alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Hari Pertama PSBB di Banjarmasin, Screening Pintu Masuk Tidak Efektif

Bagaimana hari pertama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kemarin? Di lapangan, tampak kurang koordinasi, persiapannya pun kurang matang.

BANJARMASIN – Pantauan Radar Banjarmasin di pintu gerbang Jalan Ahmad Yani km 6, sejak pagi sampai siang, pengendara masih leluasa memasuki kota. Kondisi itu bahkan turut disaksikan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Contoh sederhana, pengukuran suhu tubuh kepada setiap pengendara yang hendak memasuki kota. Alih-alih bisa secara intens memeriksa warga, sedari pagi, belum tampak satu pun petugas kesehatan di lapangan.

Petugas kesehatan dan thermo gun (alat pengukur suhu tubuh) datang agak kesiangan. Baru muncul pukul 10.17 Wita.

Itu pun setelah Kepala Dinas Perhubungan Banjarmasin, Ichwan Noor Khalik beserta personel TNI, Polri dan Satpol PP berulang kali menyuruh pengendara balik kanan karena tidak mengenakan masker.

“Padahal pagi tadi sudah diinstruksikan untuk bersiap screening dan pengecekan suhu tubuh,” keluh Ichwan.

Kembali ke soal pemeriksaan suhu tubuh, jangan dibayangkan berjalan lancar. Yang diperiksa hanya pengemudi roda empat berikut penumpang. Itu pun banyak yang lolos.

Selain demi menghindari kemacetan panjang, satu buah thermo gun juga perlu “diistirahatkan” karena terus-menerus dipakai.

Kontras sekali dengan anggaran yang sudah disiapkan pemko. Mencapai Rp51 miliar dari APBD. Rinciannya, Rp41 miliar dialokasikan pada bidang kesehatan. Sisanya Rp10 miliar untuk BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Dinas Sosial.

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Tim Gugus Tugas P3 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riayadi membantah bahwa petugas kesehatan terlambat berada di tempat. Dia mengatakan petugas kesehatan sudah stand by sejak pagi.

Namun, Machli tak menampik bahwa hari pertama penerapan PSBB di Banjarmasin tidak sesuai dengan apa yang digembar-gemborkan sebelumnya. Yakni, melakukan penjagaan secara ketat, bahkan selama 24 jam.

“Screening di pintu masuk itu sebenarnya tidak efektif. Terlalu banyak orang yang masuk. Saya pikir di mana pun pasti sama kalau hari pertama penerapan. Yang jelas, setiap harinya penerapan PSBB ini akan terus kami evaluasi,” tuntasnya.

Sungai Lulut Masih Ramai

Pada waktu bersamaan di perbatasan berbeda, terpantau di Pos 1 PSBB Polsek Banjarmasin Timur, sebuah check point di Sungai Lulut, aktivitas masyarakat masih berjalan normal.

Masih banyak sepeda motor dan mobil lalu-lalang. Pantauan Radar Banjarmasin, pengendara yang menuju arah keluar kota tidak diperiksa. Yang dicegat dan diperiksa adalah pengendara yang memasuki kota.

Petugas yang berjaga merupakan gabungan TNI-Polri, Satpol PP, Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan. Penjagaan dimulai sejak jam 8 pagi, mereka mengecek suhu tubuh pengendara yang melintas.

Sementara itu, Kabid Keselamatan Dishub Banjarmasin, Naf’an mengatakan, sesuai aturan PSBB, seluruh pengendara yang memasuki Banjarmasin diperiksa. Mencakup pemeriksaan suhu tubuh sampai jumlah penumpang.

Bahwa mobil angkutan barang hanya boleh diisi dua orang, sopir dan kernet. Sedangkan angkutan orang hanya boleh berisi 50 persen dari kapasitas penumpang.

“Ojek online (ojol) juga hanya boleh mengantar barang, tak boleh mengangkut penumpang,” tegas Naf’an.

Perbatasan ini akan ditutup pada jam 9 malam. Tidak ada lagi yang bisa masuk kota pada jam tersebut. “Yang keluar masih bisa,” pungkasnya.

Diimbau agar masyarakat tidak bepergian ke luar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Jika harus ke luar rumah, kenakan masker dan menjaga jarak interaksi, minimal 1,5 meter. (war/gmp/fud/ema)

Bagaimana hari pertama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kemarin? Di lapangan, tampak kurang koordinasi, persiapannya pun kurang matang.

