alexametrics
23.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

Tanpa Mahasiswa, Warung-Warung Legendaris Sulit Bertahan; Pelanggan Jalan Cendana Direnggut Pagebluk

Pagebluk menghantam semua sektor. Deretan warung makan legendaris di Jalan Cendana pun tak luput. Pemilik warung harus putar otak, bertahan meski kepayahan.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

MASYARAKAT Banjarmasin tentu mengenal Jalan Cendana di Banjarmasin Utara. Di sini puluhan warung makan berkumpul. Dibangun sederhana, memanfaatkan halaman rumah.

Favehotel Banjarmasin

Pada Rabu (29/7) yang terik, kawasan ini tampak lengang. Hanya beberapa pengendara melintas. Meski buka, warung makan sepi dari pembeli. Padahal sudah jam makan siang. Kondisi seperti ini sudah berbulan-bulan, sejak virus corona melanda.

Denyut nadi warung tentu bergantung pada pembeli. Mayoritas pembeli di sini adalah mahasiswa-mahasiswi. Dan pekerja bergaji pas upah minimum regional (UMR). Maka, jangan heran apabila harga yang ditawarkan warung di kawasan ini terbilang ramah.

Tapi tak seramah virus corona. Banting harga tidak mungkin. Karena harga bahan pokok tetap tinggi. Maka, bertahan adalah strategi satu-satunya.

Seperti yang dialami warung milik Saprah, 57 tahun. Dia bukan pedagang baru. Namanya sudah melegenda di kalangan mahasiswa. Warung pertamanya dibangun tepat di samping pagar Taman Budaya.

Tapi setelah penertiban Satpol PP pada tahun 2010 lalu, warungnya pindah. Bergeser agak ke dalam. “Pengin tutup, tapi banyak anak cucu,” tuturnya.

Buka sejak jam 8 pagi sampai jam 5 sore, Saprah mengaku kini lebih banyak melayani pembeli bungkusan.

Yang datang makan di tempat kini berkurang. Bahkan hampir tidak ada. Seperti siang itu, hanya ada seorang ojol yang sedang makan.

“Sepi sekali. Gara-gara corona ini. Anak-anak SMA dan mahasiswa juga libur. Biasanya ramai makan di sini,” keluhnya.

Di sini, sepiring nasi campur dijual Rp10 ribu sampai Rp13 ribu. Sudah termasuk segelas es teh manis.

Sepinya pembeli tentu berimbas pada pendapatan. Jauh sebelum pagebluk melanda, dalam sehari ia bisa meraup keuntungan kotor Rp2 juta. Kini untuk memperoleh Rp700 ribu pun sulit.

“Tapi yang namanya berusaha ya. Alhamdulillah ada saja rezekinya. Paling tidak, masih bisa membayar sewa tempat Rp1 juta perbulan,” tambahnya.

Nasib tidak jauh berbeda juga menimpa Hj Midah. Beruntung, warung perempuan 50 tahun ini berada di lokasi yang cukup mencolok. Berada persis di pinggir jalan, tepat di belakang gedung Taman Budaya.

Warung ini juga bergantung pada kunjungan rombongan mahasiswa. Siang itu, hanya ada dua warga yang tampak asyik menyantap makanan.

“Tanpa mahasiswa, kami sulit bertahan. Jadi harus buka sejak jam setengah 8 pagi sampai jam 9 malam. Tanpa libur,” bebernya.

Dia setidaknya harus mencari Rp150 hingga Rp200 ribu perhari untuk biaya sewa warung. Belum lagi untuk menggaji empat bawahannya.

Bila sebelum pageblum, mereka berempat harus bekerja bersamaan. Kini dikerjakan bergantian. “Yang bekerja hari ini dua orang, besok libur. Digantikan dua orang lainnya. Begitu seterusnya,” jelasnya. Strategi itu diambil agar tak ada pemecatan.

Tapi keadaan memang sudah mendingan. Dia kewalahan saat menghadapi PSBB berjilid-jilid yang diterapkan pemko. “Saat itu, sampai-sampai tak ada pengunjung sama sekali,” ingatnya.

Agar pembeli tak kabur, Saprah dan Hj Midah memilih buka sampai malam. Menerima pesanan katering. Dan tentu menyediakan tempat cuci tangan di depan warung.

Lalu ada warung milik Munirah, 46 tahun. Berbeda dari dua warung di atas yang menyediakan beragam menu. Di warung ini hanya ada tiga menu.

Yakni nasi lalapan, nasi pecel dan nasi ayam penyet. Dua menu pertama, harganya sama Rp10 ribu. Menu ketiga silakan menambah Rp2 ribu. “Ingat, belum termasuk es teh,” tegasnya.

Munirah menilai, perampingan menu ini perlu agar bisa bertahan. “Ketika sepi pembeli, maka tidak banyak memerlukan bahan makanan. Berbeda bila menyediakan banyak menu. Bila sepi pembeli, tak ada pilihan selain banting harga,” tuntasnya.

Siang itu, warung Munirah juga sepi pembeli. Tapi menurutnya jumlah pembeli sudah berkurang sejak mahasiswa punya rice cooker sendiri di indekos.

Mahasiswa dipandang semakin jarang mangkal di warung-warung. “Paling kalau cuma buru-buru, alias tidak sempat memasak,” beber mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Husnul, 27 tahun.

