alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 27 May 2022

Tua atau Muda, Serahkan ke Rakyat

Pilkada Serentak 2020 di Kalsel berlangsung dinamis. Para kandidat yang berlaga menyedot perhatian masyarakat. Salah satu isu kekinian, sorotan terhadap kaum tua di pentas politik. Mereka tak kalah agresif dan bersemangat dalam kontestasi. Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Kira-kira, begitulah.

Munculnya tokoh tua, sebagian para mantan pejabat, bahkan menjadi bagian strategi kampanye politik. Menjadi pembicaraan hangat di masyarakat, yang paling seru terjadi di media-media sosial.

Ada yang menanggapinya sebuah kewajaran, ada pula yang sinis memandang. Kalangan ini beranggapan, kaum tua seolah tak rela menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada yang muda.

Generasi tua, kata Lazuardi, warga Barabai, memang berbekal pengalaman. Tapi yang muda punya semangat membawa perubahan dengan pemikiran yang lebih fresh. Mestinya, prinsip regenerasi itu dikedepankan. Beri kesempatan yang muda berkiprah. Yang tua cukup menjadi pembimbing.

Ibramim, warga Tanah Bumbu punya pendapat berbeda. Selama ia bijak dan memang berpengalaman, dan tentu saja didukung fisik masih prima, tak jadi soal. “Banyak kok, kepala daerah sekarang yang usianya sudah menua, tapi tetap mantap menjalankan tugas. Jadi, no problem,” ucapnya.

Supian, warga Banjarbaru bertutur. Perpaduan kepemimpinan tua dan muda adalah yang paling cocok. “Yang tua bijaksana dan berpengalaman, yang muda enerjik dan mobilitas tinggi. Lengkap,” ujarnya.

Soal ini, tiga kandidat di Pilkada Serentak 2020 Kalsel angkat bicara. Haji Martinus di Banjarbaru, Fakih Jarzani di Hulu Sungai Tengah, dan Zairullah Azhar di Tanah Bumbu.

Haji Martinus memandang dikotomi tua dan muda dalam kepemimpinan bukanlah perkara tabu.

“Perbedaan usia memang ada plus dan minus. Muda, enerjik dan bersemangat. Tetapi, yang tua juga tak terlalu lemah. Seperti saya, masih mampu melakukan apa yang diperbuat kalangan muda. Jangan ragukan itu,” kata mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalsel ini.

Di pentas politik, lanjut dia, penilaian terakhir ada pada rakyat. Merekalah yang menjadi penentu. Nanti akan dibuktikan. Jika rakyat memang suka yang muda, tentu mereka akan memilihnya. Sebaliknya, jika kaum tua masih diperlukan.

Ia bercerita tentang motivasi yang membuatnya maju sebagai kandidat. Keputusan itu muncul mendadak. Kota ini begitu kaget saat Nadjmi Adhani, wali kota yang menjabat di Banjarbaru wafat. Peristiwa itu mengguncang warga, termasuk kalangan ASN. Sosok yang pantas untuk menggantikannya menjadi pembicaraan utama. Ia melihat, dari berbagai tokoh yang digadang-gadang sebagai calon wali kota, belum ada yang mendekati karakter Nadjmi. Sebagai orang yang punya ikatan kuat dengan kota ini, akhirnya ia mencalonkan diri.

“Andai ada sosok pengganti mendiang, tentu saya akan memberi kesempatan. Meski ia muda. Tetapi figur seperti itu tak muncul. Akhirnya saya mencoba tampil dan bisa meyakinkan parpol pengusung,” ujarnya.

Bekal dan pengalaman Martinus, tentu tak kaleng-kaleng. Dengan tujuh bulan menjadi penjabat wali kota di Banjarbaru pada tahun 2015, ia bikin banyak gebrakan. Membereskan persoalan ganti rugi lahan Bandara Syamsudin Noor adalah salah satunya. Belum lagi, saat dia sebagai kepala dinas di PU Kalsel. Flyover A Yani di Banjarmasin adalah hasil rancang bangunnya, yang menjadi monumental hingga sekarang.

Isu tua dan muda, menurutnya, janganlah dipolarisasi sedemikian rupa. Sehingga kontestasi politik berjalan kondusif dan berlangsung sehat. “Adu program lebih bermartabat, ketimbang adu usia,” cetusnya.

Mantan Wakil Bupati HST (periode 2010-2015) Fakih Jarjani juga kembali terjun di arena politik. Ia bersaing dengan kalangan yang lebih belia dari dirinya, bahkan ada yang lebih tua. Tidak diusung parpol, pria ini maju lewat jalur perseorangan.

Obsesinya ingin mengabdi dan melanjutkan pembangunan di era yang pernah ia jalani. Fakih juga pernah menjabat sebagai Ketua DPRD HST di tahun 2009. Ia bukan orang baru dalam dunia perpolitikan.

