alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Makin Panjang Ekornya, Makin Usil; Curhat Petugas Taman Satwa di Tengah Pandemi

Bahala corona di Banjarmasin belum menunjukkan penurunan. Taman Satwa di Jalan Jahri Saleh yang biasanya ramai pun sepi pengunjung.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

ADA 20 jenis fauna yang bernaung di Taman Satwa Banjarmasin. Selama pandemi, taman seluas dua hektare itu ditutup bagi para pengunjung. Tepatnya sejak 18 Maret lalu. Tak ayal, kondisi itu membuat fasilitas di Banjarmasin utara itu sepi.

Favehotel Banjarmasin

Taman ini dibagi sejumlah zona. Dari zona rusa, primata atau mamalia, reptil, alves atau burung, hingga poultry atau unggas.

Dikunjungi penulis, kemarin (25/8) siang, kebun binatang mini ini benar-benar lengang. Hanya ada pengurus satwa, petugas kebersihan dan teriak owa-owa.

“Kalau sepi seperti ini, rasanya seperti bukan di kebun binatang saja,” canda Alwan. Lelaki berambut klimis itu Wakil Koordinator Taman Satwa Banjarmasin. Sudah dua tahun ia bekerja di situ.

Selain tugas harian memandikan kucing dan memeriksa kesehatan hewan, ia juga bertugas mengawasi keamanan seluruh hewan di situ. “Tadi barusan selesai membersihkan kandang,” tambahnya.

Alwan lalu menunjukkan dua kandang. Yang berkelir pink diisi musang akar. Sementara kandang berkelir biru diisi musang pandan. Keduanya tampak loyo.

“Musang kan aktifnya malam hari. Makanya banyak diam ketimbang gerak,” jelasnya. Menjawab rasa penasaran penulis yang mengira dua musang itu sedang sakit.

Melihat kondisi taman selama pandemi, Alwan mengaku prihatin. Sembari mengajak penulis berkeliling, ia menuturkan bahwa sebenarnya di masa pandemi, ada saja pengunjung yang datang.

Jumlahnya memang tidak banyak. Hanya satu dua orang saja. Umumnya, pengunjung menanyakan apakah Taman Satwa masih tutup atau sudah dibuka kembali.

Merasa kasihan dengan pengunjung. Alwan pun mengaku menyilakan pengunjung masuk. Tentu tidak sembarangan, serangkaian protokol kesehatan harus diterapkan.

Selama berada di dalam, pengunjung wajib mengenakan masker dan menjaga jarak. “Yang saya ingat, pengunjung waktu itu datang dari jauh. Dari Marabahan (Kabupaten Barito Kuala). Ayah dan anaknya,” bebernya.

Sebelum pandemi, taman dibuka setiap hari. Dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore. Harga tiket masuk bervariasi. Untuk anak-anak dipatok Rp2 ribu. Sementara orang dewasa dipatok Rp4 ribu.

Kini Alwan berhenti di kandang buaya. Di kandang yang ukurannya paling besar itu, dihuni sepasang buaya muara. Dengan bangga, Alwan menuturkan bahwa setahun silam, pasangan buaya itu bertelur kemudian menetas.

Anaknya kini diletakkan di tempat terpisah. Seiring waktu, ukuran sang anak sudah sepanjang pergelangan tangan orang dewasa.

“Dahulu masih bisa ditimang-timang. Sekarang karena sudah muncul gigi-giginya, bahaya kalau nekat menimang,” tuturnya seraya terkekeh.

Sekalipun sepi pengunjung, Alwan menegaskan, kondisi semua hewan dalam keadaan sehat. Tidak ada yang kelaparan apalagi sampai meninggal.

“Pengunjung yang sepi tentu berimbas pada pemasukan taman. Tapi, suntikan dana rutin dari pemko selalu ada,” ungkapnya.

Taman ini dikelola Dinas Ketahanan Pangan Pertaninan dan Perikanan (DKP3). Setiap bulan, pengelola rutin menyemprotkan disinfektan.

Sasarannya, lorong-lorong di samping kandang hewan. Pagar pembatas yang kerap disentuh tangan pengunjung. Maupun pintu masuk dan keluar utama.

Selama menjadi pengurus inti, Alwan mengaku tak pernah sekalipun disulitkan hewan-hewan di situ. Semua sudah dianggapnya seperti keluarga.

“Kalau senggang, saya biasa melihat-lihat ke zona primata. Ada salah satu hewan yang paling jahil dan manja di situ,” tuturnya.

Beranjak dari kandang buaya, penulis diajak melihat hewan yang dimaksud Alwan. Rupanya seekor owa-owa. Kandangnya tak kalah besar dengan kandang buaya. Di dalamnya ada pepohonan.

Owa-owa yang memiliki ekor paling panjang lantas menghampiri Alwan. Dibatasi pagar, owa-owa itu menjulurkan tangan kemudian kakinya. Menurut Alwan, primata yang satu ini pengin minta dielus.

“Dia yang paling manja dan paling jahil. Kalau tidak hati-hati, pengunjung bisa dicolek-colek,” ungkapnya.

Alwan hanya berharap pagebluk segera mereda. Dia sudah rindu membawa pengunjung bercengkrama. Menjelaskan satu per satu hewan kepada pengunjung yang penasaran.

