendara.

“Kalau sudah terkumpul, uangnya kami bagi rata,” beber Sahran. Lelaki 35 tahun ini sudah malang melintang menjadi pengamen di Banjarmasin.

Entah sudah berapa kali dikejar-kejar Satpol PP. “Saya juga pernah diangkut ke rumah singgah Dinas Sosial. Di sana mengenaskan, mas. Digabung sama orang gila. Makanannya juga tidak layak,” kenangnya.

Tapi Sahran tak jera. Dia sudah sering melamar kerja, tapi selalu saja ditolak. “Ketimbang melanggar hukum, mending saya mengamen,” kilahnya.

Berbeda dengan Ismail yang terbilang pengamen baru. Baru dua bulan. Pandemi lah yang memaksanya mengamen. Dia korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Saya korban pandemi. Saya harus terus menafkahi dua anak dan seorang istri di rumah,” tuturnya.

Mereka tak pernah berlama-lama. Kalau dihitung-hitung, tak kurang dari satu jam. Keempatnya lalu bergeser ke tempat lain. Itu trik untuk menghindari patroli Satpol PP.

“Kami bingung. Harus bagaimana lagi? Kami sudah mulai tertib. Tidak wara-wiri menenteng gitar sambil menyanyi. Tapi masih juga diuber-uber,” bebernya.

Sebagian pengamen kini lebih memilih pedestrian jalan. Tak lagi keluar masuk warung dan depot.

Sahran berharap, pemko memerhatikan nasib mereka. Tak perlu muluk-muluk, minimal diberi keringanan agar dibiarkan mengamen. Kalau tetap dilarang, ia berharap ada aturan yang mengatur dengan jelas.

“Contoh, memberi waktu khusus atau hari yang membebaskan kami dapat puas mengamen tanpa harus ditindak,” tuntasnya.

Bergeser ke tempat lain, di Jalan Perintis Kemerdekaan, penulis bertemu Arul dan Udin.

Kemarin (4/10) siang, Arul tampak bersemangat menyanyi. Mengenakan kacamata hitam, Arul tampil bak musikus terkenal.

Sementara Udin, setia berdiri di samping Arul. Menenteng kotak dari kardus bekas. Tempat menaruh uang receh dari pendengar.

Arul dan Udin juga mengutarakan harapan yang sama. Yakni kebebasan mengamen. “Tidak tenang rasanya. Bayangkan saja, ketika menyanyi harus selalu menoleh kanan dan kiri. Melihat-lihat apakah ada Satpol PP atau tidak,” ucapnya terkekeh.

Arul menyadari, bahwa caranya mencari nafkah melanggar perda. Tapi pemko semestinya memberi solusi, tak sekadar melarang.

“Saya melihat di kota-kota besar lain, tidak sampai diuber-uber seperti di sini. Pengamen diperhatikan,” tuntas lelaki yang pernah mengamen di Palangkaraya dan Balikpapan itu.

Menjual Motor Demi Speaker

Pembaca tentu bisa membandingkan. Musikus jalanan di Banjarmasin kini tampak lebih enak dipandang. Lebih-lebih enak didengar.

Itu berkat peralatan yang mereka gunakan. Tak hanya bermodal gitar, pengamen kini membawa mikrofon dan speaker.

Konsep seperti itu, menurut mereka cukup tertib dan lebih sopan kepada para pengguna jalan.

Arul membeberkan, konsep itu meniru para pengamen dari Pulau Jawa. “Lebih nyaman dipandang, tertib dan nyanyian juga sampai ke telinga pengendara,” bebernya.

Kendati demikian, tentu tak mudah menyiapkan segala peralatan. Karena perlu modal lebih.

“Saya saja perlu menjual sepeda motor untuk punya peralatan. Sound system ini saja masih kredit,” kata pemuda 30 tahun ini.

Sementara bagi pengamen yang belum memiliki kemampuan untuk membeli peralatan yang lebih, ada tempat penyewaan. “Misalnya gitar yang saya pakai ini. Sewanya Rp100 ribu perbulan,” jelasnya.

Sama halnya dengan Sahran. Kelompoknya mengeluarkan modal, sedikitnya Rp1 juta. “Buat sepasang sound system berukuran mini dan satu mikrofon. Kalau stand-nya bikin sendiri dari plastik selang air,” urainya.

Arul dan Sahran juga harus menyisihkan sebagian keuntungan mengamen untuk perawatan peralatan.

“Syukur sih belum pernah mengalami kerusakan. Tapi bagaimana pun juga harus disisihkan. Khawatir juga kalau kenapa-kenapa,” tuntas Arul. (war/fud/ema)

Pengamen di Banjarmasin tak hanya dituntut lihai bermain gitar dan memiliki suara merdu. Mereka juga harus memiliki mata yang awas dan kaki yang mampu berlari kencang.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

DISOROT panas matahari, Sahran dan Ismail berkolaborasi. Bila Sahran menyanyi, maka Ismail yang memetik gitar. Begitu pula sebaliknya.

