alexametrics
26.3 C
Banjarmasin
Saturday, 21 May 2022

Usulan PSBB Banjarbaru Disetujui Gubernur

BANJARBARU – Gubernur Kalimantan Selatan sudah menandatangani persetujuan usulan penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di tiga daerah penyangga Kota Banjarmasin. Yakni Kab Banjar, Kab Batola serta Kota Banjarbaru.

Setelah itu, menurut Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani, rekomendasi dikirim ke Kemenkes RI untuk diusulkan.

“Dua hari setelah Kemenkes menerima usulan itu baru diketahui, apakah menyetujui atau menolak. Kita tunggu saja Rabu atau (maksimal) Kamis ada jawaban dari Kemenkes,” kata Nadjmi (27/4) siang.

Nadjmi sendiri optimistis bahwa usulan PSBB bakal disetujui. Dasarnya katanya terkait persyaratan dan kesiapan yang diminta. Adapun nantinya apabila disetujui, maka digarisbawahinya PSBB tak serta merta langsung dilaksanakan.

“Kita akan meminta waktu untuk sosialisasi terkait SK PSBB itu jika nanti Kemenkes sudah disetujui. Makanya kita perkirakan di awal-awal bulan Mei untuk penerapannya,” jawabnya yang belum menyebut tanggal pasti PSBB diusulkan.

Disinggung soal ada pandangan yang menilai PSBB tidak efektif bahkan berpotensi gagal. Nadjmi menanggapi bahwa menurutnya PSBB di Banjarbaru ujarnya akan berkaca pada daerah yang menerapkan PSBB dengan efektif.

“Kita akan berkaca pada daerah yang berhasil. Tetapi akan melihat kegagalan (PSBB) di daerah-daerah juga, dari mana sisi gagalnya itu akan kita evaluasi dan kaji, Insya Allah kita sudah siap,” tandasnya. 

Lantas bagaimana model PSBB yang akan diterapkan di Kota Banjarbaru? Secara umumnya disebut Nadjmi bahwa PSBB di Kota Idaman tak akan jauh berbeda dengan daerah yang sudah menerapkan. Karena PSBB terangnya sudah ada standarisasi dari pemerintah pusat.

“Jadi sebenarnya kan PSBB ini tujuannya membatasi pergerakan manusia. Jadi terbatas dan dilokalisir. Lalu, 14 hari itu (PSBB) harapannya orang yang tidak sakit dapat meningkatkan imun untuk melawan virus ini, dan yang OTG (Orang Tanpa Gejala) tidak berkeliaran dan menularkan, serta juga meningkatan imun juga, itu harapannya,” jabarnya.

Lanjutnya, bahwa dalam PSBB nanti juga akan diterapkan jam malam. Sama seperti di Kota Banjarmasin yang sudah berjalan beberapa hari terakhir.

“Pasti (penerapan) jam malam itu, kalau tidak ada jam malam, maka orang tetap akan keluar rumah. Tapi memang nanti ada penyesuaian penerapannya sesuai daerah kita,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Gubernur Kalimantan Selatan sudah menandatangani persetujuan usulan penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di tiga daerah penyangga Kota Banjarmasin. Yakni Kab Banjar, Kab Batola serta Kota Banjarbaru.

Setelah itu, menurut Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani, rekomendasi dikirim ke Kemenkes RI untuk diusulkan.

“Dua hari setelah Kemenkes menerima usulan itu baru diketahui, apakah menyetujui atau menolak. Kita tunggu saja Rabu atau (maksimal) Kamis ada jawaban dari Kemenkes,” kata Nadjmi (27/4) siang.

Nadjmi sendiri optimistis bahwa usulan PSBB bakal disetujui. Dasarnya katanya terkait persyaratan dan kesiapan yang diminta. Adapun nantinya apabila disetujui, maka digarisbawahinya PSBB tak serta merta langsung dilaksanakan.

“Kita akan meminta waktu untuk sosialisasi terkait SK PSBB itu jika nanti Kemenkes sudah disetujui. Makanya kita perkirakan di awal-awal bulan Mei untuk penerapannya,” jawabnya yang belum menyebut tanggal pasti PSBB diusulkan.

Disinggung soal ada pandangan yang menilai PSBB tidak efektif bahkan berpotensi gagal. Nadjmi menanggapi bahwa menurutnya PSBB di Banjarbaru ujarnya akan berkaca pada daerah yang menerapkan PSBB dengan efektif.

“Kita akan berkaca pada daerah yang berhasil. Tetapi akan melihat kegagalan (PSBB) di daerah-daerah juga, dari mana sisi gagalnya itu akan kita evaluasi dan kaji, Insya Allah kita sudah siap,” tandasnya. 

Lantas bagaimana model PSBB yang akan diterapkan di Kota Banjarbaru? Secara umumnya disebut Nadjmi bahwa PSBB di Kota Idaman tak akan jauh berbeda dengan daerah yang sudah menerapkan. Karena PSBB terangnya sudah ada standarisasi dari pemerintah pusat.

“Jadi sebenarnya kan PSBB ini tujuannya membatasi pergerakan manusia. Jadi terbatas dan dilokalisir. Lalu, 14 hari itu (PSBB) harapannya orang yang tidak sakit dapat meningkatkan imun untuk melawan virus ini, dan yang OTG (Orang Tanpa Gejala) tidak berkeliaran dan menularkan, serta juga meningkatan imun juga, itu harapannya,” jabarnya.

Lanjutnya, bahwa dalam PSBB nanti juga akan diterapkan jam malam. Sama seperti di Kota Banjarmasin yang sudah berjalan beberapa hari terakhir.

“Pasti (penerapan) jam malam itu, kalau tidak ada jam malam, maka orang tetap akan keluar rumah. Tapi memang nanti ada penyesuaian penerapannya sesuai daerah kita,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/