alexametrics
29.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Sulitnya Menjaga Kebersihan Sungai; Berharap Kesadaran Masyarakat

Pada hari-hari ini, sungai di Jalan Sutoyo S tampak kumuh. Gulma seperti enceng gondok dan tumpukan sampah rumah tangga menyatu.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

MEMANGGUL tiga ember, Alan berjalan pelan ke tepi sungai, kemarin (27/8) pagi. Dia biasa menimba air di situ untuk membersihkan meja dan kursi warung tempatnya bekerja.

Favehotel Banjarmasin

Setiba di sungai, Alan menggerutu. Melihat tumpukan sampah yang mengapung. Padahal, belum sampai sebulan sungai di Banjarmasin Tengah itu dibersihkan.

“Kalau pelakunya ketemu, saya viralkan saja. Bikin rusak pemandangan,” ujarnya kesal.

Alan yakin, sampah tak datang sendiri. Atau hanyut terbawa dari jauh. Memang ada oknum yang membuang sengaja. Karena sampah-sampah itu masih terbungus rapi dengan kantong plastik.

Senada dengan apa yang disampaikan Bude, pemilik depot sea food di seberang sungai. Tak jauh dari Rumah Sakit TPT Dr R Soeharsono.

“Ada yang sengaja nyampah. Kalau yang pernah saya lihat, waktunya tengah malam, pas jalanan lengang,” kisahnya.

Keluhan warga akhirnya sampai ke telinga Kabid Sungai di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Hizbul Wathony.

Siangnya, pasukan turbo pun diterjunkan untuk membersihkan sungai. “Ada dua aliran sungai yang dibersihkan. Sungai di Jalan Belitung dan Jalan Sutoyo S. Kemungkinan besok selesai,” bebernya.

Beban pasukan turbo, spesialis pembersih sungai dan drainase ini terbilang berat. Jadwal rutinnya saja menyasar 150 kawasan dalam setahun. Dalam sehari, lima “peleton” diturunkan. Tiga mengurusi drainase, dua menangani sungai.

“Kecuali ada satu kawasan yang perlu penanganan khusus, maka kelima grup diturunkan sekaligus,” jelasnya.

Soal oknum yang nyampah, pemko tak bisa berbuat banyak selain memasang papan imbauan di depan sungai. Karena pemko belum sanggup membayar tambahan pengawas.

Program sosialisasi ke kelurahan dan RT juga mandek gara-gara pandemi. Demi menghindari kerumunan. “Anggaran sosialisasi ada. Rp150 juta setahun untuk lima kecamatan. Tapi sudah dialihkan untuk penanganan wabah,” jelas Thony.

Soal menumbuhkan kesadaran warga, tentu tidak gampang. “Kami butuh dukungan masyarakat. Tanpa kesadaran masyarakat, akan selalu kesulitan,” tutupnya. (at/fud)

Pada hari-hari ini, sungai di Jalan Sutoyo S tampak kumuh. Gulma seperti enceng gondok dan tumpukan sampah rumah tangga menyatu.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

MEMANGGUL tiga ember, Alan berjalan pelan ke tepi sungai, kemarin (27/8) pagi. Dia biasa menimba air di situ untuk membersihkan meja dan kursi warung tempatnya bekerja.

Favehotel Banjarmasin

Setiba di sungai, Alan menggerutu. Melihat tumpukan sampah yang mengapung. Padahal, belum sampai sebulan sungai di Banjarmasin Tengah itu dibersihkan.

“Kalau pelakunya ketemu, saya viralkan saja. Bikin rusak pemandangan,” ujarnya kesal.

Alan yakin, sampah tak datang sendiri. Atau hanyut terbawa dari jauh. Memang ada oknum yang membuang sengaja. Karena sampah-sampah itu masih terbungus rapi dengan kantong plastik.

Senada dengan apa yang disampaikan Bude, pemilik depot sea food di seberang sungai. Tak jauh dari Rumah Sakit TPT Dr R Soeharsono.

“Ada yang sengaja nyampah. Kalau yang pernah saya lihat, waktunya tengah malam, pas jalanan lengang,” kisahnya.

Keluhan warga akhirnya sampai ke telinga Kabid Sungai di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Hizbul Wathony.

Siangnya, pasukan turbo pun diterjunkan untuk membersihkan sungai. “Ada dua aliran sungai yang dibersihkan. Sungai di Jalan Belitung dan Jalan Sutoyo S. Kemungkinan besok selesai,” bebernya.

Beban pasukan turbo, spesialis pembersih sungai dan drainase ini terbilang berat. Jadwal rutinnya saja menyasar 150 kawasan dalam setahun. Dalam sehari, lima “peleton” diturunkan. Tiga mengurusi drainase, dua menangani sungai.

“Kecuali ada satu kawasan yang perlu penanganan khusus, maka kelima grup diturunkan sekaligus,” jelasnya.

Soal oknum yang nyampah, pemko tak bisa berbuat banyak selain memasang papan imbauan di depan sungai. Karena pemko belum sanggup membayar tambahan pengawas.

Program sosialisasi ke kelurahan dan RT juga mandek gara-gara pandemi. Demi menghindari kerumunan. “Anggaran sosialisasi ada. Rp150 juta setahun untuk lima kecamatan. Tapi sudah dialihkan untuk penanganan wabah,” jelas Thony.

Soal menumbuhkan kesadaran warga, tentu tidak gampang. “Kami butuh dukungan masyarakat. Tanpa kesadaran masyarakat, akan selalu kesulitan,” tutupnya. (at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/