Nyanyian mereka dari sepasang speaker. Beradu dengan deru mesin kendaraan yang melintas di perempatan lampu merah Jalan Pangeran Antasari.

Rupiah demi rupiah dikumpulkan. Nominalnya memang tak seberapa, tapi layak disyukuri.

Kemarin (4/10) siang, bergabung dua kawan, Anshari dan Zainuddin. Mereka yang bertugas menyodorkan kotak, mengharapkan koin atau lembaran uang dari pengendara.

“Kalau sudah terkumpul, uangnya kami bagi rata,” beber Sahran. Lelaki 35 tahun ini sudah malang melintang menjadi pengamen di Banjarmasin.

Entah sudah berapa kali dikejar-kejar Satpol PP. “Saya juga pernah diangkut ke rumah singgah Dinas Sosial. Di sana mengenaskan, mas. Digabung sama orang gila. Makanannya juga tidak layak,” kenangnya.

Tapi Sahran tak jera. Dia sudah sering melamar kerja, tapi selalu saja ditolak. “Ketimbang melanggar hukum, mending saya mengamen,” kilahnya.

Berbeda dengan Ismail yang terbilang pengamen baru. Baru dua bulan. Pandemi lah yang memaksanya mengamen. Dia korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Saya korban pandemi. Saya harus terus menafkahi dua anak dan seorang istri di rumah,” tuturnya.

Mereka tak pernah berlama-lama. Kalau dihitung-hitung, tak kurang dari satu jam. Keempatnya lalu bergeser ke tempat lain. Itu trik untuk menghindari patroli Satpol PP.

“Kami bingung. Harus bagaimana lagi? Kami sudah mulai tertib. Tidak wara-wiri menenteng gitar sambil menyanyi. Tapi masih juga diuber-uber,” bebernya.

Sebagian pengamen kini lebih memilih pedestrian jalan. Tak lagi keluar masuk warung dan depot.

Sahran berharap, pemko memerhatikan nasib mereka. Tak perlu muluk-muluk, minimal diberi keringanan agar dibiarkan mengamen. Kalau tetap dilarang, ia berharap ada aturan yang mengatur dengan jelas.

“Contoh, memberi waktu khusus atau hari yang membebaskan kami dapat puas mengamen tanpa harus ditindak,” tuntasnya.

Bergeser ke tempat lain, di Jalan Perintis Kemerdekaan, penulis bertemu Arul dan Udin.

Kemarin (4/10) siang, Arul tampak bersemangat menyanyi. Mengenakan kacamata hitam, Arul tampil bak musikus terkenal.

Sementara Udin, setia berdiri di samping Arul. Menenteng kotak dari kardus bekas. Tempat menaruh uang receh dari pendengar.

Arul dan Udin juga mengutarakan harapan yang sama. Yakni kebebasan mengamen. “Tidak tenang rasanya. Bayangkan saja, ketika menyanyi harus selalu menoleh kanan dan kiri. Melihat-lihat apakah ada Satpol PP atau tidak,” ucapnya terkekeh.

Arul menyadari, bahwa caranya mencari nafkah melanggar perda. Tapi pemko semestinya memberi solusi, tak sekadar melarang.

“Saya melihat di kota-kota besar lain, tidak sampai diuber-uber seperti di sini. Pengamen diperhatikan,” tuntas lelaki yang pernah mengamen di Palangkaraya dan Balikpapan itu.

Menjual Motor Demi Speaker

Pembaca tentu bisa membandingkan. Musikus jalanan di Banjarmasin kini tampak lebih enak dipandang. Lebih-lebih enak didengar.

Itu berkat peralatan yang mereka gunakan. Tak hanya bermodal gitar, pengamen kini membawa mikrofon dan speaker.

Konsep seperti itu, menurut mereka cukup tertib dan lebih sopan kepada para pengguna jalan.

Arul membeberkan, konsep itu meniru para pengamen dari Pulau Jawa. “Lebih nyaman dipandang, tertib dan nyanyian juga sampai ke telinga pengendara,” bebernya.

Kendati demikian, tentu tak mudah menyiapkan segala peralatan. Karena perlu modal lebih.

“Saya saja perlu menjual sepeda motor untuk punya peralatan. Sound system ini saja masih kredit,” kata pemuda 30 tahun ini.

Sementara bagi pengamen yang belum memiliki kemampuan untuk membeli peralatan yang lebih, ada tempat penyewaan. “Misalnya gitar yang saya pakai ini. Sewanya Rp100 ribu perbulan,” jelasnya.

Sama halnya dengan Sahran. Kelompoknya mengeluarkan modal, sedikitnya Rp1 juta. “Buat sepasang sound system berukuran mini dan satu mikrofon. Kalau stand-nya bikin sendiri dari plastik selang air,” urainya.

Arul dan Sahran juga harus menyisihkan sebagian keuntungan mengamen untuk perawatan peralatan.

“Syukur sih belum pernah mengalami kerusakan. Tapi bagaimana pun juga harus disisihkan. Khawatir juga kalau kenapa-kenapa,” tuntas Arul. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/