alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Update Covid-19 di Banua: Hotel Jadi Asrama Perawat, Kalsel Kekurangan Ventilator

BANJARMASIN – Kabar duka menyelimuti dunia medis di Kalsel. kemarin. Dokter ahli paru senior, Hasan Zain dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 07.20 Wita. Almarhum sudah sepekan dirawat di RSUD Ulin karena mengidap Covid-19. Hasil swab PCR yang keluar kemarin dinyatakan pasien dengan kode Ulin-38 itu terkonfirmasi positif Covid-19.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Pencegahan Pengendalian Penanganan (P3) Covid-19 Kalsel Muhammad Muslim mengonfirmasi kabar ini kemarin.  “Hasil swab PCR almarhum dinyatakan positif,” tutur

Almarhum sendiri sangat familiar di kalangan medis. Maklum, dia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel pada tahun 2007-2010 lalu. Almarhum juga pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalsel pada tahun 2000-2014. Almarhum juga pernah menjabat Direktur RSUD Ulin Banjarmasin dan RS Islam Banjarmasin.

Dengan demikian, sudah dua orang dokter yang meninggal dunia karen terpapar Covid-19. Yang pertama adalah dokter gigi Gunawan atau Ulin 23, almarhum meninggal dunia pada 4 April lalu.

Selain Hasan Zain, satu pasien lain yang meninggal dunia pada 12 April tadi yakni Ulin-42, hasil swab PCR nya juga dinyatakan positif. Pasien ini adalah perempuan usia 71 tahun asal Banjarmasin yang dirawat di RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin. “Hingga hari ini, total yang meninggal terkonfirmasi positif sejumlah 7 orang,” papar Muslim.

Dibalik kabar duka, Gugus Tugas Covid-19 Kalsel juga menyampaikan kabar gembira. Yakni dua pasien terkonfirmasi positif dinyatakan sembuh. Dua pasien ini adalah KSCovid#10, usia 51 tahun laki-laki dari Banjarmasin dan KSCovid#03 usia 45 tahun laki-laki dari Kabupaten Banjar. “Hasil uji swab metode PCR sebanyak 2 kali terhadap pasien ini menunjukan negatif,” ujarnya.

Rumah Sakit Kekurangan Ventilator

Ventilator atau alat bantu pernapasan menjadi alat yang paling dibutuhkan di tengah pandemi Covid-19. Riskannya, RSUD Ulin Banjarmasin yang saat ini menerima pasien rujukan paling banyak, hanya memiliki dua ventilator khusus ruang isolasi khusus pasien Covid-19.

Dilema ini membuat otoritas RSUD Ulin agak cemas. Pasalnya delapan ventilator lainnya juga berada di ruang ICCU untuk keperluan pasien umum atau di luar pasien Covid-19. “Yang memerlukan tak hanya pasien corona. Ada pasien umum,” sebut Direktur Utama RSUD Ulin Banjarmasin, Suciati kemarin.

Dikatakannya, pihaknya menggunakan sistem pasang ganti. ketika penanganan di ruang isolasi kekurangan ventilator, maka yang ada di ICCU akan dikirimkan. “Karena pasien Covid-19 harus tetap berada di ruang isolasi. Alatnya yang kami kirimkan,” terangnya. 

Jumlah yang ada saat ini jika dibandingkan dengan jumlah pasien, tentu tak seimbang. Apalagi pasien Covid-19 memakai pula ventilator. “Kami juga sudah pesan jauh hari. Tapi belum datang,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah meminta dengan gugus tugas Covid-19 Kalsel agar dibantu ventilator untuk penanangan pandemi ini. “Sudah kami minta. Juga belum tiba,” imbuhnya.

Jika di RSUD Ulin ada 10 ventilator, di RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin jumlahnya lebih sedikit. Yakni hanya 5 unit. Empat unit berada di ruang ICCU dan satu di ruang isolasi. “Sementara yang ada dimaksimalkan. Kami sudah meminta kepada gugus tugas tambahan. Mudah-mudahan segera datang. Maksimalnya sih lima unit lagi,” ujar Direktur RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin, Izaak Zoelkarnaen.

Tiga Hotel Dipersiapkan untuk Perawat

Sementara itu, untuk mencegah dan memutus mata rantai penularan Covid-19, gugus tugas Covid-19 Kalsel menyediakan tiga hotel di Banjarmasin untuk penginapan perawat. Tiga hotel tersebut adalah Fave Hotel, Jelita Hotel dan Hotel Pesona. 

