alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Produksi APD untuk Didonasikan, Tetap Produktif Meski #dirumahsaja

Reni Andrina Rahmawati menjadi salah satu orang yang tetap produktif meski harus berada di rumah saja. Kala tempat bimbingan belajar (bimbel) yang dikelolanya sepi lantaran mewabahnya virus corona, dirinya masih bisa sibuk dengan ikut memproduksi pakaian alat pelindung diri (APD) untuk para tim medis.

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru —

Reni Andrina Rahmawati merupakan warga Jalan Sukarelawan, Loktabat Utara, Banjarbaru. Di sana lah dirinya bertempat tinggal dan membuka tempat bimbingan belajar serta kursus. Mulai dari belajar bahasa asing, calistung (membaca, menulis, berhitung) hingga pelatihan tata boga.

Saat wartawan koran ini mendatanginya, Rabu (15/4). Perempuan berusia 37 tahun ini tampak sibuk mengukur dan menggunting lembaran kain spunbond sebagai bahan baku pakaian APD. “Begini lah sekarang Mas. Biasanya saat bimbel ramai, rumah penuh dengan orang. Sekarang penuh dengan kain,” kata Reni.

Dia mengaku mulai ikut terlibat memproduksi APD pada akhir Maret 2020, ketika para peserta bimbel dan kursusnya memilih untuk meliburkan diri karena mewabahnya Covid-19. “Pada tanggal 23 April Pemko Banjarbaru meliburkan sekolah, mulai saat itu para orang tua tidak berani anaknya ikut bimbel. Lalu memilih libur,” ujarnya.

Lanjutnya, keterlibatannya dalam memproduksi APD sendiri berawal dari rasa keprihatinannya terhadap minimnya stok APD untuk para tim kesehatan yang berada di garda terdepan dalam menangani pasien virus corona.

“Setelah itu, pada 28 Maret ada teman menghubungi saya. Katanya dia punya dana untuk membuat APD, tapi tidak punya SDM (sumber daya manusia). Pada hari itu juga, saya langsung mencari para tukang jahit untuk bisa bergabung,” bebernya.

Reni menyampaikan, hanya dalam beberapa jam dirinya membagikan informasi tentang pencarian tenaga tukang jahit untuk pembuatan APD. Ternyata, langsung ada 12 orang yang mengaku minat. “Sampai sekarang kami jadi tim untuk memproduksi APD,” ucapnya.

Dalam tim tersebut mereka berbagi tugas, di mana Reni memiliki tugas sebagai pengukur dan pemotong kain. Sedangkan yang lainnya bertugas untuk menjahit. “Kalau para penjahit yang mengukur dan memotong sendiri, bakalan ribet. Kalau sudah ada pola, maka mereka tinggal menjahit,” papar Reni.

Dia mengungkapkan, hingga saat ini mereka sudah memproduksi 250 pcs pakaian APD dan sudah dibagikan ke sejumlah Puskesmas dan rumah sakit yang ada di Banjarbaru, Banjarmasin hingga Kabupaten Banjar. “Kami membagikannya secara cuma-cuma untuk donasi. Bukan menjualnya. Jadi, kalau ada yang membayar, uangnya kami buat untuk memproduksi lagi,” ungkapnya.

Meski hanya dalam bentuk donasi, ternyata dikatakan Reni beberapa rumah sakit dan puskesmas ada yang membayar. Dengan begitu, mereka masih bisa terus memproduksi. “Sekarang kami memproduksi untuk gelombang yang kedua,” katanya.

Dia mengaku senang bisa turut membantu menyediakan APD untuk para tim medis yang kini sedang berjibaku merawat para pasien corona. Meski, secara sukarela dan tidak mendapatkan upah. “Ini adalah bentuk kepedulian kami. Ini lah cara kami melindungi keluarga dengan lebih dulu melindungi tim kesehatan,” ujarnya.

