alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Dijuluki Titian Goyang Ngebor, Titian ini Belum Bisa Diperbaiki Pemko karena Anggarannya Tak Cukup

Pemko Banjarmasin belum bisa merehab titian ulin di Antasan Bondan RT 17. Anggarannya tak cukup. Maka masyarakat masih harus bersabar.

BANJARMASIN – Kamis (1/10) siang, keadaan titian di Banjarmasin Selatan itu masih sama. Lubang demi lubang masih menganga.

Tanpa bantuan APBD, Ketua RT 17 Kelurahan Mantuil, Rahimah menceritakan, perbaikan terpaksa urunan dari kantong warga.

Saking seringnya urunan, Rahimah kerap dicurigai macam-macam. “Jadi sekarang buat menambal titian yang rusak, lebih banyak memakai duit pribadi. Beli kayu semampunya saja,” ujarnya.

Tentu tak bertahan lama. Mengingat titian ini jalan lingkungan utama. Juga kerap dipakai warga tetangga untuk memotong jalan.

“Bila terjadi kemacetan akibat pasar malam, banyak yang memotong lewat sini,” tambahnya.

Setelah banyak dilindas sepeda motor, keesokan paginya, lubang titian pun bertambah. Sempat ada usulan agar titian itu dibuka tutup. Tapi mana mungkin, namanya saja jalan umum.

“Selain berderak nyaring, titian ini juga bergoyang. Ibarat kalau siang jadi organ tunggal, malamnya bisa goyang ngebor,” selorohnya seraya tertawa.

Perbaikan titian ini mendesak karena sudah banyak memakan korban. Beberapa tahun lalu, ada warga yang terperosok dan meninggal dunia.

“Sudah hampir 20 tahun dibiarkan begini. Sudah berkali kali juga dilaporkan,” kata Amat yang sehari-harinya bekerja sebagai petani.

Perlu diketahui, Antasan Bondan hanya berjarak 8,7 kilometer dari Balai Kota di Jalan RE Martadinata, pusat pemerintahan Banjarmasin.

Mengapa perbaikan tak kunjung terwujud? Kabid Permukiman di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Banjarmasin, Agus Heru Jayadi menjelaskan, sebenarnya tahun 2018 lalu sudah tercetus rencana perbaikan.

Tak hanya titian di Antasan Bondan, tapi keseluruhan di kawasan Mantuil. “Anggarannya ditaksir mencapai Rp10 miliar,” ujarnya, kemarin.

Ternyata, alokasi dari APBD 2019 malah tidak mencukupi. Hanya ada Rp5 miliar. Padahal, titian ulin itu hendak diganti cor semen. “Contoh perbaikan titian di Pulau Bromo yang hampir Rp3 miliar,” tukasnya.

Dia mengingatkan, bukan hanya titian Antasan Bondan yang mendesak. “Apabila fokus ke titian saja, jelas tidak cukup. Maka terpaksa harus ditunda,” kilahnya.

Solusi terakhir, Disperkim mencarikan bantuan ke pemerintah pusat. Melalui program KotaKu (Kota Tanpa Kumuh). “Karena kalau berharap yang ada, sulit,” ujarnya.

Lantas, bagaimana dengan APBD tahun depan? Agus tak berani menjanjikan. Menurutnya, dalam dua tahun ke depan, pemko masih fokus pemulihan pasca pandemi.

“Belum ada kepastian kapan. Tapi kami sudah survei dan perencanaan. Sekali lagi melihat kemampuan keuangan pemko. Karena perbaikannya tak bisa sebagian, harus menyeluruh,” tutupnya. (war/fud/ema)

Pemko Banjarmasin belum bisa merehab titian ulin di Antasan Bondan RT 17. Anggarannya tak cukup. Maka masyarakat masih harus bersabar.

BANJARMASIN – Kamis (1/10) siang, keadaan titian di Banjarmasin Selatan itu masih sama. Lubang demi lubang masih menganga.

Tanpa bantuan APBD, Ketua RT 17 Kelurahan Mantuil, Rahimah menceritakan, perbaikan terpaksa urunan dari kantong warga.

Saking seringnya urunan, Rahimah kerap dicurigai macam-macam. “Jadi sekarang buat menambal titian yang rusak, lebih banyak memakai duit pribadi. Beli kayu semampunya saja,” ujarnya.

Tentu tak bertahan lama. Mengingat titian ini jalan lingkungan utama. Juga kerap dipakai warga tetangga untuk memotong jalan.

“Bila terjadi kemacetan akibat pasar malam, banyak yang memotong lewat sini,” tambahnya.

Setelah banyak dilindas sepeda motor, keesokan paginya, lubang titian pun bertambah. Sempat ada usulan agar titian itu dibuka tutup. Tapi mana mungkin, namanya saja jalan umum.

“Selain berderak nyaring, titian ini juga bergoyang. Ibarat kalau siang jadi organ tunggal, malamnya bisa goyang ngebor,” selorohnya seraya tertawa.

Perbaikan titian ini mendesak karena sudah banyak memakan korban. Beberapa tahun lalu, ada warga yang terperosok dan meninggal dunia.

“Sudah hampir 20 tahun dibiarkan begini. Sudah berkali kali juga dilaporkan,” kata Amat yang sehari-harinya bekerja sebagai petani.

Perlu diketahui, Antasan Bondan hanya berjarak 8,7 kilometer dari Balai Kota di Jalan RE Martadinata, pusat pemerintahan Banjarmasin.

Mengapa perbaikan tak kunjung terwujud? Kabid Permukiman di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Banjarmasin, Agus Heru Jayadi menjelaskan, sebenarnya tahun 2018 lalu sudah tercetus rencana perbaikan.

Tak hanya titian di Antasan Bondan, tapi keseluruhan di kawasan Mantuil. “Anggarannya ditaksir mencapai Rp10 miliar,” ujarnya, kemarin.

Ternyata, alokasi dari APBD 2019 malah tidak mencukupi. Hanya ada Rp5 miliar. Padahal, titian ulin itu hendak diganti cor semen. “Contoh perbaikan titian di Pulau Bromo yang hampir Rp3 miliar,” tukasnya.

Dia mengingatkan, bukan hanya titian Antasan Bondan yang mendesak. “Apabila fokus ke titian saja, jelas tidak cukup. Maka terpaksa harus ditunda,” kilahnya.

Solusi terakhir, Disperkim mencarikan bantuan ke pemerintah pusat. Melalui program KotaKu (Kota Tanpa Kumuh). “Karena kalau berharap yang ada, sulit,” ujarnya.

Lantas, bagaimana dengan APBD tahun depan? Agus tak berani menjanjikan. Menurutnya, dalam dua tahun ke depan, pemko masih fokus pemulihan pasca pandemi.

“Belum ada kepastian kapan. Tapi kami sudah survei dan perencanaan. Sekali lagi melihat kemampuan keuangan pemko. Karena perbaikannya tak bisa sebagian, harus menyeluruh,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/