alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Di Banjarbaru, Pawai 1 Muharam Ditiadakan

BANJARBARU – Perayaan tahun baru Islam di Banjarbaru tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Karena tidak lagi diwarnai dengan pawai yang biasanya digelar secara rutin setiap kali 1 Muharam.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Banjarbaru, Hidayaturrahman mengatakan, tahun ini pawai 1 Muharam di Banjarbaru ditiadakan untuk mencegah adanya perkumpulan massa di tengah pandemi Covid-19.

“Kami tidak ingin, karena ada perkumpulan massa terjadi penularan Covid-19. Jadi pawai ditiadakan tahun ini,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Favehotel Banjarmasin

Dia mengungkapkan, selain pawai yang rutin digelar Pemko Banjarbaru, pawai yang biasanya diinisiasi Ponpes Miftahul Khairiyah di Kecamatan Cempaka juga tidak digelar.

Apakah ada kegiatan lain sebagai penggantinya? Menurut Hidayaturrahman tidak ada. “Karena anggaran untuk menggelar kegiatan juga tidak ada. Dialihkan untuk penanganan Covid-19,” ujarnya.

Secara terpisah, Lurah Cempaka Junaidi menyampaikan, tahun ini untuk pertama kalinya pawai 1 Muharam di Cempaka tidak digelar. “Setelah rutin dilaksanakan selama puluhan tahun, baru tahun ini tidak ada pawai,” ucapnya.

Menurutnya, tidak masalah pawai tidak digelar. Yang terpenting masyarakat terhindar dari penularan Covid-19. “Kalau digelar, bisa mengumpulkan banyak massa. Itu sangat rentan sekali di tengah pandemi ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rifani, salah seorang warga Cempaka. Menurutnya, meski pawai 1 Muharam merupakan event tahunan yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Namun, di tengah pagebluk ini masyarakat tidak berani ikut apabila pawai tetap digelar.

“Hal itu mungkin yang membuat pihak terkait memilih untuk meniadakan pawai,” bebernya.

Dia berharap, pandemi Covid-19 cepat berakhir. Supaya tahun depan pawai 1 Muharam bisa digelar kembali. “Karena 1 Muharam selama ini pasti disambut meriah semua warga,” paparnya.

Biasanya, pawai 1 Muharam diikuti oleh peserta yang sebagian besar berasal dari majelis-majelis, sekolah, pondok pesantren dan kelurahan. Mereka berbaris dan berjalan kaki sambil menggunakan berbagai jenis pakaian. Mulai dari pakaian adat daerah hingga pakaian khas Islam.

Bukan hanya itu, peserta juga biasanya membawa berbagai macam atribut unik hingga mengundang gelak tawa para penonton. Ada yang membawa gerobak berbentuk kuda, onta dan ada pula yang membawa miniatur masjid. (ris/ema)

BANJARBARU – Perayaan tahun baru Islam di Banjarbaru tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Karena tidak lagi diwarnai dengan pawai yang biasanya digelar secara rutin setiap kali 1 Muharam.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Banjarbaru, Hidayaturrahman mengatakan, tahun ini pawai 1 Muharam di Banjarbaru ditiadakan untuk mencegah adanya perkumpulan massa di tengah pandemi Covid-19.

“Kami tidak ingin, karena ada perkumpulan massa terjadi penularan Covid-19. Jadi pawai ditiadakan tahun ini,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Favehotel Banjarmasin

Dia mengungkapkan, selain pawai yang rutin digelar Pemko Banjarbaru, pawai yang biasanya diinisiasi Ponpes Miftahul Khairiyah di Kecamatan Cempaka juga tidak digelar.

Apakah ada kegiatan lain sebagai penggantinya? Menurut Hidayaturrahman tidak ada. “Karena anggaran untuk menggelar kegiatan juga tidak ada. Dialihkan untuk penanganan Covid-19,” ujarnya.

Secara terpisah, Lurah Cempaka Junaidi menyampaikan, tahun ini untuk pertama kalinya pawai 1 Muharam di Cempaka tidak digelar. “Setelah rutin dilaksanakan selama puluhan tahun, baru tahun ini tidak ada pawai,” ucapnya.

Menurutnya, tidak masalah pawai tidak digelar. Yang terpenting masyarakat terhindar dari penularan Covid-19. “Kalau digelar, bisa mengumpulkan banyak massa. Itu sangat rentan sekali di tengah pandemi ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rifani, salah seorang warga Cempaka. Menurutnya, meski pawai 1 Muharam merupakan event tahunan yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Namun, di tengah pagebluk ini masyarakat tidak berani ikut apabila pawai tetap digelar.

“Hal itu mungkin yang membuat pihak terkait memilih untuk meniadakan pawai,” bebernya.

Dia berharap, pandemi Covid-19 cepat berakhir. Supaya tahun depan pawai 1 Muharam bisa digelar kembali. “Karena 1 Muharam selama ini pasti disambut meriah semua warga,” paparnya.

Biasanya, pawai 1 Muharam diikuti oleh peserta yang sebagian besar berasal dari majelis-majelis, sekolah, pondok pesantren dan kelurahan. Mereka berbaris dan berjalan kaki sambil menggunakan berbagai jenis pakaian. Mulai dari pakaian adat daerah hingga pakaian khas Islam.

Bukan hanya itu, peserta juga biasanya membawa berbagai macam atribut unik hingga mengundang gelak tawa para penonton. Ada yang membawa gerobak berbentuk kuda, onta dan ada pula yang membawa miniatur masjid. (ris/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/