Soal alih generasi kepemimpinan, Fakih menilai kontestasi pilkada berhak diikuti siapa saja. Umur bukan tirai yang menjadi penghalang antargenerasi. Mencalonkan atau dicalonkan adalah hak politik semua warga. Sepanjang tidak dibatasi aturan.

“Muda karena mereka masih fresh. Setahu saya umur di bawah 60 tahun itu juga disebut masih muda. Jadi tidak ada masalah. Tidak ada rivalitas antara muda dan tua. Saya berharap setelah pilkada ini, siapa yang menang harus saling mendukung,” katanya.

Di HST, papar Fakih, soal kepemimpinan mendapat perhatian serius dari warga. Mereka sangat menghormati, siapa pun pemimpin yang terpilih. Perbedaan pendapat di masyarakat soal dikotomi muda dan tua, adalah hal yang biasa.

“Namanya juga politik. Setelah agenda ini berlalu, warga akan menerima siapa pun yang memimpin,” katanya.

Sedangkan Zairullah Azhar, mantan Bupati Tanah Bumbu pertama, juga kembali turun gelanggang. Ia tampil di Pilkada Tanbu 2020. Kemunculan ZA, begitu ia akrab disapa, menjadi daya tarik politik di sana.

Isu kepemimpinan tua dan muda juga bergulir. ZA dituding seperti tak mau memberi jalan kepada generasi berikutnya.

Ia mengatakan, saat ini berpolitikan di tanah air memang banyak diisi kaum muda. “Pemuda berpolitik, itu sah-sah saja,” katanya.

Dirinya maju kembali maju, bukan untuk mengejar ambisi atau jabatan semata. Seperti yang banyak dialamatkan kepada dirinya. Motivasinya akan memperbaiki sesuatu yang hilang daerah ini.

ZA membuka romantika saat ia memimpin daerah ini. Pada tahun 2008, Tanbu menjadi yang terbaik di Kalsel. Meski kabupaten ini baru berpisah dengan induknya, Kotabaru, tapi pembangunan sangat pesat.

Ia melihat, saat ini pembangunan di sana mulai melambat. Dari segala sektor. Salah satunya karena pandemi Covid-19. Tekad itulah yang menjadi obsesi kuat ZA. Mengembalikan Tanbu sebagai kabupaten yang disegani dan maju. “Soal tua dan muda, itu rakyat yang menentukan,” pungkasnya.(rvn/mal/kry/ema)

Pilkada Serentak 2020 di Kalsel berlangsung dinamis. Para kandidat yang berlaga menyedot perhatian masyarakat. Salah satu isu kekinian, sorotan terhadap kaum tua di pentas politik. Mereka tak kalah agresif dan bersemangat dalam kontestasi. Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Kira-kira, begitulah.

Munculnya tokoh tua, sebagian para mantan pejabat, bahkan menjadi bagian strategi kampanye politik. Menjadi pembicaraan hangat di masyarakat, yang paling seru terjadi di media-media sosial.

Ada yang menanggapinya sebuah kewajaran, ada pula yang sinis memandang. Kalangan ini beranggapan, kaum tua seolah tak rela menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada yang muda.

Generasi tua, kata Lazuardi, warga Barabai, memang berbekal pengalaman. Tapi yang muda punya semangat membawa perubahan dengan pemikiran yang lebih fresh. Mestinya, prinsip regenerasi itu dikedepankan. Beri kesempatan yang muda berkiprah. Yang tua cukup menjadi pembimbing.

Ibramim, warga Tanah Bumbu punya pendapat berbeda. Selama ia bijak dan memang berpengalaman, dan tentu saja didukung fisik masih prima, tak jadi soal. “Banyak kok, kepala daerah sekarang yang usianya sudah menua, tapi tetap mantap menjalankan tugas. Jadi, no problem,” ucapnya.

Supian, warga Banjarbaru bertutur. Perpaduan kepemimpinan tua dan muda adalah yang paling cocok. “Yang tua bijaksana dan berpengalaman, yang muda enerjik dan mobilitas tinggi. Lengkap,” ujarnya.

Soal ini, tiga kandidat di Pilkada Serentak 2020 Kalsel angkat bicara. Haji Martinus di Banjarbaru, Fakih Jarzani di Hulu Sungai Tengah, dan Zairullah Azhar di Tanah Bumbu.

Haji Martinus memandang dikotomi tua dan muda dalam kepemimpinan bukanlah perkara tabu.

“Perbedaan usia memang ada plus dan minus. Muda, enerjik dan bersemangat. Tetapi, yang tua juga tak terlalu lemah. Seperti saya, masih mampu melakukan apa yang diperbuat kalangan muda. Jangan ragukan itu,” kata mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalsel ini.

