alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Kreasi Strap Jam Tangan Berbahan Paracord; Tak Semata Materi, Lebih ke Hobi

Selain berfungsi mengikat bodi jam pada pergelangan tangan, strap juga bisa untuk fashion. Seorang perajin asal Banjarmasin mengkreasikan anyaman tali paracord menjadi strap jam tangan.

— Oleh: ENDANG S, Banjarmasin

SURYA Tajudin adalah orang di balik keberadaan Paraborneo. Tali jam tangan olahannya unik karena terbuat dari tali paracord.

Favehotel Banjarmasin

“Saya bikin gelang dan kalung, tapi kebanyakan pelanggan pesan tali jam tangan,” kata Surya saat bertemu penulis, Senin (3/8) malam.

Penulis awalnya ingin mengunjungi Surya di rumah. Tapi karena berhalangan, maka ia yang bertandang ke kantor biro Radar Banjarmasin di Jalan Hasan Basry. Kebetulan dekat saja.

Dia membawa berbagai peralatan sederhana untuk menganyam. Seperti jig, gunting, jarum, korek api gas dan tentu saja tali paracord.

Seingatnya, usaha ini dimulai sekitar awal tahun 2016 silam. Mulanya hanya membuatkan pesanan gelang dari anyaman tali untuk adiknya. Kebetulan sewaktu kuliah di Yogyakarta ia pernah mempelajarinya.

“Dari situ nalar kreatif saya jalan. Terpikir membuat anyaman tali untuk aksesoris lainnya, termasuk strap jam tangan,” kata suami dari Sariah ini.

Bapak satu anak ini memulai riset. Mencari di pasar tali yang cocok untuk dianyam menjadi strap. Setelah beberapa tahun, akhirnya ia berjodoh dengan paracord. Paracord atau disebut juga parachute cord adalah tali yang menghubungkan parasut dengan tas penerjun. Biasanya digunakan militer.

Belakangan tali ini sering digunakan para pecinta alam. Karena alat ini banyak kegunaannya. Bisa sebagai alat pengikat bawaan pada backpack saat berpetualang, mengikat tenda, membuat perangkap, mengikat hasil buruan. Bahkan bisa menghentikan aliran darah saat terluka. Terlihat lentur, tali ini sangat kuat. Mampu mengangkat beban sampai 200 kilogram.

Balik lagi ke usaha Surya, ia pun mulai membuat strap, gelang dan kalung lanyard. Anyaman kreasinya diberi nama Paraborneo. Nama itu diambil dari gabungan nama paracord dan Borneo. Sebutan dalam Bahasa Inggris untuk Pulau Kalimantan.

Rumahnya di Jalan Hasan Basry Kompleks Meranti kemudian dijadikan sebagai workshop Paraborneo.

Untuk mengenalkannya ke publik, mulanya hanya ditawarkan kepada teman-teman terdekat. Tapi belum banyak yang tertarik. Maklum, harga bahan baku yang digunakan mahal. Orang banyak berpikir untuk membeli. Tapi ia yakin, peminatnya pasti banyak. Hanya belum bertemu saja pasarnya di mana.

“Tiga bulan jualan, masih begitu-begitu saja. Sampai buka lapak lesehan di Siring Pierre Tendean dan Pasar Wadai,” kenangnya.

Tak patah semangat, berbagai cara promosi dicoba, salah satunya melalui Instagram. Pelan tapi pasti, kurang lebih enam bulan, hasilnya mulai terlihat. Pemesan mulai berdatangan.

Setiap bulan, sekitar 10-15 unit strap dipesan. Lama waktu pembuatan paling cepat sekitar satu jam. Paling lama sepekan. Tergantung model dan tingkat kesulitan yang dipinta si pemesan.

“Harganya mulai Rp95 ribu sampai satu juta, tergantung aksesorisnya,” katanya.