Husnul sendiri mengaku hanya membeli lauknya saja. Tidak banyak, asal cukup dikonsumsi berdua. (fud/ema)

Pagebluk menghantam semua sektor. Deretan warung makan legendaris di Jalan Cendana pun tak luput. Pemilik warung harus putar otak, bertahan meski kepayahan.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

MASYARAKAT Banjarmasin tentu mengenal Jalan Cendana di Banjarmasin Utara. Di sini puluhan warung makan berkumpul. Dibangun sederhana, memanfaatkan halaman rumah.

Favehotel Banjarmasin

Pada Rabu (29/7) yang terik, kawasan ini tampak lengang. Hanya beberapa pengendara melintas. Meski buka, warung makan sepi dari pembeli. Padahal sudah jam makan siang. Kondisi seperti ini sudah berbulan-bulan, sejak virus corona melanda.

Denyut nadi warung tentu bergantung pada pembeli. Mayoritas pembeli di sini adalah mahasiswa-mahasiswi. Dan pekerja bergaji pas upah minimum regional (UMR). Maka, jangan heran apabila harga yang ditawarkan warung di kawasan ini terbilang ramah.

Tapi tak seramah virus corona. Banting harga tidak mungkin. Karena harga bahan pokok tetap tinggi. Maka, bertahan adalah strategi satu-satunya.

Seperti yang dialami warung milik Saprah, 57 tahun. Dia bukan pedagang baru. Namanya sudah melegenda di kalangan mahasiswa. Warung pertamanya dibangun tepat di samping pagar Taman Budaya.

Tapi setelah penertiban Satpol PP pada tahun 2010 lalu, warungnya pindah. Bergeser agak ke dalam. “Pengin tutup, tapi banyak anak cucu,” tuturnya.

Buka sejak jam 8 pagi sampai jam 5 sore, Saprah mengaku kini lebih banyak melayani pembeli bungkusan.

Yang datang makan di tempat kini berkurang. Bahkan hampir tidak ada. Seperti siang itu, hanya ada seorang ojol yang sedang makan.

“Sepi sekali. Gara-gara corona ini. Anak-anak SMA dan mahasiswa juga libur. Biasanya ramai makan di sini,” keluhnya.

Di sini, sepiring nasi campur dijual Rp10 ribu sampai Rp13 ribu. Sudah termasuk segelas es teh manis.

Sepinya pembeli tentu berimbas pada pendapatan. Jauh sebelum pagebluk melanda, dalam sehari ia bisa meraup keuntungan kotor Rp2 juta. Kini untuk memperoleh Rp700 ribu pun sulit.

“Tapi yang namanya berusaha ya. Alhamdulillah ada saja rezekinya. Paling tidak, masih bisa membayar sewa tempat Rp1 juta perbulan,” tambahnya.

Nasib tidak jauh berbeda juga menimpa Hj Midah. Beruntung, warung perempuan 50 tahun ini berada di lokasi yang cukup mencolok. Berada persis di pinggir jalan, tepat di belakang gedung Taman Budaya.

Warung ini juga bergantung pada kunjungan rombongan mahasiswa. Siang itu, hanya ada dua warga yang tampak asyik menyantap makanan.

“Tanpa mahasiswa, kami sulit bertahan. Jadi harus buka sejak jam setengah 8 pagi sampai jam 9 malam. Tanpa libur,” bebernya.

Dia setidaknya harus mencari Rp150 hingga Rp200 ribu perhari untuk biaya sewa warung. Belum lagi untuk menggaji empat bawahannya.

Bila sebelum pageblum, mereka berempat harus bekerja bersamaan. Kini dikerjakan bergantian. “Yang bekerja hari ini dua orang, besok libur. Digantikan dua orang lainnya. Begitu seterusnya,” jelasnya. Strategi itu diambil agar tak ada pemecatan.

Tapi keadaan memang sudah mendingan. Dia kewalahan saat menghadapi PSBB berjilid-jilid yang diterapkan pemko. “Saat itu, sampai-sampai tak ada pengunjung sama sekali,” ingatnya.

Agar pembeli tak kabur, Saprah dan Hj Midah memilih buka sampai malam. Menerima pesanan katering. Dan tentu menyediakan tempat cuci tangan di depan warung.

Lalu ada warung milik Munirah, 46 tahun. Berbeda dari dua warung di atas yang menyediakan beragam menu. Di warung ini hanya ada tiga menu.

Yakni nasi lalapan, nasi pecel dan nasi ayam penyet. Dua menu pertama, harganya sama Rp10 ribu. Menu ketiga silakan menambah Rp2 ribu. “Ingat, belum termasuk es teh,” tegasnya.

Munirah menilai, perampingan menu ini perlu agar bisa bertahan. “Ketika sepi pembeli, maka tidak banyak memerlukan bahan makanan. Berbeda bila menyediakan banyak menu. Bila sepi pembeli, tak ada pilihan selain banting harga,” tuntasnya.

Siang itu, warung Munirah juga sepi pembeli. Tapi menurutnya jumlah pembeli sudah berkurang sejak mahasiswa punya rice cooker sendiri di indekos.

Mahasiswa dipandang semakin jarang mangkal di warung-warung. “Paling kalau cuma buru-buru, alias tidak sempat memasak,” beber mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Husnul, 27 tahun.

Husnul sendiri mengaku hanya membeli lauknya saja. Tidak banyak, asal cukup dikonsumsi berdua. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/