alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

Korban Covid-19, Baru Satu Ahli Waris Terima Santunan

BANJARMASIN – Data terakhir Dinas Kesehatan Banjarmasin, angka kematian akibat COVID-19 di ibu kota Kalsel ini sudah mencapai 152 kasus.

Keluarga yang ditinggalkan berhak mendapatkan santunan kematian sebesar Rp15 juta. Sesuai dengan edaran Kementerian Sosial.

Tapi sampai sekarang, baru satu ahli waris yang menerima pencairan bantuan. Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Sosial Banjarmasin, Iwan Ristianto.

Favehotel Banjarmasin

“Sedangkan yang lain masih diusulkan ke Kemensos. Nanti bantuan akan ditransfer ke rekening ahli waris,” ujarnya (21/8).

Jumlahnya pun tak banyak. Hanya untuk 25 orang. Menurut Iwan, masyarakat masih menganggap terpapar virus corona sebagai aib. Sehingga enggan mengurus santunan itu.

“Padahal kan tidak. Justru yang menjadi korban harus dibantu,” tegasnya.

Soal puluhan berkas di atas, juga bukan tanpa kendala. Banyak usulan yang bolak-balik. Lantaran berkasnya tak komplet.

“Yang terpenting melampirkan surat dari Dinkes, rumah sakit atau puskesmas. Yang menerangkan bahwa korban meninggal karena terpapar corona,” jelas Iwan.

Selebihnya, berkas administrasi seperti fotokopi KTP, KK, dan akta kematian dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

Lalu, diverifikasi Dinsos. Ditanya apakah karena kurang sosialisasi, Iwan sangsi. “Petugas medis sudah banyak yang tahu. Jadi mestinya tak ada lagi ahli waris yang tak diberi tahu,” tutupnya. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Data terakhir Dinas Kesehatan Banjarmasin, angka kematian akibat COVID-19 di ibu kota Kalsel ini sudah mencapai 152 kasus.

Keluarga yang ditinggalkan berhak mendapatkan santunan kematian sebesar Rp15 juta. Sesuai dengan edaran Kementerian Sosial.

Tapi sampai sekarang, baru satu ahli waris yang menerima pencairan bantuan. Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Sosial Banjarmasin, Iwan Ristianto.

Favehotel Banjarmasin

“Sedangkan yang lain masih diusulkan ke Kemensos. Nanti bantuan akan ditransfer ke rekening ahli waris,” ujarnya (21/8).

Jumlahnya pun tak banyak. Hanya untuk 25 orang. Menurut Iwan, masyarakat masih menganggap terpapar virus corona sebagai aib. Sehingga enggan mengurus santunan itu.

“Padahal kan tidak. Justru yang menjadi korban harus dibantu,” tegasnya.

Soal puluhan berkas di atas, juga bukan tanpa kendala. Banyak usulan yang bolak-balik. Lantaran berkasnya tak komplet.

“Yang terpenting melampirkan surat dari Dinkes, rumah sakit atau puskesmas. Yang menerangkan bahwa korban meninggal karena terpapar corona,” jelas Iwan.

Selebihnya, berkas administrasi seperti fotokopi KTP, KK, dan akta kematian dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

Lalu, diverifikasi Dinsos. Ditanya apakah karena kurang sosialisasi, Iwan sangsi. “Petugas medis sudah banyak yang tahu. Jadi mestinya tak ada lagi ahli waris yang tak diberi tahu,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/