Di pentas politik, lanjut dia, penilaian terakhir ada pada rakyat. Merekalah yang menjadi penentu. Nanti akan dibuktikan. Jika rakyat memang suka yang muda, tentu mereka akan memilihnya. Sebaliknya, jika kaum tua masih diperlukan.

Ia bercerita tentang motivasi yang membuatnya maju sebagai kandidat. Keputusan itu muncul mendadak. Kota ini begitu kaget saat Nadjmi Adhani, wali kota yang menjabat di Banjarbaru wafat. Peristiwa itu mengguncang warga, termasuk kalangan ASN. Sosok yang pantas untuk menggantikannya menjadi pembicaraan utama. Ia melihat, dari berbagai tokoh yang digadang-gadang sebagai calon wali kota, belum ada yang mendekati karakter Nadjmi. Sebagai orang yang punya ikatan kuat dengan kota ini, akhirnya ia mencalonkan diri.

“Andai ada sosok pengganti mendiang, tentu saya akan memberi kesempatan. Meski ia muda. Tetapi figur seperti itu tak muncul. Akhirnya saya mencoba tampil dan bisa meyakinkan parpol pengusung,” ujarnya.

Bekal dan pengalaman Martinus, tentu tak kaleng-kaleng. Dengan tujuh bulan menjadi penjabat wali kota di Banjarbaru pada tahun 2015, ia bikin banyak gebrakan. Membereskan persoalan ganti rugi lahan Bandara Syamsudin Noor adalah salah satunya. Belum lagi, saat dia sebagai kepala dinas di PU Kalsel. Flyover A Yani di Banjarmasin adalah hasil rancang bangunnya, yang menjadi monumental hingga sekarang.

Isu tua dan muda, menurutnya, janganlah dipolarisasi sedemikian rupa. Sehingga kontestasi politik berjalan kondusif dan berlangsung sehat. “Adu program lebih bermartabat, ketimbang adu usia,” cetusnya.

Mantan Wakil Bupati HST (periode 2010-2015) Fakih Jarjani juga kembali terjun di arena politik. Ia bersaing dengan kalangan yang lebih belia dari dirinya, bahkan ada yang lebih tua. Tidak diusung parpol, pria ini maju lewat jalur perseorangan.

Obsesinya ingin mengabdi dan melanjutkan pembangunan di era yang pernah ia jalani. Fakih juga pernah menjabat sebagai Ketua DPRD HST di tahun 2009. Ia bukan orang baru dalam dunia perpolitikan.

Soal alih generasi kepemimpinan, Fakih menilai kontestasi pilkada berhak diikuti siapa saja. Umur bukan tirai yang menjadi penghalang antargenerasi. Mencalonkan atau dicalonkan adalah hak politik semua warga. Sepanjang tidak dibatasi aturan.

“Muda karena mereka masih fresh. Setahu saya umur di bawah 60 tahun itu juga disebut masih muda. Jadi tidak ada masalah. Tidak ada rivalitas antara muda dan tua. Saya berharap setelah pilkada ini, siapa yang menang harus saling mendukung,” katanya.

Di HST, papar Fakih, soal kepemimpinan mendapat perhatian serius dari warga. Mereka sangat menghormati, siapa pun pemimpin yang terpilih. Perbedaan pendapat di masyarakat soal dikotomi muda dan tua, adalah hal yang biasa.

“Namanya juga politik. Setelah agenda ini berlalu, warga akan menerima siapa pun yang memimpin,” katanya.

Sedangkan Zairullah Azhar, mantan Bupati Tanah Bumbu pertama, juga kembali turun gelanggang. Ia tampil di Pilkada Tanbu 2020. Kemunculan ZA, begitu ia akrab disapa, menjadi daya tarik politik di sana.

Isu kepemimpinan tua dan muda juga bergulir. ZA dituding seperti tak mau memberi jalan kepada generasi berikutnya.

Ia mengatakan, saat ini berpolitikan di tanah air memang banyak diisi kaum muda. “Pemuda berpolitik, itu sah-sah saja,” katanya.

Dirinya maju kembali maju, bukan untuk mengejar ambisi atau jabatan semata. Seperti yang banyak dialamatkan kepada dirinya. Motivasinya akan memperbaiki sesuatu yang hilang daerah ini.

ZA membuka romantika saat ia memimpin daerah ini. Pada tahun 2008, Tanbu menjadi yang terbaik di Kalsel. Meski kabupaten ini baru berpisah dengan induknya, Kotabaru, tapi pembangunan sangat pesat.

Ia melihat, saat ini pembangunan di sana mulai melambat. Dari segala sektor. Salah satunya karena pandemi Covid-19. Tekad itulah yang menjadi obsesi kuat ZA. Mengembalikan Tanbu sebagai kabupaten yang disegani dan maju. “Soal tua dan muda, itu rakyat yang menentukan,” pungkasnya.(rvn/mal/kry/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/