BANJARMASIN – Pantauan Radar Banjarmasin di pintu gerbang Jalan Ahmad Yani km 6, sejak pagi sampai siang, pengendara masih leluasa memasuki kota. Kondisi itu bahkan turut disaksikan Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Contoh sederhana, pengukuran suhu tubuh kepada setiap pengendara yang hendak memasuki kota. Alih-alih bisa secara intens memeriksa warga, sedari pagi, belum tampak satu pun petugas kesehatan di lapangan.

Petugas kesehatan dan thermo gun (alat pengukur suhu tubuh) datang agak kesiangan. Baru muncul pukul 10.17 Wita.

Itu pun setelah Kepala Dinas Perhubungan Banjarmasin, Ichwan Noor Khalik beserta personel TNI, Polri dan Satpol PP berulang kali menyuruh pengendara balik kanan karena tidak mengenakan masker.

“Padahal pagi tadi sudah diinstruksikan untuk bersiap screening dan pengecekan suhu tubuh,” keluh Ichwan.

Kembali ke soal pemeriksaan suhu tubuh, jangan dibayangkan berjalan lancar. Yang diperiksa hanya pengemudi roda empat berikut penumpang. Itu pun banyak yang lolos.

Selain demi menghindari kemacetan panjang, satu buah thermo gun juga perlu “diistirahatkan” karena terus-menerus dipakai.

Kontras sekali dengan anggaran yang sudah disiapkan pemko. Mencapai Rp51 miliar dari APBD. Rinciannya, Rp41 miliar dialokasikan pada bidang kesehatan. Sisanya Rp10 miliar untuk BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Dinas Sosial.

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara Tim Gugus Tugas P3 COVID-19 Banjarmasin, Machli Riayadi membantah bahwa petugas kesehatan terlambat berada di tempat. Dia mengatakan petugas kesehatan sudah stand by sejak pagi.

Namun, Machli tak menampik bahwa hari pertama penerapan PSBB di Banjarmasin tidak sesuai dengan apa yang digembar-gemborkan sebelumnya. Yakni, melakukan penjagaan secara ketat, bahkan selama 24 jam.

“Screening di pintu masuk itu sebenarnya tidak efektif. Terlalu banyak orang yang masuk. Saya pikir di mana pun pasti sama kalau hari pertama penerapan. Yang jelas, setiap harinya penerapan PSBB ini akan terus kami evaluasi,” tuntasnya.

Sungai Lulut Masih Ramai

Pada waktu bersamaan di perbatasan berbeda, terpantau di Pos 1 PSBB Polsek Banjarmasin Timur, sebuah check point di Sungai Lulut, aktivitas masyarakat masih berjalan normal.

Masih banyak sepeda motor dan mobil lalu-lalang. Pantauan Radar Banjarmasin, pengendara yang menuju arah keluar kota tidak diperiksa. Yang dicegat dan diperiksa adalah pengendara yang memasuki kota.

Petugas yang berjaga merupakan gabungan TNI-Polri, Satpol PP, Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan. Penjagaan dimulai sejak jam 8 pagi, mereka mengecek suhu tubuh pengendara yang melintas.

Sementara itu, Kabid Keselamatan Dishub Banjarmasin, Naf’an mengatakan, sesuai aturan PSBB, seluruh pengendara yang memasuki Banjarmasin diperiksa. Mencakup pemeriksaan suhu tubuh sampai jumlah penumpang.

Bahwa mobil angkutan barang hanya boleh diisi dua orang, sopir dan kernet. Sedangkan angkutan orang hanya boleh berisi 50 persen dari kapasitas penumpang.

“Ojek online (ojol) juga hanya boleh mengantar barang, tak boleh mengangkut penumpang,” tegas Naf’an.

Perbatasan ini akan ditutup pada jam 9 malam. Tidak ada lagi yang bisa masuk kota pada jam tersebut. “Yang keluar masih bisa,” pungkasnya.

Diimbau agar masyarakat tidak bepergian ke luar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Jika harus ke luar rumah, kenakan masker dan menjaga jarak interaksi, minimal 1,5 meter. (war/gmp/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/