“Biasanya anak-anak yang paling antusias. Mereka suka sekali tertawa melihat tingkah hewan-hewan di sini,” tutupnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Banjarmasin, Anwar Ziadi menerangkan, hingga saat ini pihaknya belum bisa kembali membuka Taman Satwa untuk umum. “Kami masih menunggu arahan pak wali kota,” ujarnya. (fud/ema)

Bahala corona di Banjarmasin belum menunjukkan penurunan. Taman Satwa di Jalan Jahri Saleh yang biasanya ramai pun sepi pengunjung.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin —

ADA 20 jenis fauna yang bernaung di Taman Satwa Banjarmasin. Selama pandemi, taman seluas dua hektare itu ditutup bagi para pengunjung. Tepatnya sejak 18 Maret lalu. Tak ayal, kondisi itu membuat fasilitas di Banjarmasin utara itu sepi.

Favehotel Banjarmasin

Taman ini dibagi sejumlah zona. Dari zona rusa, primata atau mamalia, reptil, alves atau burung, hingga poultry atau unggas.

Dikunjungi penulis, kemarin (25/8) siang, kebun binatang mini ini benar-benar lengang. Hanya ada pengurus satwa, petugas kebersihan dan teriak owa-owa.

“Kalau sepi seperti ini, rasanya seperti bukan di kebun binatang saja,” canda Alwan. Lelaki berambut klimis itu Wakil Koordinator Taman Satwa Banjarmasin. Sudah dua tahun ia bekerja di situ.

Selain tugas harian memandikan kucing dan memeriksa kesehatan hewan, ia juga bertugas mengawasi keamanan seluruh hewan di situ. “Tadi barusan selesai membersihkan kandang,” tambahnya.

Alwan lalu menunjukkan dua kandang. Yang berkelir pink diisi musang akar. Sementara kandang berkelir biru diisi musang pandan. Keduanya tampak loyo.

“Musang kan aktifnya malam hari. Makanya banyak diam ketimbang gerak,” jelasnya. Menjawab rasa penasaran penulis yang mengira dua musang itu sedang sakit.

Melihat kondisi taman selama pandemi, Alwan mengaku prihatin. Sembari mengajak penulis berkeliling, ia menuturkan bahwa sebenarnya di masa pandemi, ada saja pengunjung yang datang.

Jumlahnya memang tidak banyak. Hanya satu dua orang saja. Umumnya, pengunjung menanyakan apakah Taman Satwa masih tutup atau sudah dibuka kembali.

Merasa kasihan dengan pengunjung. Alwan pun mengaku menyilakan pengunjung masuk. Tentu tidak sembarangan, serangkaian protokol kesehatan harus diterapkan.

Selama berada di dalam, pengunjung wajib mengenakan masker dan menjaga jarak. “Yang saya ingat, pengunjung waktu itu datang dari jauh. Dari Marabahan (Kabupaten Barito Kuala). Ayah dan anaknya,” bebernya.

Sebelum pandemi, taman dibuka setiap hari. Dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore. Harga tiket masuk bervariasi. Untuk anak-anak dipatok Rp2 ribu. Sementara orang dewasa dipatok Rp4 ribu.

Kini Alwan berhenti di kandang buaya. Di kandang yang ukurannya paling besar itu, dihuni sepasang buaya muara. Dengan bangga, Alwan menuturkan bahwa setahun silam, pasangan buaya itu bertelur kemudian menetas.

Anaknya kini diletakkan di tempat terpisah. Seiring waktu, ukuran sang anak sudah sepanjang pergelangan tangan orang dewasa.

“Dahulu masih bisa ditimang-timang. Sekarang karena sudah muncul gigi-giginya, bahaya kalau nekat menimang,” tuturnya seraya terkekeh.

Sekalipun sepi pengunjung, Alwan menegaskan, kondisi semua hewan dalam keadaan sehat. Tidak ada yang kelaparan apalagi sampai meninggal.

“Pengunjung yang sepi tentu berimbas pada pemasukan taman. Tapi, suntikan dana rutin dari pemko selalu ada,” ungkapnya.

Taman ini dikelola Dinas Ketahanan Pangan Pertaninan dan Perikanan (DKP3). Setiap bulan, pengelola rutin menyemprotkan disinfektan.

Sasarannya, lorong-lorong di samping kandang hewan. Pagar pembatas yang kerap disentuh tangan pengunjung. Maupun pintu masuk dan keluar utama.

Selama menjadi pengurus inti, Alwan mengaku tak pernah sekalipun disulitkan hewan-hewan di situ. Semua sudah dianggapnya seperti keluarga.

“Kalau senggang, saya biasa melihat-lihat ke zona primata. Ada salah satu hewan yang paling jahil dan manja di situ,” tuturnya.

Beranjak dari kandang buaya, penulis diajak melihat hewan yang dimaksud Alwan. Rupanya seekor owa-owa. Kandangnya tak kalah besar dengan kandang buaya. Di dalamnya ada pepohonan.

Owa-owa yang memiliki ekor paling panjang lantas menghampiri Alwan. Dibatasi pagar, owa-owa itu menjulurkan tangan kemudian kakinya. Menurut Alwan, primata yang satu ini pengin minta dielus.

“Dia yang paling manja dan paling jahil. Kalau tidak hati-hati, pengunjung bisa dicolek-colek,” ungkapnya.

Alwan hanya berharap pagebluk segera mereda. Dia sudah rindu membawa pengunjung bercengkrama. Menjelaskan satu per satu hewan kepada pengunjung yang penasaran.

“Biasanya anak-anak yang paling antusias. Mereka suka sekali tertawa melihat tingkah hewan-hewan di sini,” tutupnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Banjarmasin, Anwar Ziadi menerangkan, hingga saat ini pihaknya belum bisa kembali membuka Taman Satwa untuk umum. “Kami masih menunggu arahan pak wali kota,” ujarnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/