Pandemi turut menghantam usahanya. Toko yang dibukanya setahun silam, terpaksa ditutup. Semuanya kini dialihkan ke rumahnya. “Terdampak juga, sekarang cuma 5-6 unit sebulan,” pungkasnya. (fud/ema)

Selain berfungsi mengikat bodi jam pada pergelangan tangan, strap juga bisa untuk fashion. Seorang perajin asal Banjarmasin mengkreasikan anyaman tali paracord menjadi strap jam tangan.

— Oleh: ENDANG S, Banjarmasin

SURYA Tajudin adalah orang di balik keberadaan Paraborneo. Tali jam tangan olahannya unik karena terbuat dari tali paracord.

Favehotel Banjarmasin

“Saya bikin gelang dan kalung, tapi kebanyakan pelanggan pesan tali jam tangan,” kata Surya saat bertemu penulis, Senin (3/8) malam.

Penulis awalnya ingin mengunjungi Surya di rumah. Tapi karena berhalangan, maka ia yang bertandang ke kantor biro Radar Banjarmasin di Jalan Hasan Basry. Kebetulan dekat saja.

Dia membawa berbagai peralatan sederhana untuk menganyam. Seperti jig, gunting, jarum, korek api gas dan tentu saja tali paracord.

Seingatnya, usaha ini dimulai sekitar awal tahun 2016 silam. Mulanya hanya membuatkan pesanan gelang dari anyaman tali untuk adiknya. Kebetulan sewaktu kuliah di Yogyakarta ia pernah mempelajarinya.

“Dari situ nalar kreatif saya jalan. Terpikir membuat anyaman tali untuk aksesoris lainnya, termasuk strap jam tangan,” kata suami dari Sariah ini.

Bapak satu anak ini memulai riset. Mencari di pasar tali yang cocok untuk dianyam menjadi strap. Setelah beberapa tahun, akhirnya ia berjodoh dengan paracord. Paracord atau disebut juga parachute cord adalah tali yang menghubungkan parasut dengan tas penerjun. Biasanya digunakan militer.

Belakangan tali ini sering digunakan para pecinta alam. Karena alat ini banyak kegunaannya. Bisa sebagai alat pengikat bawaan pada backpack saat berpetualang, mengikat tenda, membuat perangkap, mengikat hasil buruan. Bahkan bisa menghentikan aliran darah saat terluka. Terlihat lentur, tali ini sangat kuat. Mampu mengangkat beban sampai 200 kilogram.

Balik lagi ke usaha Surya, ia pun mulai membuat strap, gelang dan kalung lanyard. Anyaman kreasinya diberi nama Paraborneo. Nama itu diambil dari gabungan nama paracord dan Borneo. Sebutan dalam Bahasa Inggris untuk Pulau Kalimantan.

Rumahnya di Jalan Hasan Basry Kompleks Meranti kemudian dijadikan sebagai workshop Paraborneo.

Untuk mengenalkannya ke publik, mulanya hanya ditawarkan kepada teman-teman terdekat. Tapi belum banyak yang tertarik. Maklum, harga bahan baku yang digunakan mahal. Orang banyak berpikir untuk membeli. Tapi ia yakin, peminatnya pasti banyak. Hanya belum bertemu saja pasarnya di mana.

“Tiga bulan jualan, masih begitu-begitu saja. Sampai buka lapak lesehan di Siring Pierre Tendean dan Pasar Wadai,” kenangnya.

Tak patah semangat, berbagai cara promosi dicoba, salah satunya melalui Instagram. Pelan tapi pasti, kurang lebih enam bulan, hasilnya mulai terlihat. Pemesan mulai berdatangan.

Setiap bulan, sekitar 10-15 unit strap dipesan. Lama waktu pembuatan paling cepat sekitar satu jam. Paling lama sepekan. Tergantung model dan tingkat kesulitan yang dipinta si pemesan.

“Harganya mulai Rp95 ribu sampai satu juta, tergantung aksesorisnya,” katanya.

Pandemi turut menghantam usahanya. Toko yang dibukanya setahun silam, terpaksa ditutup. Semuanya kini dialihkan ke rumahnya. “Terdampak juga, sekarang cuma 5-6 unit sebulan,” pungkasnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/