Ketiga hotel tersebut memiliki akses terdekat ke rumah sakit. Contohnya Fave Hotel dan Jelita Hotel yang berada di samping RSUD Ulin Banjarmasin. Sedangkan Hotel Pesona berada dekat dengan RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin. “Semua perawat yang bersinggungan langsung dengan pasien Covid-19, kami sediakan kamar di tiga terdekat,” terang Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kalsel, Wahyuddin.

Dikatakannya, para karyawan tak perlu takut tertular, karena para perawat ini sudah dibekali ilmu agar terhindar dari penularan. Bahkan, untuk mencegahnya, gugus tugas juga memberikan pelindung diri, seperti masker dan sarung tangan. “Para perawat rentan tertular. Kami takut malah keluarganya di rumah. Makanya disediakan bagi mereka kamar untuk istirahat sementara,” katanya.

Bagi pengelola hotel, di tengah sepinya tamu, hal ini sedikit banyak membantu keuangan mereka. “Memang sebelumnya ada karyawan yang takut. Tapi setelah diberikan pemahaman, dimana para perawat ini memiliki standar kesehatan sendiri, mereka pun akhirnya paham,” ujar GM Fave Hotel, Devy Antonius kemarin.

Di tempatnya, dari sebanyak 140 kamar, 100 buah nya dikhususkan untuk perawat. Diakuinya, mengambil keputusan ini sebenarnya sangat berat. Dibeberkannya, pertama kali meminta adalah Wali Kota Banjarmasin, setelah itu Dinkes Kalsel dan RSUD Ulin, dan yang terakhir Gugus Tugas Covid-19 Kalsel. “Saya sampaikan langsung ke pemilik, akhirnya disetujui,” terangnya.

Menurutnya, di tengah keadaan sekarang, hanya ini yang bisa dibantu untuk mencegah penularan termasuk memutus mata rantai penularan. “Kami berikan potongan harga 20 persen dari harga normal,” sebut Devy.

Dia mengakui, penularan juga sangat rentan terhadap pihaknya. Namun, dengan berbagai pola pengamanan, dia yakin penularan tak terjadi. “Untuk makanan kami sediakan dari luar kamar. Kami hindari interaksi langsung. Kebersihan kamar pun dilakukan hanya dua kali seminggu, Senin dan Kamis,” terangnya sembari mengungkapkan kamar sudah terisi sejak Minggu (12/4) tadi. (mof/ran/ema)

 

BANJARMASIN – Kabar duka menyelimuti dunia medis di Kalsel. kemarin. Dokter ahli paru senior, Hasan Zain dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 07.20 Wita. Almarhum sudah sepekan dirawat di RSUD Ulin karena mengidap Covid-19. Hasil swab PCR yang keluar kemarin dinyatakan pasien dengan kode Ulin-38 itu terkonfirmasi positif Covid-19.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Pencegahan Pengendalian Penanganan (P3) Covid-19 Kalsel Muhammad Muslim mengonfirmasi kabar ini kemarin.  “Hasil swab PCR almarhum dinyatakan positif,” tutur

Almarhum sendiri sangat familiar di kalangan medis. Maklum, dia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel pada tahun 2007-2010 lalu. Almarhum juga pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kalsel pada tahun 2000-2014. Almarhum juga pernah menjabat Direktur RSUD Ulin Banjarmasin dan RS Islam Banjarmasin.

Dengan demikian, sudah dua orang dokter yang meninggal dunia karen terpapar Covid-19. Yang pertama adalah dokter gigi Gunawan atau Ulin 23, almarhum meninggal dunia pada 4 April lalu.

Selain Hasan Zain, satu pasien lain yang meninggal dunia pada 12 April tadi yakni Ulin-42, hasil swab PCR nya juga dinyatakan positif. Pasien ini adalah perempuan usia 71 tahun asal Banjarmasin yang dirawat di RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin. “Hingga hari ini, total yang meninggal terkonfirmasi positif sejumlah 7 orang,” papar Muslim.

Dibalik kabar duka, Gugus Tugas Covid-19 Kalsel juga menyampaikan kabar gembira. Yakni dua pasien terkonfirmasi positif dinyatakan sembuh. Dua pasien ini adalah KSCovid#10, usia 51 tahun laki-laki dari Banjarmasin dan KSCovid#03 usia 45 tahun laki-laki dari Kabupaten Banjar. “Hasil uji swab metode PCR sebanyak 2 kali terhadap pasien ini menunjukan negatif,” ujarnya.

Rumah Sakit Kekurangan Ventilator

Ventilator atau alat bantu pernapasan menjadi alat yang paling dibutuhkan di tengah pandemi Covid-19. Riskannya, RSUD Ulin Banjarmasin yang saat ini menerima pasien rujukan paling banyak, hanya memiliki dua ventilator khusus ruang isolasi khusus pasien Covid-19.