Sementara untuk menghidupi keluarganya, Reni mengaku masih bisa mengandalkan gaji yang diterimanya dari salah satu SMKN Banjarbaru sebagai seorang guru. “Saya juga masih punya satu peserta bimbel privat. Jadi, aman saja,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Reni Andrina Rahmawati menjadi salah satu orang yang tetap produktif meski harus berada di rumah saja. Kala tempat bimbingan belajar (bimbel) yang dikelolanya sepi lantaran mewabahnya virus corona, dirinya masih bisa sibuk dengan ikut memproduksi pakaian alat pelindung diri (APD) untuk para tim medis.

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru —

Reni Andrina Rahmawati merupakan warga Jalan Sukarelawan, Loktabat Utara, Banjarbaru. Di sana lah dirinya bertempat tinggal dan membuka tempat bimbingan belajar serta kursus. Mulai dari belajar bahasa asing, calistung (membaca, menulis, berhitung) hingga pelatihan tata boga.

Saat wartawan koran ini mendatanginya, Rabu (15/4). Perempuan berusia 37 tahun ini tampak sibuk mengukur dan menggunting lembaran kain spunbond sebagai bahan baku pakaian APD. “Begini lah sekarang Mas. Biasanya saat bimbel ramai, rumah penuh dengan orang. Sekarang penuh dengan kain,” kata Reni.

Dia mengaku mulai ikut terlibat memproduksi APD pada akhir Maret 2020, ketika para peserta bimbel dan kursusnya memilih untuk meliburkan diri karena mewabahnya Covid-19. “Pada tanggal 23 April Pemko Banjarbaru meliburkan sekolah, mulai saat itu para orang tua tidak berani anaknya ikut bimbel. Lalu memilih libur,” ujarnya.

Lanjutnya, keterlibatannya dalam memproduksi APD sendiri berawal dari rasa keprihatinannya terhadap minimnya stok APD untuk para tim kesehatan yang berada di garda terdepan dalam menangani pasien virus corona.

“Setelah itu, pada 28 Maret ada teman menghubungi saya. Katanya dia punya dana untuk membuat APD, tapi tidak punya SDM (sumber daya manusia). Pada hari itu juga, saya langsung mencari para tukang jahit untuk bisa bergabung,” bebernya.

Reni menyampaikan, hanya dalam beberapa jam dirinya membagikan informasi tentang pencarian tenaga tukang jahit untuk pembuatan APD. Ternyata, langsung ada 12 orang yang mengaku minat. “Sampai sekarang kami jadi tim untuk memproduksi APD,” ucapnya.

Dalam tim tersebut mereka berbagi tugas, di mana Reni memiliki tugas sebagai pengukur dan pemotong kain. Sedangkan yang lainnya bertugas untuk menjahit. “Kalau para penjahit yang mengukur dan memotong sendiri, bakalan ribet. Kalau sudah ada pola, maka mereka tinggal menjahit,” papar Reni.

Dia mengungkapkan, hingga saat ini mereka sudah memproduksi 250 pcs pakaian APD dan sudah dibagikan ke sejumlah Puskesmas dan rumah sakit yang ada di Banjarbaru, Banjarmasin hingga Kabupaten Banjar. “Kami membagikannya secara cuma-cuma untuk donasi. Bukan menjualnya. Jadi, kalau ada yang membayar, uangnya kami buat untuk memproduksi lagi,” ungkapnya.

Meski hanya dalam bentuk donasi, ternyata dikatakan Reni beberapa rumah sakit dan puskesmas ada yang membayar. Dengan begitu, mereka masih bisa terus memproduksi. “Sekarang kami memproduksi untuk gelombang yang kedua,” katanya.

Dia mengaku senang bisa turut membantu menyediakan APD untuk para tim medis yang kini sedang berjibaku merawat para pasien corona. Meski, secara sukarela dan tidak mendapatkan upah. “Ini adalah bentuk kepedulian kami. Ini lah cara kami melindungi keluarga dengan lebih dulu melindungi tim kesehatan,” ujarnya.

Sementara untuk menghidupi keluarganya, Reni mengaku masih bisa mengandalkan gaji yang diterimanya dari salah satu SMKN Banjarbaru sebagai seorang guru. “Saya juga masih punya satu peserta bimbel privat. Jadi, aman saja,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/