alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Usaha Jaga Jarak Sosial di Kawasan Padat Penduduk; Ada yang Patuh, Banyak yang Acuh

Meski sulit, imbauan pemerintah untuk menjaga jarak fisik juga diterapkan di kawasan perkampungan ramai dan padat penduduk. Ada yang patuh, banyak juga yang acuh.

 

Mewabahnya virus corona tidak hanya membuat masyarakat di perkotaan waspada. Warga di daerah pinggiran juga ternyata ikut menerapkan jaga jarak, agar tidak tertular virus mematikan tersebut.

Masyarakat di bantaran Sungai Kemuning, Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan misalnya. Sejak Covid-19 mewabah, mereka memilih untuk berdiam diri di rumah. Hal itu pun membuat suasana kawasan berjuluk Kampung Pelangi ini jadi sepi.

Dari pantauan Radar Banjarmasin, kemarin (28/4), rumah-rumah warga di Kampung Pelangi tampak tertutup rapat. Cuma ada beberapa orang yang terlihat, itu pun hanya sebatas di sekitar rumah mereka.

Padahal, sebelum ada virus corona permukiman di Kampung Pelangi setiap harinya selalu ramai dikunjungi masyarakat. Karena, Pemko Banjarbaru telah mengembangkannya menjadi salah satu destinasi wisata.

Haiti, salah seorang warga sekitar mengatakan, masyarakat di Kampung Pelangi banyak memilih berdiam diri di rumah karena takut terinfeksi Covid-19. “Sepi sekarang kampung. Karena kami ikut menerapkan jaga jarak. Tidak ada yang ke luar rumah, apalagi kumpul-kumpul,” katanya.

Dia mengungkapkan, warga Kampung Pelangi mulai menerapkan social distancing sejak Maret tadi. Ketika kasus positif virus corona di Kalsel mulai terus bertambah. “Sejak saat itu, saya yang sebelumnya berjualan ikan bakar di pinggir jalan raya memilih untuk jualan di rumah,” ungkapnya.

Sepinya Kampung Pelangi juga disampaikan Dina. Warga sekitar pemilik toko sembako ini menuturkan, banyaknya masyarakat yang memilih berdiam di rumah membuat pendapatannya menurun drastis. “Tidak ada yang beli. Orang banyak di rumah,” ujarnya.

Dia menyampaikan, saking sepinya sampai-sampai beberapa pedagang di Kampung Pelangi memilih untuk berhenti berjualan. “Banyak yang bangkrut. Soalnya dulu ‘kan setiap sore di sini ramai didatangi wisatawan. Sekarang, sepi tidak ada lagi pembeli,” pungkasnya.

Di Banjarmasin, pemandangan kontras terlihat. Bahkan saat Banjarmasin menerapkan pembatasan sosial, aktivitas warga di Jalan Kelayan B misalnya, tidak banyak berubah seperti biasa sebelum pandemi. Meski ada yang menggunakan masker, namun kebanyakan telah meninggalkan penutup wajah itu. “Susah bernapas,” kata seseorang yang wartawan sapa di perkampungan padat penduduk itu.

Hal ini terlihat juga di kawasan lain, seperti HKSN Banjarmasin. Tak ada kesadaran pembatasan sosial. Warga berinteraksi di luar rumah dan hilir -mudik keluar rumah dengan sepeda motor.

Beberapa asik antre beli kebutuhan pokok dan makanan di pinggir jalan. Ada yang berboncengan dan tak ada yang memeriksa. Seperti tak ada kekhawatiran corona menyerang mereka. “Saya sebentar saja. Rumah saya juga tak jauh, hanya seratusan meter,” ujar Radi warga HKSN yang mengaku sengaja tak memakai masker. (ris/mof/ran/ema)

Meski sulit, imbauan pemerintah untuk menjaga jarak fisik juga diterapkan di kawasan perkampungan ramai dan padat penduduk. Ada yang patuh, banyak juga yang acuh.

 

Mewabahnya virus corona tidak hanya membuat masyarakat di perkotaan waspada. Warga di daerah pinggiran juga ternyata ikut menerapkan jaga jarak, agar tidak tertular virus mematikan tersebut.

Masyarakat di bantaran Sungai Kemuning, Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan misalnya. Sejak Covid-19 mewabah, mereka memilih untuk berdiam diri di rumah. Hal itu pun membuat suasana kawasan berjuluk Kampung Pelangi ini jadi sepi.

Dari pantauan Radar Banjarmasin, kemarin (28/4), rumah-rumah warga di Kampung Pelangi tampak tertutup rapat. Cuma ada beberapa orang yang terlihat, itu pun hanya sebatas di sekitar rumah mereka.

Padahal, sebelum ada virus corona permukiman di Kampung Pelangi setiap harinya selalu ramai dikunjungi masyarakat. Karena, Pemko Banjarbaru telah mengembangkannya menjadi salah satu destinasi wisata.

Haiti, salah seorang warga sekitar mengatakan, masyarakat di Kampung Pelangi banyak memilih berdiam diri di rumah karena takut terinfeksi Covid-19. “Sepi sekarang kampung. Karena kami ikut menerapkan jaga jarak. Tidak ada yang ke luar rumah, apalagi kumpul-kumpul,” katanya.

Dia mengungkapkan, warga Kampung Pelangi mulai menerapkan social distancing sejak Maret tadi. Ketika kasus positif virus corona di Kalsel mulai terus bertambah. “Sejak saat itu, saya yang sebelumnya berjualan ikan bakar di pinggir jalan raya memilih untuk jualan di rumah,” ungkapnya.

Sepinya Kampung Pelangi juga disampaikan Dina. Warga sekitar pemilik toko sembako ini menuturkan, banyaknya masyarakat yang memilih berdiam di rumah membuat pendapatannya menurun drastis. “Tidak ada yang beli. Orang banyak di rumah,” ujarnya.

Dia menyampaikan, saking sepinya sampai-sampai beberapa pedagang di Kampung Pelangi memilih untuk berhenti berjualan. “Banyak yang bangkrut. Soalnya dulu ‘kan setiap sore di sini ramai didatangi wisatawan. Sekarang, sepi tidak ada lagi pembeli,” pungkasnya.

Di Banjarmasin, pemandangan kontras terlihat. Bahkan saat Banjarmasin menerapkan pembatasan sosial, aktivitas warga di Jalan Kelayan B misalnya, tidak banyak berubah seperti biasa sebelum pandemi. Meski ada yang menggunakan masker, namun kebanyakan telah meninggalkan penutup wajah itu. “Susah bernapas,” kata seseorang yang wartawan sapa di perkampungan padat penduduk itu.

Hal ini terlihat juga di kawasan lain, seperti HKSN Banjarmasin. Tak ada kesadaran pembatasan sosial. Warga berinteraksi di luar rumah dan hilir -mudik keluar rumah dengan sepeda motor.

Beberapa asik antre beli kebutuhan pokok dan makanan di pinggir jalan. Ada yang berboncengan dan tak ada yang memeriksa. Seperti tak ada kekhawatiran corona menyerang mereka. “Saya sebentar saja. Rumah saya juga tak jauh, hanya seratusan meter,” ujar Radi warga HKSN yang mengaku sengaja tak memakai masker. (ris/mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/