Dilema ini membuat otoritas RSUD Ulin agak cemas. Pasalnya delapan ventilator lainnya juga berada di ruang ICCU untuk keperluan pasien umum atau di luar pasien Covid-19. “Yang memerlukan tak hanya pasien corona. Ada pasien umum,” sebut Direktur Utama RSUD Ulin Banjarmasin, Suciati kemarin.

Dikatakannya, pihaknya menggunakan sistem pasang ganti. ketika penanganan di ruang isolasi kekurangan ventilator, maka yang ada di ICCU akan dikirimkan. “Karena pasien Covid-19 harus tetap berada di ruang isolasi. Alatnya yang kami kirimkan,” terangnya. 

Jumlah yang ada saat ini jika dibandingkan dengan jumlah pasien, tentu tak seimbang. Apalagi pasien Covid-19 memakai pula ventilator. “Kami juga sudah pesan jauh hari. Tapi belum datang,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah meminta dengan gugus tugas Covid-19 Kalsel agar dibantu ventilator untuk penanangan pandemi ini. “Sudah kami minta. Juga belum tiba,” imbuhnya.

Jika di RSUD Ulin ada 10 ventilator, di RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin jumlahnya lebih sedikit. Yakni hanya 5 unit. Empat unit berada di ruang ICCU dan satu di ruang isolasi. “Sementara yang ada dimaksimalkan. Kami sudah meminta kepada gugus tugas tambahan. Mudah-mudahan segera datang. Maksimalnya sih lima unit lagi,” ujar Direktur RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin, Izaak Zoelkarnaen.

Tiga Hotel Dipersiapkan untuk Perawat

Sementara itu, untuk mencegah dan memutus mata rantai penularan Covid-19, gugus tugas Covid-19 Kalsel menyediakan tiga hotel di Banjarmasin untuk penginapan perawat. Tiga hotel tersebut adalah Fave Hotel, Jelita Hotel dan Hotel Pesona. 

Ketiga hotel tersebut memiliki akses terdekat ke rumah sakit. Contohnya Fave Hotel dan Jelita Hotel yang berada di samping RSUD Ulin Banjarmasin. Sedangkan Hotel Pesona berada dekat dengan RSUD Mohammad Ansyari Saleh Banjarmasin. “Semua perawat yang bersinggungan langsung dengan pasien Covid-19, kami sediakan kamar di tiga terdekat,” terang Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kalsel, Wahyuddin.

Dikatakannya, para karyawan tak perlu takut tertular, karena para perawat ini sudah dibekali ilmu agar terhindar dari penularan. Bahkan, untuk mencegahnya, gugus tugas juga memberikan pelindung diri, seperti masker dan sarung tangan. “Para perawat rentan tertular. Kami takut malah keluarganya di rumah. Makanya disediakan bagi mereka kamar untuk istirahat sementara,” katanya.

Bagi pengelola hotel, di tengah sepinya tamu, hal ini sedikit banyak membantu keuangan mereka. “Memang sebelumnya ada karyawan yang takut. Tapi setelah diberikan pemahaman, dimana para perawat ini memiliki standar kesehatan sendiri, mereka pun akhirnya paham,” ujar GM Fave Hotel, Devy Antonius kemarin.

Di tempatnya, dari sebanyak 140 kamar, 100 buah nya dikhususkan untuk perawat. Diakuinya, mengambil keputusan ini sebenarnya sangat berat. Dibeberkannya, pertama kali meminta adalah Wali Kota Banjarmasin, setelah itu Dinkes Kalsel dan RSUD Ulin, dan yang terakhir Gugus Tugas Covid-19 Kalsel. “Saya sampaikan langsung ke pemilik, akhirnya disetujui,” terangnya.

Menurutnya, di tengah keadaan sekarang, hanya ini yang bisa dibantu untuk mencegah penularan termasuk memutus mata rantai penularan. “Kami berikan potongan harga 20 persen dari harga normal,” sebut Devy.

Dia mengakui, penularan juga sangat rentan terhadap pihaknya. Namun, dengan berbagai pola pengamanan, dia yakin penularan tak terjadi. “Untuk makanan kami sediakan dari luar kamar. Kami hindari interaksi langsung. Kebersihan kamar pun dilakukan hanya dua kali seminggu, Senin dan Kamis,” terangnya sembari mengungkapkan kamar sudah terisi sejak Minggu (12/4) tadi. (mof/ran/ema)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/